Mengenyahkan Mara

Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Dengan tekad kuat, Petapa Gotama bersemadi di Hutan Uruwela demi mencapai Pencerahan Sempurna.

Mara, dewa perkasa yang ingin menguasai kehidupan, dengan sepuluh kekuatan jahatnya, berusaha menggagalkan usaha Petapa Gotama.

Kesepuluh kekuatan jahat Mara adalah keserakahan, kebencian, khayalan, kesombongan, kepercayaan salah, keraguan, kemalasan, kecemasan, tiada malu berbuat jahat, dan tiada takut berbuat jahat.

Pada saat Petapa Gotama selesai bersemadi pada pagi hari, Sujata, istri kepala kampung, memberi derma makanan dalam mangkuk emas. Setelah makan, Petapa Gotama melempar mangkuk emas itu ke Sungai Neranjara. Sambil melempar, Beliau berpikir, “Jika hari ini Aku bisa Tercerahkan Sempurna, biarlah mangkuk ini mengalir melawan arus!”

Ternyata, mangkuk itu benar-benar melaju melawan arus dan hilang di tengah sungai! Dengan keyakinan penuh, Petapa Gotama kembali bersemadi di bawah pohon Bodhi. Beliau bertekad tidak akan bangkit dari tempat duduk sebelum Tercerahkan Sempurna.

Setelah mengetahui tekad kuat Petapa Gotama, Mara tidak tinggal diam. Dengan pasukan besar yang berkekuatan gaib, Mara mengurung Petapa Gotama dari semua sisi. Mara sendiri mengeluarkan seribu Iengan yang masing-masing mengayunkan berbagai senjata. Dengan menunggangi gajah buas Girimekhala, Mara menyerang untuk menggoyahkan batin Petapa Gotama.

Mara mengubah hutan menjadi gelap gulita. Petir, topan, hujan es, serta hujan air panas dicurahkan untuk menakuti Petapa Gotama. Kemudian Mara mengembuskan angin kencang berbau busuk dan beracun. Langit dibelah, lalu muncullah wanita cantik untuk menggoda Petapa Gotama. Putri-putri Mara dikerahkan untuk mengolok-olok usaha Petapa Gotama dengan mengatakan bahwa usaha-Nya sia-sia saja. Mara juga menawarkan Petapa Gotama menjadi penguasa dunia jika Beliau menghentikan upaya-Nya untuk tercerahkan.

Namun, usaha Mara sia-sia belaka. Dengan keyakinan dan ketenangan luar biasa, Petapa Gotama meneruskan semadi-Nya. Akhirnya, dengan timbunan kebajikan-Nya, bakal Buddha ini menyentuh tanah dengan jari-Nya, memanggil bumi sebagai saksi atas kumpulan kebajikan-Nya. Bumi dan isinya berguncang. Melihat itu, Mara menjadi takut dan lari tunggang langgang bersama pasukannya.

 

Perjuangan Buddha mencapai pencerahan sungguh tak mudah, banyak halangan menghadang. Berkat keteguhan dan keteduhan Petapa Gotama menghadapi semua tantangan, Beliau pun akhirnya menjadi Buddha.

Dengan tekad yang kuat dan dijalankan tanpa lalai, suatu hari, kita pun bisa tercerahkan.

Setelah berjuang dengan berat hingga menjadi Buddha, Buddha juga masih mengajarkan Dhamma kepada kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan Buddha, kita harus belajar Dhamma dengan sungguh-sungguh.

 

Sumber: Buku cerita SADHU 8 Jayamanggala, Cetakan 1, Juni 2012