Makna Air dalam Buddhisme

Persembahan air di altar Buddhis melambangkan aspirasi untuk mengembangkan ketenangan, kejernihan, dan kesucian badan jasmani, ucapan, serta batin. Air mengingatkan kita untuk dengan tekun membersihkan diri dari kekotoran batin seperti kemelekatan, kebencian, dan kebodohan batin dengan cinta kasih, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Dengan menyempurnakan kualitas-kualitas baik ini, pencerahan atau kebahagiaan sejati pun akan tercapai.

Saat kita sebagai umat Buddha memandikan patung Buddha saat Hari Waisak, hal ini mengingatkan kita untuk menyucikan diri dan memunculkan sifat keBuddhaan dalam diri kita, yang ada dalam setiap makhluk hidup. Air juga melambangkan inti sari ajaran Buddha, yang memuaskan dahaga spiritual kita. Selain itu, air juga dipercikkan saat pembacaan paritta di vihara atau di rumah baru supaya diberkahi.

Meskipun para Buddha dan Bodhisattva, sebagai makhluk yang sudah tercerahkan tidak membutuhkan persembahan, umat Buddha tetap saja memberikan persembahan secara rutin agar karma baik dapat terkumpul dan terus-menerus mengingatkan kita untuk tetap teguh dalam jalan spiritual yang juga mereka tempuh demi mencapai penerangan.

Dalam tradisi Vajrayana, alih-alih mempersembahkan hanya satu cangkir air, terdapat tradisi mempersembahkan tujuh mangkuk air, yang melambangkan doa tujuh dahan. Ketujuh komponen ini yaitu (1) Sujud-sembah, (2) Memberi persembahan, (3) Mengakui kesalahan, (4) Bersuka cita, (5) Meminta Para Buddha agar tidak berlalu, (6) Memohon ajatan, dan (7) Melimpahkan jasa. Doa tujuh dahan, yang pada esensinya merangkum semua doa Buddhis, yaitu:

Dengang hormat saya bersujud dengan badan jasmani, ucapan, dan batin saya, Dan mempersembahkan awan setiap jenis persembahan, yang nyata maupun dibayangkan. Saya mengakui segala perbuatan negatif yang telah terkumpul sejak waktu yang tak berawal, Dan bersukacita dalam budi mulia semua makhluk suci dan biasa. Mohon tidak berlalu hingga lingkaran kehidupan kembali berakhir, Dan memutar roda Dharma (menyebarkan ajaran Buddha) untuk semua makhluk. Saya melimpahkan jasa diri sendiri serta orang lain kepada penerangan sempurna (ke-Buddha-an).

Seperti yang sudah diajarkan oleh Sang Buddha, keberadaan dan kesejahteraan semua makhluk (manusia, hewan, dan lainnya) saling bergantung dan berhubungan dengan alam dan berbagai elemennya, termasuk air. Oleh karena itu, umat Buddha berusaha menghormati dan merawat lingkungan hidup beserta semua aspeknya – tanah, air, serta laut. Krisis iklim sekarang ini dipandang sebagai cerminan alami dari keseluruhan karma buruk yang kita semua ciptakan akibat penyalahgunaan dan perusakan lingkungan alam. Karena kita semua sebagai makhluk yang tinggal di planet ini bertanggung jawab terhadap rumah kita sendiri, seharusnya kita juga sebaiknya bersama-sama melindungi dan menyelamatkan lingkungan alam planet kita.