Mengapa Kita Harus Memiliki Keyakinan Terhadap Buddha?

Artikel ini disadur dari Bab 1 Buku berjudul : Jalan Buddha Menuju Kedamaian dan Kebahagiaan

Hak Cipta Terjemahan & Penerbitan
© 2018 Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia (Yasati)

=================================

Mengapa kita harus memiliki keyakinan terhadap Buddha
sebagai tempat berlindung kita? Untuk menjawab pertanyaan ini,
pertama anda harus tahu sedikit mengenai kehidupan dari Buddha.
Dengan demikian anda akan mengerti mengapa Buddha merupakan seorang individu yang luar biasa mulia yang tak tertandingi sebagai
makhluk tertinggi di ketiga dunia.

Mengapa kita harus memiliki keyakinan kepada Buddha sebagai
guru dari manusia, dewa (deva) dan makhluk-makhluk surgawi
(brahma)? Dengan sederhana dinyatakan, Beliau patut kita yakini
karena Buddha menemukan dan menunjukkan kepada semua
makhluk, jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Untuk mengerti mengapa Buddha patut mendapat keyakinan
sedemikian, anda harus mengerti arti dari kata ’Buddha’. Secara
singkat, ’Buddha’ berarti ’Ia yang Tahu.’ Jika kita melihat makna
yang pasti dari kata Pāḷi, tertulis, ”bujjhatīti buddho.”ii Dalam bahasa
Inggris, diterjemahkan sebagai, ”Karena ia tahu, ia disebut Buddha.”
Apa yang beliau ketahui? Beliau mengetahui sifat sejati dari
fenomena. Dengan demikian, Buddha berarti ’Ia yang mengetahui
sifat sejati.’

Di dunia ini, apa yang dicari seluruh makhluk? Mereka mencari
pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat duniawi dan adiduniawi.
Anda bisa saja mengatakan bahwa orang-orang mencari makanan,
pakaian, dan tempat berlindung. Dapatkah anda mendapat
penghasilan, bila anda tidak mempunyai pengetahuan yang sesuai
untuk mencari nafkah? Oleh karena itu anda perlu mencari
pengetahuan yang berkenaan dengan penghidupan anda.
Pada saat ini, harus dimengerti bagaimana mendapatkan
pengetahuan tentang sifat sejati. Muncul pertanyaan, ”Apakah
pengetahuan ini diperoleh melalui pemikiran?”

Apabila pengetahuan ini diperoleh melalui pemikiran,
pengetahuan dari seseorang dengan kecerdasan tinggi akan berbeda
dari seseorang dengan kecerdasan biasa atau rendah. Dengan cara ini,
pengetahuan tersebut akan berubah sesuai dengan kecerdasan individu tersebut. Namun, apabila pengetahuan ini berbeda-beda, dapatkah
pengetahuan ini masih merupakan kebenaran absolut? Hanya ada satu
kebenaran tunggal yang absolut. Oleh karena sifat sejati dari realitas
hanya terdiri dari satu jenis, bagaimana bisa ada perbedaan?
Seorang Buddha mengetahui hal-hal sebagaimana adanya;
dengan demikian, beliau disebut ’Buddha’ atau sammāsambuddha.
Kata Pāḷi sammāsambuddha terdiri dari tiga kata; makna mereka
adalah sebagai berikut:

sammā : sepatutnya, tepat, dengan cara yang benar
sam : dengan pengetahuan pandangan terangnya
(ñāṇa) : sendiri
Buddha : ia yang tahu

Dengan demikian sammāsam artinya ’ia yang mengetahui halhal
secara sepatutnya dan tepat dengan cara yang benar berdasarkan
pengetahuan pandangan terang diri sendiri.’

Buddha mengetahui sifat sejati dari realitas dengan melihat halhal
sebagaimana adanya. Bukan lewat pemikiran atau perenungan
terhadap hal-hal tersebut, pemahaman Beliau akurat; dan merupakan
pengertian yang benar.

Sebagai contoh, pagi ini hujan. Dengan mengamati hujan,
seseorang mungkin menganggap bahwa ini musim hujan. Bukankah
penglihatan ini adalah sebagaimana adanya? Namun, apabila anda
merenungkannya, ”Hujan sedang turun, tetapi karena cukup panas,
seharusnya ini musim panas,” apakah ini benar atau salah?

Berdasarkan kalender lunar Myanmar, waktu di tahun ini ditandakan
sebagai ’musim panas’, tetapi jika anda melihat situasi tersebut
sebagaimana adanya, adalah musim hujan. Tapi berdasarkan istilah
konvensional, adalah musim panas.

Saya ingin menyinggung beberapa hal yang mendasar. Apabila
seseorang ingin mengetahui sifat sejati dari hal-hal sebagaimana
adanya, bisakah seseorang melakukan penyelidikan dari sudut
pandang filosofis? Jika seseorang bisa melihat hal-hal sebagaimana
adanya berdasarkan sudut pandang filosofis, seharusnya di sana hanya
ada satu filsafat tunggal. Tapi mengapa ada banyak sekali filsafat yang
berbeda? Sehingga terbukti bahwa seseorang tidak dapat melihat halhal
sebagaimana adanya melalui pemikiran filosofis.

Oleh karena itu, seseorang perlu melihat realitas dengan
mengamatinya sebagaimana adanya. Untuk mengetahui sifat sejati
dari fenomena, seseorang perlu mengamatinya sebagaimana adanya
tanpa prasangka apapun atau perenungan berdasarkan pengetahuan
sebelumnya. Apabila seseorang menggunakan perenungan, pengertian
ini tidak akan sesuai dengan apa yang benar-benar ada.

Untuk melihat hal-hal sebagaimana adanya, seseorang harus
melatih meditasi pandangan terang, sesuai dengan metode yang
dijelaskan dalam empat landasan perhatian penuh. Beberapa orang
berpikir bahwa praktek ini tidak biasa, aneh, atau bahkan sangat sulit,
namun bukan itu masalahnya.

Buddha mengetahui sifat sejati dari fenomena sebagaimana
adanya. Dengan melihat hal-hal sebagaimana adanya, Beliau
mencapai pembebasan dari keserakahan, kebencian dan kebodohan.
Dengan membebaskan diri sendiri dari kekotoran-kekotoran batin ini,
penderitaan juga lenyap.

Ajaran Buddha menunjukkan cara sejati atau praktek yang
benar, yang menuntun pada lenyapnya penderitaan. Saat menjelaskan
praktek meditasi empat landasan perhatian penuh, yang pada akhirnya
menuntun pada lenyapnya penderitaan, Buddha berkata bahwa
seseorang harus melihat hal-hal sebagaimana adanya.