Lumbini

Lumbini adalah tempat kelahiran Sang Buddha Gotama, yang dikenal dengan sebutan Sang Tathagata – orang yang menemukan kebenaran (Dhamma). Tempat ini adalah tempat yang seharusnya dikunjungi oleh orang-orang yang teguh keyakinannya; yang mana seharusnya menimbulkan kesadaran dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi karena sifat alami yang selalu berubah-ubah, tidak kekal (impermanence).

Tempat kelahiran Buddha Gautama, Lumbini, adalah seperti Mekah-nya umat Buddha, menjadi salah satu dari empat tempat suci spiritual umat Buddha di seluruh dunia. Hal itu disebutkan dalam Parinibbana Sutta bahwa Sang Buddha sendiri telah mengidentifikasi empat tempat ziarah, yakni tempat yang menandai peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha – tempat kelahiran, tempat pencapaian penerangan sempurna, tempat membabarkan Dhamma pertama kali, dan tempat parinibbana (wafat/mangkat). Semua peristiwa ini terjadinya di luar di alam terbuka, di bawah pohon di dalam hutan-hutan. Walaupun tidak ada kepastian posisi dalam hal ini, hal itu mungkin menerangkan bahwa mengapa umat Buddha di mana pun selalu menghargai lingkungan dan hukum alam.

Lokasi Lumbini

Lumbini terletak di kaki Gunung Himalaya di negara Nepal modern. Tepatnya, di Distrik Rupandehi, Provinsi No. 5. Jika ingin pergi ke Lumbini, para wisatawan dan pengunjung bisa mulai berangkat dari beberapa lokasi di sekitarnya. Lumbini jaraknya sekitar 10 jam berkendara dari Kathmandu dan 30 menit berkendara dari Bhairahawa. Bandara terdekat ialah Gautam Buddha Airport di Bhairahawa, di mana terdapat penerbangan dari dan ke Kathmandu.

Kota perbatasan India bernama Sonauli di distrik Maharajganj jauhnya 1 jam dari Lumbini dan stasiun kereta api Nautanwa di India juga hanya beberapa kilometer jaraknya. Kota besar terdekat adalah Gorakhpur, dengan jarak sekitar 100 km dan 4 jam perjalanan dari Lumbini.

Daerah di sekitar Lumbini juga sudah mulai dibangun beberapa hotel baru serta sarana-sarana lainnya untuk mendukung dan mangakomodasi para wisatawan yang diprediksi akan meningkat. Akan tetapi, dengan mewabahnya Covid-19 sekarang ini, sayangnya kebanyakan tempat-tempat wisata di seluruh dunia tidak akan mudah dikunjungi.

Pada jaman Sang Buddha, Lumbini adalah sebuah taman yang sangat indah, hijau, dan pohon-pohon Sala yang rindang. Taman itu dan lingkungan yang hening dimiliki oleh kedua suku, Sakya dan Koliya. Raja Suddhodana, ayahanda dari Pangeran Siddharta sebagai pemegang dinasti Sakya termasuk kasta Ksatria atau prajurit. Maya Devi, ibundanya, melahirkan putranya dalam perjalanannya menuju ke rumah ayahnya di Devadaha, ketika sedang beristirahat di Taman Lumbini di bawah pohon Sala di bulan Mei tahun 642 SM. Keindahan Taman Lumbini dideskripsikan dalam literatur Pali dan Sansekerta. Ratu Maya Devi terpesona melihat keindahan alam Taman Lumbini. Ketika dia berdiri, dia kemudian merasakan rasa sakit yang tidak wajar dan berpegangan pada salah satu dahan pohon Sala, bayinya, yang kelak menjadi Buddha, lahir.

Maya Devi Temple

Bekas Lumbini telah ditelantarkan selama berabad-abad. Pada tahun 1895, Feuhrer, seorang ahli arkeologi yang terkenal, menemukan pilar besar saat berkeliling di sekitar bukit di kaki gunung di daerah Churia. Penjelajahan dan penggalian lebih jauh di sekitar area mengungkapkan keberadaan bangunan kuil dan arca batu pasir dalam kuil yang menggambarkan masa-masa kelahiran Sang Buddha.

Hal itu ditunjukkan oleh para sarjana bahwa kuil Ratu Maya Devi telah dibangun setelah penemuan lebih dari satu kuil atau stupa yang sebelumnya, dan bahwa kuil ini mungkin dibangun pada seorang penduduk Ashoka itu sendiri. Di sebelah selatan kuil Ratu Maya, terdapat sebuah kolam pemandian suci yang dikenal sebagai Puskarni. Tempat itu dipercaya sebagai tempat pemandian Ratu Maya sebelum melahirkan. Di sisi samping pilar Ashoka terdapat sungai yang mengalir ke tenggara dan disebut sungai ‘Ol’. Pada tahun 1996, seorang ahli arkeologi menemukan dengan penggalian sebuah “batu yang sempurna” ditempatkan di sana oleh Raja India, Ashoka, pada 249 SM, untuk menandai lokasi persisnya di mana Sang Buddha dilahirkan lebih dari 2600 tahun yang lalu, jika dicari buktinya, penemuan itu akan menempatkan Lumbini di urutan paling pertama sebagai tempat ziarah religius diantara berjuta-juta tempat ziarah lainnya.

Maya Devi Temple dengan kolam di samping

Di kuil Ratu Maya inilah dikatakan merupakan tempat persis di mana Pangeran Siddharta Gautama dari suku Sakya dilahirkan. Di dalam kuil, dapat ditemukan berbagai lukisan yang menunjukkan kisah kelahiran Pangeran Siddharta. Sebenarnya, bangunan kuil yang sekarang kita lihat bukanlah kuil aslinya, melainkan dibangun di atas kuil kuno yang sebenarnya, dengan tujuan untuk melindungi kuil tua dari kehancuran. Kuil yang lebih tua ini kemungkinan dibangun dari sebuah stupa Asoka.

Tampak dalam Kuil Ratu Maya

Di dalamnya, hanya terdapat batu bata lumpur, dengan sebuah area kecil di sekitar lubang galian di mana diperkirakan merupakan tempat persis Pangeran Siddharta dilahirkan. Di sana terdapat juga sebuah panel kaca kecil dengan beberapa lukisan yang sudah memudar.

Di luar kuil Ratu Dewi, kita dapat menemukan kolam yang dikatakan merupakan tempat Ratu Maya mandi sebelum melahirkan Pangeran Siddharta. Akan tetapi, sekarang kolamnya telah direnovasi dan sudah menjadi tempat tinggal kura-kura, jadi kita tidak boleh mandi di dalamnya. Pada malam hari, kita dapat melihat refleksi kuil Ratu Maya yang indah.

Pemandangan Kuil Ratu Maya dengan kolam di samping pada malam hari

Pilar Ashoka

Pada tahun 1896, sebuah pilar batu besar ditemukan di Rupandehi, dengan menelusuri catatan sejarah yang dibuat oleh seorang bhikkhu Tiongkok Kuno bernama Xuan Zang pada abad ke 7 M dan bhikkhu lainnya bernama Faxian pada abad ke 5 M. Ukiran aksara Brahmi pada pilar tersebut membuktikan bahwa Ashoka, kaisar dari Kerajaan Maurya, mengunjungi tempat ini pada abad ke 3 SM dan menandainya sebagai tempat kelahiran Sang Buddha. Ukiran aksara ini pun kemudian diterjemahkan oleh Paranavitana, di mana isinya terdapat kata-kata: “…bahwa ia mengunjungi tempat itu untuk memberi penghormatan kepada tempat di mana Sang Buddha dilahirkan.”

Di atas pilar tersebut, terdapat ukiran kedua oleh Raja Ripumalla (abad ke 13-14 M), yang juga terkenal dari ukiran pada pilar Nigali Sagar:

“Om Mani Padme Hum Semoga Pangeran Ripu Malla selalu berjaya”

Pilar Ashoka yang kedua juga ditemukan sekitar 22 km pada arah barat laut dari Lumbini, sedangkan pilar Nigali Sagar (beserta inskripsinya), dan yang ketiga bernama pilar Gotihawa (tanpa inskripsi) terletak 24 km di arah barat,

Maya Devi Temple dan Pilar Ashoka
Pilar Ashoka di Lumbini

Sekarang, beberapa tempat suci/keramat telah dibangun oleh para relawan dari negara-negara Buddhis. Mengunjungi Taman Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha, tidak hanya untuk tujuan pencerahan spiritual saja tapi juga untuk meneguhkan keyakinan kita bahwa terdapat jalan untuk menuju pembebasan sejati, menuju pada kedamaian yang abadi.

 

Sumber:

  • Majalah Dawai No. 51, November 2008
  • Wikipedia