Manfaat Mendengarkan Dhamma

Oleh: Bhikkhu Aggacitto Thera ,

– Pembina di Sigalovada Foundation

– Kepala Vihara di Pubbārāma Buddhist Centre

=============================

Sebagai umat Buddha, yang telah menyatakan berlindung kepada Sang Tiratana, kita mempunyai kewajiban untuk datang ke vihara, minimal satu kali dalam satu minggu. Hal ini sangatlah penting, karena di vihara kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bermanfaat untuk perkembangan batin kita, antara lain membacakan Paritta-Paritta Suci, bermeditasi, mendengarkan Dhammadesana, berdana dan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Di vihara, kita juga dapat melakukan hubungan sosial masyarakat, terutama dengan sesama umat Buddha, bergaul, bertukar pengalaman, bekerjasama, tolong menolong, dan sebagainya.

Lima Dhammasavanânisamsa

Mendengarkan Dhamma, merupakan hal penting yang dapat kita ikuti saat mengikuti puja bakti di vihara. Sang Buddha, dalam khotbah-Nya tentang Berkah Utama (Mangala Sutta) menyatakan “Kalena Dhammasavanam, Etammangalamuttamam” yang artinya mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai adalah Berkah Utama. Di Indonesia, kita mempunyai Dhammaduta (pembabar Dhamma) dengan jumlah yang masih terbatas baik itu bhikkhu, samanera, pandita, baik yang handal maupun yang masih belajar. Tentunya masing-masing Dhammaduta memiliki kemampuan yang berbeda, pengalaman dan cara penyampaian yang berbeda pula.

Sebagian dari kita suka pilih-pilih Dhammaduta, ketika mendengarkan Dhamma. Kalau yang tampil adalah favorit kita, maka kita akan duduk berlama-lama mendengarkan Dhamma. Sebaliknya, tak mau mendengarkan, bosan dan memilih pulang ketika pembabaran Dhamma baru saja dimulai, jika pembabarnya buka favorit kita. Sebenarnya, ketika kita mendengarkan Dhamma, yang terpenting adalah Dhamma yang disampaikannya bukannya melihat orang yang membabarkan, tua, muda atau masih belajar.

Dalam Angutara Nikâya III, 2482, Sang Buddha menjelaskan ada lima manfaat dari mendengarkan Dhamma (Dhammasavananisamsa), yaitu:

Asuttam Sunati : mendengarkan hal-hal yang belum pernah kita dengar atau ketahui dan mendapat pengetahuan Dhamma yang baru. penting sekali bagi kita untuk mempelajari dhamma, agar dapat mengetahui dan memberikan gambaran yang tepat tentang Buddha Dhamma dan menghindari persepsi-persepsi yang salah kepada saudara kita yang lain.

Sutam Pariyodapeti : hal-hal yang pernah kita dengar,tapi belum jelas,dan kita dengar kembali,akan menjadi lebih jelas lagi.Janganlah kita pernah bosan untuk mempelajari Dhamma, karena Dhamma mengundang untuk dibuktikan (Ehipassiko).

Kankam Vihanati : Dengan mendengarkan dhamma, keragu-raguan kita kepada Sang Tiratana dapat hilang dan keyakinan dapat bertambah.

Ditthi ujum karoti : Mendengarkan Dhamma dapat membuat kita memiliki pengertian benar. Pengertian benar adalah hal pertama dari Jalan Mulia Beruas Delapan (Ariya Atthangika Magga).bagian dari Paññâ/Kebijaksanaan. Sebagai umat Buddha,kita diajarkan untuk memiliki pengertian benar (Samma Ditthi) dan bukan pengertian salah (Miccha Ditthi)

Cittamassa pasidati : Dengan mendengarkan Dhamma, pikiran kita akan tenang dan bahagia. Di vihara, kita membacakan Paritta-Paritta Suci yang merupakan Dhamma yang pernah disampaikan oleh Sang Buddha, kemudian bermeditasi dan mendengarkan Dhamma, dapat membuat kegelisahan batin berkurang, dan berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan.

“Sikap Ketika Mendengarkan Dhamma”

Ketika ada pembabaran dhamma,banyak di antara kita yang bersikap kurang sopan bahkan tidak pantas. Jika pembabaran Dhamma dimulai, sebaiknya lakukan hal-hal berikut :

Duduklah dengan sopan (bersila/setengah sila, tangan diletakkan di atas pangkuan)

Tidak berbicara atau mengobrol dengan kawan di sebelah, tetapi menyimak dengan penuh perhatian dan tidak membuat kegaduhan, dan hal-hal tidak pantas lainnya yang mungkin dapat mengganggu jalannya pembabaran Dhamma. Bagi para bhikkhu atau samanera, ada enam belas peraturan tentang cara mengajar Dhamma (Dhammadesana-patisamyutta), yang terdapat dalam Sekhiya Dhamma, yaitu : Seorang bhikkhu atau samanera tidak akan mengajarkan Dhamma kepada orang yang :

1. Memegang payung
2. Memegang tongkat
3. Memegang pisau
4. Memegang senjata
5. Memakai sandal kayu
6. Memakai sepatu di tempat yang lebih rendah
7. Berada dalam kendaraan
8. Berada di tempat baringan
9. Duduk merangkul lutut
10. Mengenakan penutup kepala
11. Kepala terbungkus
12. Duduk di kursi sedangkan bhikkhu/samanera duduk di lantai
13. Duduk di tempat yang tinggi sedangkan bhikkhu/samanera duduk yang rendah
14. Duduk, sedangkan bhikkhu/samanera berdiri
15. Berjalan di depan sedangkan bhikkhu/samanera berjalan di belakang
16. Berjalan di seberang jalan sebelah sana, sedangkan bhikkhu/samanera berjalan di seberang sini, kecuali jika si pendengar sakit. Sang Buddha kemudian menjelaskan tentang hal-hal yang menghalangi orang untuk dapat mengerti Dhamma, yaitu nafsu (raga), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha).

Nafsu membakar seseorang, tidak ada api sepanas nafsu. Dunia mungkin saja terbakar ketika tujuh matahari muncul di angkasa, namun nafsu selalu membakar tanpa henti. Beliau kemudian membabarkan syair Dhammapada, ayat 251 :

“Tiada api yang dapat menyamai nafsu, tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian, tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan, dan tiada arus sederas nafsu keinginan.”

Sang Budddha juga mengingatkan bahwa seseorang haruslah penuh perhatian untuk dapat memahami Dhamma karena banyak sekali orang yang tidak dapat menjalankan hal ini.

Kesimpulan :
Setelah kita mendengarkan atau mempelajari Dhamma (Pariyatti Dhamma), yang hendaknya dilakukan adalah mempraktikkannya (Patipatti Dhamma) sesuai dengan teori yang didapat. Jika kita hanya mampu menguasai Dhamma (teori), tetapi tidak pernah mempraktikkannya maka manfaat Dhamma akan menjadi sangat kecil dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Tahap selanjutnya adalah: penting sekali penguasaan dari teori-teori itu untuk dipraktikkan (Patipatti Dhamma.

Setelah dua hal ini kita laksanakan, maka buah/pahala Dhamma, yaitu Pativedha Dhamma adalah: lenyapnya nafsu, tercapainya kedamaian dan kebahagiaan/Nibbâna dapat terealisasi. Daripada sekadar menjadi seorang ahli Dhamma, yang hanya jago berdebat dengan ego yang menggunung, batin kita tidak mengalami kedewasaan,kita masih cengeng dalam menghadapi persoalan hidup.

Renungan :
“Walaupun seseorang banyak membaca kitab suci, tapi tidak berbuat sesuai Ajaran, maka orang yang lengah itu, seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tidak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. Walaupun seseorang hanya sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai dengan Ajaran, menyingkirkan nafsu, kebencian dan kebodohan, memiliki pengertian benar dan batin yang bebas dari nafsu, tidak memiliki kemelekatan, maka ia akan memperoleh manfaat dari kehidupan suci”

(Dhammapada I, 19 – 20)