Lakkhana Sutta: Tanda-tanda Manusia Agung

Demikianlah yang pernah saya dengar.

Suatu ketika, saat Sang Buddha menetap di Savatthi, di Vihara Jetavana yang dibangun oleh Anathapindika, Sang Buddha mengatakan: ‘Para bhikkhu, terdapat 32 tanda (lakkhana) pada seorang Manusia Agung (Maha Purisa). Manusia Agung yang memiliki tanda ini, hanya punya dua jalan hidup:

  1. Jika ia hidup berumah tangga, ia akan menjadi Raja Dunia, yang merupakan seorang raja pemutar roda yang adil, penguasa empat penjuru dunia, yang melindungi negerinya, serta memiliki tujuh harta. Harta tersebut yaitu:
  • Cakra: kebenaran dan dharma
  • Gajah: kebajikan dan moralitas
  • Kuda: tanpa nafsu, penolakan, pemisahan
  • Permata: maha tahu
  • Wanita: kebahagiaan luar biasa
  • Kepala rumah tangga: kebijaksanaan atau keterampilan
  • Panglima perang: maha kuasa.

Ia akan memiliki lebih dari ribuan putra yang semuanya merupakan pahlawan berbudi baik, serta penakluk pasukan musuh. Ia akan menguasai seluruh dunia tanpa pedang, melainkan dengan kebenaran.

  1. Akan tetapi, jika ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjalani hidup bertapa, ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha, yaitu seseorang yang sepenuhnya mencapai Penerangan Sempurna, serta telah menarik tudung dunia.

Apa sajakah 32 tanda ini?

  1. Kaki dengan tapak rata (suppatitthita-pado)
  2. Cakra dengan 1000 ruji pada telapak kaki
  3. Tumit yang bagus (ayatapanhi)
  4. Jari-jari tangan dan kaki yang panjang (digha-anguli)
  5. Tangan dan kaki yang halus lembut (mudutaluna)
  6. Tangan dan kaki seperti jala (jala-hattha-pado)
  7. Pergelangan kaki agak tinggi (ussankha-pado)
  8. Kaki seperti kaki kijang (enijanghi)
  9. Kedua tangan dapat menyentuh lutut tanpa membungkukkan badan
  10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho)
  11. Kulit cerah keemasan (suvannavanno)
  12. Kulit yang halus dan lembut, tidak ada debu yang menempel
  13. Setiap pori kulit ditumbuhi sehelai rambut roma.
  14. Rambut berwarna biru-hitam yang tumbuh ke atas
  15. Tubuh yang tegap dan lurus (brahmuiu-gatta)
  16. Tujuh bagian tubuh yang menonjol, yaitu kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu, dan badan
  17. Dada seperti dada singa (sihapubbaddha kayo)
  18. Tidak ada lekukan pada bahu (citantaramso)
  19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, seperti pohon beringin
  20. Dada dengan lebar yang sama (samavattakkhandho)
  21. Indra perasa yang peka (rasaggasaggi)
  22. Rahang seperti rahang singa (siha-banu)
  23. Gigi berjumlah 40 buah (cattarisa-danto)
  24. Gigi yang rata (sama-danto)
  25. Tidak ada celah di antara gigi (avivara-danto)
  26. Gigi yang putih bersih (susukka-datho)
  27. Lidah yang panjang (pahuta-jivha)
  28. Suara seperti suara Brahma, bagaikan suara burung Karavika
  29. Mata biru gelap (abhinila netto)
  30. Bulu mata panjang layaknya bulu mata sapi (gopakhumo)
  31. Rambut berwarna putih di antara alis mata
  32. Kepala seperti berturban (unhisasiso)

Sebenarnya, para pertapa lain pada saat itu sudah tahu tentang 32 tanda ini, tetapi mereka tidak mengetahui alasan karma di balik kemunculan tanda-tanda ini. Berikut ini Sang Budda menjelaskan peranan karma yang menyebabkan kemunculan 32 tanda ini pada seorang Manusia Agung serta akibat dan manfaatnya.

Buddha: ‘Para bhikkhu, apapun kehidupan sebelumnya, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, saat terlahir sebagai manusia, akan melakukan perbuatan besar dengan tujuan baik, tidak pernah goyah dalam perbuatan, perkataan, dan pemikiran baik, selalu dermawan, berdisiplin, melaksanakan hari uposatha, menghormati orang tua, orang suci, para Brahma, dan kepala keluarga, serta perbuatan-perbuatan terpuji lainnya; dengan menimbun dan mengumpulkan karma baik, setelah meninggal dunia, akan terlahir di alam berbahagia, di mana ia akan diberi berkah yang melebihi dewa lainnya dalam sepuluh aspek: panjang kehidupannya di surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, serta penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan kontak (sentuhan) yang surgawi. Setelah berakhir kehidupan di alam surga dan kembali menjadi manusia, ia pun akan memperoleh tanda Manusia Agung berikut: (1) kaki dengan telapak rata, supaya ia dapat menapakkan kaki secara merata pada tanah, mengangkatnya secara merata, serta menyentuh tanah secara merata dengan seluruh telapak kakinya.

Dengan diberkati oleh tanda ini, jika ia hidup berumah tangga, akan menjadi raja penguasa yang menguasai bukan karena pedang, melainkan dengan kebenaran, ia akan memerintah bumi ini sejauh batas lautan, yaitu negeri terbuka yang terbebas dari penjahat, bebas dari hutan, kuat, sejahtera, bahagia, dan terbebas dari masalah. Sebagai seorang raja, apa manfaatnya bagi dia? Ia tidak akan terhalangi oleh musuh manusia apapun yang berniat buruk. Inilah manfaatnya sebagai raja. Dan jika ia meninggalkan kehidupan berumah tangga (menjadi pertapa), ia akan mencapai penerangan sebagai seorang Buddha. Kalau begitu, apa manfaatnya sebagai Buddha? Ia tidak akan terhalangi oleh musuh atau lawan apapun, baik dari dalam maupun dari luar, dari keserakahan, kebencian, atau kebodohan batin, serta tidak juga oleh pertapa atau Brahmana apapun, dewa, mara, Brahma, atau makhluk apapun di dunia. Itulah manfaatnya sebagai Buddha.’ Inilah yang dikatakan oleh Sang Buddha.

Buddha: “Para bhikkhu, apapun kehidupan sebelumnya, saat Tathagata terlahir sebagai manusia, hidup demi kebahagiaan semua makhluk, sebagai penghilang rasa takut dan teror, pemberi perlindungan dan naungan yang benar, menyediakan segala kebutuhan, dengan melakukan karma tersebut, ia terlahir ke alam bahagia. Setelah selesai kehidupan di sana dan kemudian terlahir kembali menjadi manusia, ia akan mendapatkan tanda Manusia Agung ini: (2) pada telapak kakinya, terdapat cakra dengan 1000 ruji, dengan lingkaran dan pusat sempurna.”

Diberkahi dengan tanda ini, jika ia hidup berumah tangga, akan menjadi raja pemutar cakra. Sebagai seorang penguasa, apa manfaatnya? Ia akan mempunyai pengikut yang banyak: ia akan dikelilingi oleh para Brahmana, penduduk dan rakyat, bendahara, pengawal, penjaga pintu, para menteri, raja-raja bawahan, tuan tanah, dan pelayan. Inilah manfaatnya sebagai raja. Dan apabila ia meninggalkan kehidupan berumah tangga, ia akan menjadi seorang Buddha yang sepenuhnya mencapai Penerangan Sempurna. Apa manfaatnya? Ia akan mempunyai pengikut yang banyak: ia akan dikelilingi oleh para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, para dewa dan manusia, asura, naga, serta gandhabba. Itulah manfaatnya sebagai Buddha. Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Buddha.’

lanjut —–>