Kumbha Jataka: Sila Kelima

Sementara ia makan dan minum, si pemburu teringat bahwa ada seorang petapa bernama Varuna yang tinggal dekat sana. Ingin membagi penemuannya ini, Sura mengisi sebuah pipa bambu dengan minuman keras itu, membungkus sisa daging panggang, dan berangkat ke gubuk petapa tersebut. Segera setelah ia tiba, Sura menawarkan minuman yang dibawanya kepada petapa, dan mereka berdua pun makan dan minum dengan riang gembira.

Akan tetapi, si pemburu dan si petapa lalu menyadari bahwa minuman ini bisa dijual dan mendatangkan banyak uang bagi mereka. Oleh karena itu, mereka berdua segera mengisi banyak pipa bambu yang besar dengan minuman beralkohol tersebut, yang mereka bawa dengan batang panjang di bahu. Selanjutnya, mereka pun pergi ke Kerajaan Kasi. Ketika mereka tiba di pos terdepan batas negara itu, mereka mengirim pesan kepada sang raja bahwa dua pedagang anggur sudah datang. Saat mereka dipanggil ke istana, mereka pun membawa alkohol itu dan mempersembahkannya kepada sang raja. Raja baru minum dua hingga tiga gelas saja sudah mabuk. Setelah beberapa hari, ia habiskan semua minuman yang dibawa kedua pria tersebut, dan karena ingin tambah, menanyakan apakah masih ada.

“Iya, Paduka,” jawab mereka.

“Di mana?” tanya sang raja.

“Di pegunungan Himalaya.”

“Pergilah ambil ke sini,” perintah sang raja.

Meminum minuman beralkohol

Demikianlah, Sura dan Varuna kembali ke hutan tersebut, tetapi mereka menyadari bahwa repot sekali kalau harus kembali ke pegunungan Himalaya setiap ingin minum alkohol. Oleh karena itu, mereka mencatat apa-apa saja bahan yang diperlukan dan mengumpulkannya semua, agar mereka dapat membuat minuman alkohol di kota. Alhasil, banyak penduduk yang hanya minum alkohol seharian, hingga melupakan pekerjaan mereka dan jatuh miskin. Tak lama kemudian, kota tersebut menjadi seperti kota hantu.

Karena tidak ada orang yang mampu membeli lagi, kedua pembuat minuman keras itu pun pergi ke Baranasi untuk melanjutkan bisnis mereka. Di sana, mereka mengirim pesan kepada raja. Raja di sana juga menerima dan mendukung mereka berdua. Akan tetapi, seiring budaya minum alkohol menyebar, demikian juga bisnis dan kehidupan sehari-hari terganggu, dan Baranasi pun hancur sama seperti Kasi. Berikutnya, Sura dan Varuna pergi ke Saketa, dan setelah meninggalkan Saketa, lanjut ke Savatthi.

Pada saat itu, raja Savatthi bernama Sabbamitta. Ia menerima kedua pedagang tersebut dan bertanya apa urusan mereka datang ke kerajaannya. Mereka lalu meminta bahan utama pembuat minuman keras dalam jumlah besar, serta lima ratus tong besar. Setelah semua bahan digabungkan, mereka memasukkan campuran tersebut ke dalam tong, dan mengikat seekor kucing ke setiap tong untuk mengusir tikus.

Saat berfermentasi, cairan di dalamnya ada yang meluap tumpah. Saat para kucing menjilat minuman keras yang menetes, mereka pun menjadi mabuk dan tak sadarkan diri. Akibatnya, tikus-tikus datang dan mengerat telinga, hidung serta ekor kucing-kucing tersebut.

Para pengawal raja yang melihat ini pun terkejut dan melaporkannya kepada sang raja bahwa para kucing yang diikat ke tong-tong tersebut mati karena meminum cairan yang tumpah.

Sang raja lalu menyimpulkan bahwa, “Pasti yang dibuat kedua orang itu adalah racun!” dan memerintahkan mereka berdua dieksekusi. Sementara Sura dan Varuna dipenggal, kata-kata terakhir mereka adalah, “Paduka, ini adalah minuman beralkohol! Rasanya lezat sekali!”

Setelah menghukum mati pedagang minuman itu, sang raja memerintahkan tong-tong tersebut dipecahkan. Akan tetapi, pada saat itu efek alkohol sudah menghilang, dan para kucing kembali bermain-main dengan gembira. Para pengawal pun melaporkan hal ini kepada sang raja.

“Kalau cairan ini adalah racun,” kata raja, “maka kucing-kucing tadi pasti sudah mati. Mungkin saja rasanya memang lezat. Mari kita coba minum.”

Ia pun memerintahkan kota dihiasi dan sebuah paviliun dibangun di halaman istana. Kemudian, sang raja duduk di singgasananya di bawah sebuah payung putih serta dikelilingi para menterinya, lalu bersiap-siap meminum minuman beralkohol tersebut.

Pada saat itu juga, Dewa Sakka, raja para dewa, sedang memeriksa keadaan dunia, dan berpikir, “Siapa yang dengan bertanggung jawab merawat orang tuanya? Siapakah yang berlaku benar dalam batin, ucapan, dan perbuatan?”

Ketika beliau melihat sang raja yang duduk di paviliun dan bersiap meminum minuman tersebut, ia berpikir, “Jika Raja Sabbamitta meminum itu, seluruh dunia akan hancur. Saya akan pastikan ia tidak meminumnya.”

KLIK UNTUK BACA SELANJUTNYA –>