Mengubah Diri

Andi adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang sering merasakan kekhawatiran dan kegelisahan dalam keseharian hidupnya. Tidak jarang dia juga larut dalam kesedihan atas peristiwa-peristiwa yang sudah lama terjadi. Dalam keadaan batin yang seperti itu, dapatkah dia melakukan kuliahnya dengan baik? Damaikah pikirannya? Bahagiakah dirinya? Adakah jalan keluar baginya secara Buddhis?

Jawabannya tentu saja ada. Pertama, dia perlu melihat apa yang selama ini dianggap sebagai dirinya secara mendalam melalui lensa Empat Kesunyataan Mulia:

  • Ada duka/ketidakbahagiaan/ketidakpuasan
  • Duka tersebut ada sebabnya
  • Ada akhir duka
  • Ada jalan menuju akhir duka

Langkah ini mensyaratkan dirinya untuk setidaknya memiliki pengetahuan umum tentang Kesunyataan Mulia. Jika belum maka terlebih dahulu dia harus mendapatkan pengetahuan umum tersebut. Setelah itu, ia dapat menggunakannya sebagai lensa untuk melihat ke dalam apa yang selama ini dianggap sebagai dirinya. Layaknya Membedah ‘diri’ tersebut secara mendalam untuk lebih mengenalnya.

Ada yang mengatakan bahwa jika kita sudah tahu dengan jelas apa masalah yang sedang kita hadapi, maka sebagian dari masalah tersebut sudah diselesaikan.

Ajaran Buddha bukanlah pengetahuan teoritis melainkan paparan tentang apa yang telah Beliau lalui. Jika disarikan, ajaran Buddha berisikan Pandangan dan Metode tentang duka dan pembebasannya. Sebuah Jalan Pembebasan sudah terbukti membebaskan banyak orang yang telah menjalaninya sejak Buddha Gotama mengajarkannya, yakni Jalan Mulia Beruas Delapan. Untuk mempelajari dan mempraktekkannya diperlukan proses Mendengar, Merenung, dan Meditasi.

Mendengar dalam konteks adalah belajar. Belajar Pandangan dan Metode yang benar dari narasumber-narasumber, silsilah-silsilah, perguruan-perguruan Buddhis resmi yang diakui, dan dari orang-orang yang menjalani apa yang mereka ajarkan dan lebih bagus lagi, dari orang-orang sudah punya realisasi tertentu.

Setelah itu, pandangan-pandangan Buddhis yang telah dipelajari kemudian direnungkan secara mendalam dengan niat yang benar dan metode-metodenya dilatih agar muncul pengalaman dan kemudian pencapaian. Itulah proses yang perlu Andi lakukan jika ingin terbebas dari kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan dan berbagai macam bentuk perasaan, pemikiran dan kebiasaan negatif yang mendera dirinya.

Menganalisa diri dengan menggunakan metode meditasi analitis melibatkan pemikiran untuk melihat secara mendalam apa yang selama ini dianggapnya sebagai diri. Selain itu guna melihat secara mendalam apa yang selama ini menimbulkan kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan, dan sebagainya.

Di luar dari itu di dalam keseharian Andi dapat mencegah sebab-sebab penderitaan di kemudian hari dengan berusaha untuk senantiasa mendisiplinkan ucapan, tubuh, dan pikirannya. Andi juga dapat menciptakan sebab-sebab kebahagiaan dengan melakukan perbuatan baik melalui ucapan, tubuh, dan pikirannya. Tapi ini saja tidak cukup. Pikiran yang sering mengalami kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan, dan sebagainya, bukanlah batin yang damai. Manakala tidak ada kedamaian, di situ tidak akan ada kebahagiaan. Untuk betul-betul mengalami transformasi batin, kita mesti mengerti cara kerja batin. Untuk memahami cara kerja batin, yang dibutuhkan bukan saja mendapatkan pandangan benar tentang cara kerja batin, tapi juga metode untuk mengalami transformasi batin.

Metode meditasi Buddhis untuk mentransformasi batin ada dua macam yaitu latihan samatha atau memanunggalkan tubuh dan batin di sini dan sekarang secara berkesinambungan dari satu saat ke saat berikutnya secara terus menerus. Satunya lagi adalah vipassana atau melihat ke dalam batin untuk mengamatinya secara langsung tanpa melibatkan pemikiran agar muncul pemahaman sejati tentangnya. Biasanya yang dilatih adalah samatha dulu.

lanjut —>