Menaklukkan Alawaka

Yakkha Alawaka adalah raksasa jahat berkekuatan gaib yang dipuja sebagai dewa pelindung rakyat Alawi. Rakyat Alawi takut kepadanya, sehingga mereka selalu mengorbankan daging dan darah kepada Yakkha Alawaka yang haus darah. Meski sudah banyak manusia yang dikorbankan, Yakkha Alawaka tetap bertindak kejam kepada rakyat Alawi.

Raja Kota Alawi bernama Raja Alawaka. Suatu hari, ketika berburu, Raja Alawaka mengejar buruannya sampai ke dalam hutan. Di dalam hutan, Yakkha Alawaka muncul dengan wujudnya yang mengerikan, menghadang Raja. Dengan lutut bergetar, Raja memohon ampun kepada Yakkha. Demi meloloskan diri dari ancaman Yakkha, Raja berjanji akan mengirimi Yakkha Alawaka korban manusia tiap sebulan sekali. Yakkha mengancam akan mengobrak-abrik Kota Alawi jika Raja tidak menepati janjinya.

Setelah itu, barulah Yakkha menyetujui permohonan Raja. Sekembalinya ke istana, Raja menyiapkan para narapidana untuk dikorbankan ke Yakkha. Satu per satu narapidana dipersembahkan untuk Yakkha, sampai akhirnya penjara kosong. Raja tidak ingin dibunuh Yakkha. Ia pun mengirimkan anak-anak untuk dipersembahkan! Setelah 12 tahun, tidak ada lagi anak-anak di Alawi. Hanya ada satu anak yang tersisa, yaitu putra Raja sendiri, Alawaka Kumara. Dengan tega hati, Raja Alawaka berniat mengorbankan putranya sendiri.

Pada saat itu, Buddha melihat bahwa Yakkha Alawaka memiliki potensi untuk tercerahkan. Buddha lalu mengunjungi kediaman Yakkha Alawaka. Pada saat itu, Yakkha Alawaka sedang berkunjung ke kediaman yakkha lainnya. Buddha menyatakan keinginan-Nya untuk menginap di sana kepada Gadrabha, penjaga kediaman Yakkha Alawaka. Gadrabha menyarankan Buddha untuk tidak menginap di sana karena Yakkha Alawaka sangat bengis! Namun Buddha tetap berkukuh untuk menginap di sana.

Di istana Yakkha, Buddha membabarkan Dhamma kepada para yakkha dan yakkhini. Para yakkha dan yakkhini merasa terilhami dan sangat menghormati Buddha. Hal ini membuat Yakkha Alawaka marah. Yakkha Alawaka mengajak pasukannya mengepung istana dengan Buddha di dalamnya.

Dengan sembilan macam hujan mengerikan, Yakkha Alawaka menyerang Buddha. Pertama, dia menciptakan badai angin yang mampu menghancurkan seisi desa. Namun, badai ini tidak menggerakkan sedikit pun jubah Buddha.

Kedua, hujan lebat yang mampu menimbulkan kawah di bumi. Hujan ganas itu berubah menjadi titik embun. Kemudian, turunlah hujan batu besar, yang akhirnya berubah jadi untaian bunga harum yang berjatuhan. Begitu pula dengan hujan senjata, berubah jadi bunga surgawi yang harum. Bara api putih yang sangat panas pun berubah jadi bunga melati.

Senjata keenamnya, abu panas juga berubah menjadi serbuk cendana sebelum mengenai Buddha. Ketujuh, hujan pasir panas berubah jadi bunga kecil yang wangi. Sama halnya dengan tanah panas membara yang berubah jadi dupa wangi. Terakhir, diciptakanlah kegelapan yang pekat dan mengerikan. Namun, begitu kegelapan itu mendekati Buddha, tiba-tiba kegelapan itu lenyap sendiri.

Dengan pasukan makhluk mengerikan, Yakkha Alawaka menyerbu Buddha. Tapi tetap saja tak mempan. Buddha tetap tenang-tenang saja.

Akhirnya, Yakkha Alawaka mengeluarkan senjata mematikannya yang bisa mengempaskan seisi dunia. Senjata yang menjadi puncak penyerangan yakkha ini berubah jadi sehelai kain di depan Buddha.

Setelah kekalahan demi kekalahan, Yakkha Alawaka mencoba untuk membuat Buddha jadi tidak sabar. Berkali-kali ia menyuruh Buddha keluar dan masuk kediamannya. Meski begitu, Buddha tetap sabar dan tidak marah.

Akhirnya, Yakkha Alawaka mengajukan beberapa pertanyaan kepada Buddha: Apakah kekayaan terbesar yang dapat dimiliki seseorang? Apakah yang akan membawa kebahagiaan? Apakah rasa yang paling manis? Bagaimana cara hidup yang paling mulia?

Buddha menjawab:

Keyakinan adalah kekayaan terbesar yang dapat dimiliki seseorang.
Perbuatan baik akan membawa kebahagiaan.
Kebenaran adalah rasa yang paling manis.
Hidup dengan kebijaksanaan adalah hidup yang paling mulia.
Setelah mendengar jawaban Buddha, Alawaka pun tercerahkan.

 

Kekejaman membuat orang di sekitar kita takut. Dengan bertindak kejam, tidak akan ada orang yang berani dekat dengan kita. Namun, meskipun Yakkha Alawaka menyeramkan dan kejam, Buddha tetap mendatanginya untuk menyelamatkan Pangeran Alawi dan mencerahkan Alawaka sendiri. Untuk menaklukkan Alawaka yang kejam, Buddha menggunakan kesabaran dan ketenangan-Nya.

 

Sumber: Buku cerita SADHU 8 Jayamanggala, Cetakan 1, Juni 2012