Ladang Karma

Kehidupan di dunia ini merupakan proses alami. Kelahiran berlangsung beberapa saat, lalu pergi meninggalkan alam ini. Siklus tersebut berlangsung berulang-ulang tanpa henti dan tanpa akhir. Dunia ini ibarat ladang karma, karena di sini kita akan menuai apa yang kita tanam. Seperti sabda Sang Buddha dalam Samyuta Nikaya sebagai berikut, “Sesuai benih yang di tabur, demikian buah yang akan dipetik.” Demikian pula kehidupan di dunia dengan segala jalinan suka duka, susah dan senang yang selalu tumbuh subur sesuai dengan benih perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Ibarat kita menanam pohon cabe, maka pasti akan menuai cabe dan bila kita menanam mangga pasta kita akan menuai mangga. Kalau kita singgung dorongan hati nurani manusia yang senantiasa menginginkan kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian dalam kehidupan ini, tetapi semakin kita mencari dan menginginkan, kebahagiaan itu semakin menjauh dan semakin sulit didapatkan.

Umumnya pandangan kita akan kebahagiaan senantiasa mengarah pada terpenuhinya kebutuhan indria, sehingga dalam kehidupan ini orang selalu mencari kebahagiaan dengan mendapatkan bentuk-bentuk kenikmatan indria (memuaskan nafsu indria), dan tidak jarang kepuasan indria ini suka dijadikan tolak ukur akan kebahagiaan. Walau sebenarnya semakin besar keinginan untuk memuaskan nafsu indna, semakin besar pula keinginan yang tidak terpuaskan. Ibarat mengobati kehausan dengan air garam, semakin diteguk akan semakin haus. Segala sesuatu di dunia ini tidaklah kekal (anicca). Kebahagiaan yang didapat sekarang juga bentuk yang tidak kekal. Karena ketidakkekal inilah, kebahagiaan yang diperoleh hanya bersifat sementara, artinya semua kesenangan duniawi dapat berubah menjadi pendentaan atau paling tidak kebahagian itu segera berlalu (Dukkha).

Contoh yang konkret seperti pada pemikahan. Pemikahan merupakan peristiwa yang menyenangkan dan meriah dalam hidup, ternyata bila suami istri tersebut tidak cocok, suka bertengkar, tidak ramah dan galak, maka ketegangan dan percekcokan yang timbul benar-benar dapat mengubah seisi rumah menjadi ladang penderitaan.

Contoh yang lain seperti pada kelahiran bayi yang dinanti-nantikan. Kelahiran seorang bayi yang merupakan kegembiraan, pesta diadakan untuk menjamu sanak keluarga dan dana diberikan kepada fakir miskin, namun pengalaman seringkali menunjukkan anak yang sama dapat menjadi sumber penderitaan bila ia jatuh sakit, keras kepala, pembangkang, pemboros atau bila ia meninggal dunia.

Kebahagiaan menikmati harta materi

Pada umumnya orang mencari kebahagiaan dengan mengumpulkan harta materi. Mereka bekerja siang dan malam dengan banyak mengorbankan banyak prinsip kehidupan, menghalalkan segala macam cara. Dengan harta materi mereka memenuhi keinginan duniawinya serta membeli segala sesuatu yang dapat memuaskan indria. Namun mereka akan menyadari bahwa kekayaan materi dan kebahagiaan tidaklah sama, karena kekayaan hanyalah identik dengan kebahagiaan yang tampak, seperti pesta pora dan kemewahan. Dan apabila timbunan harta mereka mulai berkurang dan mulai mengalir ke kantung dokter untuk mengobati berbagai penyakit stress atau dompet para pengacara bila ia terlibat dalam pengadilan. Harta yang melimpah sering menimbulkan rasa was-was karena kemungkinan pencurian dan perampokan. Terlihat bahwa harta materi sering menjadi sumber penderitaan. Seharusnya kita menyadari dengan pemuasan keinginan sering berakibat penderitaan. Tetapi mengapa keinginan menikmati kepuasan tidak pernah kita cegah malahan kita biarkan tumbuh subur?

Karma baik dan karma buruk

Karma secara singkat adalah perbuatan, perbuatan yang dilakukan oleh pikiran, ucapan maupun jasmani. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh tiga unsur itulah yang dapat mempengaruhi kondisi karma.

Semua agama mengajarkan untuk berbuat baik dan menjauhkan perbuatan buruk. Namun umumnya setiap perbuatan baik itu susah untuk dikerjakan, walaupun bermanfaat sedang perbuatan buruk menyenangkan meski selalu dibayangi oleh risiko besar. Banyak yang mengetahui suatu perbuatan balk atau buruk, namun hanya sedikit yang menghayatinya. Walaupun pesan baik dari dulu hingga sekarang tetap menggema. Sekarang bagaimana melaksanakan pesan baik tersebut, agar bukan hanya sebagai slogan-slogan kosong yang hanya menghiasi dinding lalu dikupas, didiskusikan, atau hanya diperdebatkan

Begitu juga dengan Buddha Dhamma, umumnya umat Buddha mengenal intisari ajaran Sang Buddha, yaitu Empat Kebenaran Mulia yang berintikan Jalan Utama yang berunsur Delapan. Akan tetapi mengapa dalam kehidupan sehari-hari amat sulit mewujudkan Delapan Jalan Utama itu. Alangkah sukarnya berbuat baik, lebih lagi melihat orang lain melakukan kejahatan, mudah sekali pikiran ini timbul keinginan berbuat tidak balk, dan lucunya kita merasa telah berbuat baik bilamana dapat menghukum orang yang melakukan kejahatan. Sedang kejahatan yang dilakukan tidak pernah diperhatikan. Pada saat sekarang orang Iebih senang menikmati buah kebajikan daripada menanam kebajikan itu sendiri. Sedang Sang Buddha mengajarkan kita agar walaupun menikmati buah kebajikan, seharusnya dapat menanam kebajikan sebanyak mungkin, serta tidak membiarkan sesaatpun lahan kebajikan itu kering.

Dunia hanyalah ladang karma dan panggung sandiwara, musimpun dapat berganti dan ceritapun dapat berubah-ubah sebagaimana perannya dalam kehidupan ini. Bagaimana kita dapat memanfaatkan ladang karma dan panggung sandiwara, jika kita tidak menjadi petani karma yang baik maupun sebagai pemain sandiwara yang berhasii, sebagaimana Sang Buddha mengajarkan kita menjadi petani karma. Seperti dalam sabdanya dalam Kasibharadvaja Sutta, Sutta Pitaka, Dugha Nikaya sbb:

Keyakinan adalah benih
Pengendalian diri adalah hujan
Kebijaksanaan adalah bajakku
Rasa malu adalah tangkai bajakku
Pikiran adalah tali
Perhatian adalah cemetiku
Perbuatan jasmani terjaga dengan baik
Ucapan terjaga dengan balk

 

Makan secukupnya (tidak berlebihan)
Rumput-rumput (kekotoran batin) ku bersihkan dengan berbuat benar
Kerendahan hati adalah kebebasanku

 

Semangat adalah lembu-lembuku
Yang telah dipasangiku
Yang membawaku ke Nibbana
Berjalan tanpa henti
Bila sampai tak ada yang meratap

 

Membajak dengan cara ini
Akan memberikan hasil abadi
Setelah menyelesaikan bajakan ini
Akan terbebas dari semua penderitaan

Dengan menghayati sabda Sang Buddha, marilah kita merenungkan dan segera menyingsingkan lengan baju untuk segera turun menanam ladang ini dengan karma baik.

 

Sumber: Majalah Dharma Prabha No. 21, Juni 1994