Mengalahkan Saccaka

Saccaka adalah ahli debat terkenal yang berasal dari keluarga ahli debat. Ayah dan ibunya adalah ahli debat yang menjadi guru para pangeran dan anak bangsawan.

Saccaka sering membual dan membanggakan keahliannya berdebat. Ia berkata bahwa tak seorang pun yang tidak gemetar atau berkeringat ketika berdebat dengannya, bahkan pilar pun akan menggigil menghadapinya.

Saccaka memiliki empat kakak perempuan yang juga ahli debat. Keluarga Saccaka memiliki tradisi memasang lambang yang diikatkan pada sebatang tongkat. Tongkat ini ditancapkan di dekat kediaman mereka. Jika ada orang yang ingin menantang seorang ahli debat, maka mereka cukup mencabut tongkat itu di hadapan orang-orang dan menginjak lambangnya. Setelah itu akan diadakan debat umum.

Suatu ketika, keempat kakak Saccaka berdiam di desa di dekat Wihara Jetawana, mereka juga menancapkan tongkat mereka di depan gapura desa. Keesokannya, Bhikkhu Sariputta melewati tempat itu dan melihat tongkat itu. Bhikkhu Sariputta meminta anak-anak muda di sana untuk mencabut dan menginjak tongkat itu. Bhikkhu Sariputta juga berpesan kepada anak-anak muda itu untuk meminta para ahli debat mendatanginya di wihara.

Di wihara, keempat kakak Saccaka menanyakan ribuan pertanyaan kepada Bhikkhu Sariputta. Semua pertanyaan dapat dijawab dengan sempurna. Bhikkhu Sariputta hanya menanyakan satu pertanyaan saja, namun keempat ahli debat itu tak bisa menjawabnya. Setelah mengakui kekalahannya, mereka berempat menjadi bhikkhuni dan menghentikan perdebatan itu.

Setelah mengetahui keempat kakaknya menjadi murid Buddha, Saccaka dengan sombongnya mengajak Buddha berdebat. Mulanya Saccaka merasa tak puas dengan jawaban Buddha dan terus berdebat dengan Buddha. Tapi Buddha selalu bisa menjawab dengan sempurna, hingga akhirnya Saccaka sendiri kehabisan kata-kata. Dengan tubuh gemetar dan keringat bercucuran, Saccaka tak mampu membalas pertanyaan Buddha. Buddha memperingatkan, jika Saccaka tak menjawab pertanyaan Buddha ketika ditanya ketiga kalinya, maka kepalanya akan pecah jadi tujuh. Saat itu, Dewa Wajrapani melayang di atas Saccaka dengan membawa petir untuk menakuti Saccaka. Dewa ini hanya terlihat oleh Buddha dan Saccaka.

Akhirnya Saccaka menjawab pertanyaan Buddha dan mengakui kekalahannya. Buddha menegur Saccaka atas kesombongannya. Buddha tidak sedikit pun berkeringat menghadapi Saccaka, malahan Saccaka sendiri yang basah kuyup berkeringat.

 

Kepintaran hendaknya digunakan untuk pengembangan kebajikan. Ketika kepintaran digunakan untuk kesombongan, kejatuhanlah yang akan mengikutinya. Jika saja Saccaka menggunakan kepintarannya untuk mengembangkan kebaikan, pasti ia akan cepat tercerahkan. Untuk mnegalahkan kecongkakan Saccaka, Buddha menggunakan pengetahuan Dhamma-Nya.

 

Sumber: Buku cerita SADHU 8 Jayamanggala, Cetakan 1, Juni 2012