Makanan Terakhir Sang Buddha – Vegetarian atau Tidak?

Dalam Digha Nikaya, tercatat bahwa sebelum Sang Buddha Parinibbana, dia mengonsumsi makanan yang diberikan oleh seorang pandai besi bernama Cunda. Makanan ini terdiri dari bahan-bahan yang disebut sukara maddava yang kira-kira diterjemahkan menjadi ‘kesenangan babi’. Uraian dalam kitab Buddhis kuno, Sumangalavilasani dan Paramatthajotika, menggambarkan apa sebenarnya makanan ini; daging babi lembut, tunas bambu, nasi, dll. Tentu saja apa itu sukara maddava sudah lama dilupakan sehingga sekarang ini kita hanya bisa menebak-nebak. Para umat Buddha zaman dulu kemungkinan tidak melestarikan informasi mengenai sukara maddava karena dikira tidak penting, dan itu benar.

Sampai sekarang banyak beredar dugaan tentang apa yang dimakan Sang Buddha terakhir kalinya sebelum Parinibbana. Cendekiawan seperti Arthur Waley, E. J. Thomas dan J. F. Fleet, Walpola Rahula, R. Gordon Wasson, Karl Neumann serta baru-baru ini Thich Nhat Hanh, semuanya berspekulasi mengenai hal ini. Ditambah lagi dengan pendapat-pendapat amatiran, yang biasanya tidak pernah membaca kitab-kitab Buddhis, sejarah sosial India kuno, dan lainnya. Beberapa orang mengatakan sukara maddava adalah daging babi, yang berarti Sang Buddha tidak bervegetarian. Ada lagi yang mengatakan bahwa makanan tersebut adalah sejenis jamur truffle.

Makanan Terakhir Sang Buddha – Vegetarian atau Tidak?
Makanan Terakhir Sang Buddha – Vegetarian atau Tidak?

Dulu, cendekiawan Eropa yang mempelajari Buddhisme berteori bahwa karena orang Prancis melatih babi untuk menemukan jamur truffle, ‘kesenangan babi’ yang disebutkan dalam kitab Buddhis bisa saja merupakan sejenis jamur truffle. Teori ini didasarkan pada asumsi yang salah bahwa apa yang terjadi di pedesaan Prancis pada abad ke-19 juga pastinya terjadi di India pada abad ke-5 SM. Bahkan faktanya, jamur truffle tidak tumbuh di India dan lagipula, penggunaan babi yang terlatih untuk mencari truffle baru-baru ini saja dilakukan di Prancis. Oleh karena itu, teori bahwa makanan terakhir Sang Buddha adalah jamur truffle sama sekali tidak berdasar. Selain itu, banyak lagi teori-teori yang sama tak berdasarnya –  sukara maddava adalah sejenis jamur, Sang Buddha meninggal karena memakan jamur beracun, dari keracunan makanan, atau bahkan karena Sang Buddha diracuni. Sekali lagi, fakta-fakta mengalahkan spekulasi-spekulasi liar ini.

Meskipun menyadari bahwa masalah ini sangat kabur dan kemungkinan tidak akan pernah terselesaikan, secara umum semua orang setuju bahwa kemungkinan sukara maddava adalah sejenis hidangan daging babi. Tapi tetap saja, pendukung vegetarianisme bersikeras bahwa makanan tersebut adalah sejenis truffle, atau jamur lainnya, atau setidaknya bukan daging. Mereka yang dengan keliru berpikir bahwa vegetarianisme adalah bagian penting dalam Buddhisme awal akan berkesimpulan bahwa Sang Buddha berkontradiksi dengan ajarannya sendiri karena mengonsumsi daging, dan menuduh pihak pendukung truffle/jamur karena menyangkal yang sudah jelas, dan mencoba menutup-nutupi. Sedangkan orang-orang fanatik agama lain lebih menyukai skenario ‘Sang Buddha diracuni’ karena dengan begini bisa memberikan aspek seram dalam kehidupan dan misi Sang Buddha. Satu hal yang bisa kita tahu pasti hanyalah bahwa sukara maddava adalah sejenis hidangan yang bahannya sudah lama terlupakan.

Nah, sekarang mari kita lihat fakta-faktanya. Beberapa bulan sebelum Parinibbana, Sang Buddha sudah menderita penyakit parah yang membuatnya merasakan sakit seolah-olah akan mati, yang ditahannya secara sadar, penuh perhatian, dan tanpa mengeluh.” (Digha Nikaya II, 99). Hal ini berlangsung saat musim monson, waktu ketika India dipenuhi penyakit menular karena air yang hingga sekarang masih umum. Sang Buddha sudah berusia 80 tahun, umur yang sudah sangat tua menurut standar pada masa itu, dan Ananda mendeskripsikan “anggota badannya sudah kendur dan keriput serta bungkuk.” (Samyutta Nikaya V,217). Sang Buddha sendiri mengatakan tubuhnya hanya bisa “tetap bertahan jika terus-menerus ditambal” (Digha Nikaya II, 100). Setelah makanan terakhirnya, Sang Buddha menderita “diare berdarah” (lohita pakkhandika), kelanjutan dari penyakit yang sudah dideritanya untuk beberapa waktu, dan keesokan harinya Sang Buddha pun Parinibbana.

Dari sini jelas-jelas bahwa Sang Buddha Parinibbana karena komplikasi akibat kelelahan, sakit, dan usia tua, bukan karena apa yang dimakannya. Kesimpulan yang masuk akal ini masih diterima secara luas saat Milindapanha dituliskan (abad ke-2 SM sampai abad ke-1 M). Di dalamnya dikatakan: “Bukan karena makanan Sang Buddha menjadi sakit. Hal itu karena tubuhnya yang secara alami sudah melemah dan karena Sang Buddha sudah mencapai masa hidupnya sehingga sakit menjadi lebih parah.” (Mil.175).

Makanan Terakhir Sang Buddha – Vegetarian atau Tidak?
Makanan Terakhir Sang Buddha – Vegetarian atau Tidak?

Dalam sudut pandang agama Buddha, satu-satunya hal penting dari makanan terakhir Sang Buddha yaitu bagaimana Sang Buddha sekali lagi menunjukkan cinta kasih dan kasih sayangnya yang tak terbatas. Ketika Sang Buddha menyadari sudah akan tiba Parinibbana, dia segera berpikir bahwa besar kemungkinan Cunda bisa dituduh menyebabkan kematiannya. Untuk menghindari hal ini terjadi, Sang Buddha berpesan kepada Ananda untuk kembali ke desa Cunda dan memberitahunya bahwa menyajikan makanan terakhir kepada orang suci adalah perbuatan yang paling baik dan penuh berkah. Dapat kita lihat di sini, saat sakit, kelelahan, dan mendekati ajal pun Sang Buddha lebih memikirkan kepentingan orang lain.

Jadi, pada akhirnya, tidak penting apa makanan terakhir Sang Buddha vegetarian atau tidak, sebab pola makan saja tidak akan membantu kita mencapai tujuan semua umat Buddha, yaitu Nibbana. Toh orang-orang dulu saja tidak mencatat satu per satu bahan yang digunakan dalam hidangan terakhir Sang Buddha karena dianggap tidak penting, kenapa kita sekarang harus mempermasalahkannya? Bervegetarian atau tidak, itu adalah pilihan masing-masing orang.