Mengungguli Baka

Para dewa brahma hidup dalam waktu yang sangat lama. Dibandingkan usia hidup manusia, masa hidup brahma bagai hidup abadi. Meskipun kelihatan seperti kekal abadi, namun sebenarnya masa hidup mereka akan habis juga. Hal ini tidak dipercaya oleh Brahma Baka. Karena memiliki kekuatan adiduniawi yang sangat besar, para pengikutnya mengganggap Brahma Baka adalah pencipta yang abadi, sampai-sampai Brahma Baka sendiri memercayainya!

Suatu ketika, Buddha bersemadi di bawah pohon sala. Dalam semadi-Nya, Buddha membaca pandangan keliru Brahma Baka. Dengan kesaktian-Nya, Buddha menuju ke alam brahma untuk menyadarkan Brahma Baka.

Ketika bertemu Brahma Baka, Buddha meluruskan pandangannya yang salah yang menganggap bahwa kehidupan itu kekal. Lalu, Mara yang jahat, merasuki pikiran salah satu pengikut Brahma Baka dan mendukung kata-kata Brahma Baka mengenai kehidupan yang abadi. Namun, Mara tak mampu mengecoh Buddha. Seketika itu, Buddha menangkap basah perbuatan Mara. Buddha menghardik Mara yang selama ini telah memengaruhi Brahma Baka dan pengikutnya. Meski begitu, Brahma Baka tetap tidak percaya akan kata-kata Buddha mengenai ketidakkekalan hidup dan alamnya.

Brahma Baka merasa bahwa ia menguasai seluruh alam, padahal ia tidak mengenal alam-alam yang lebih tinggi daripada alam yang ditinggalinya, sedangkan Buddha mengenal segenap alam. Buddha juga menceritakan kehidupan lampau Brahma Baka. Kebajikan yang telah dilakukan Brahma Baka pada kehidupan lampaulah yang membuat Baka lahir lagi sebagai brahma. Karena usia Brahma Baka yang panjang, serta kekeliruannya mengenai kekekalan hidup, Brahma Baka lupa akan kehidupan lampaunya sehingga ia menganggap hanya ada satu kali kehidupan saja, di alam brahma.

Karena merasa menguasai seluruh alam, Brahma Baka menantang Buddha dalam adu kesaktian. Brahma Baka akan menghilang dan Buddha harus dapat menemukannya, dan sebaliknya. Setelah Brahma Baka menghilang, Buddha dengan mudah menemukan Brahma Baka. Namun, ketika Buddha menghilang, Brahma Baka tak mampu menemukan Buddha. Ternyata, Brahma Baka tidak mengenal semua alam. Dari tempat-Nya menghilang, Buddha membabarkan Dhamma ke seluruh penghuni alam brahma tersebut. Brahma Baka dan para brahma di sana terpukau mendengarnya. Setelah Buddha muncul kembali, Brahma Baka dan para brahma lainnya bersujud di hadapan Buddha dengan penuh hormat.

 

Kesombongan akan mengelabui kita, sehingga yang salah kita anggap sebagai benar. Kita tidak boleh seperti Brahma Baka yang menganggap diri sendiri paling benar, karena bisa saja kita salah. Karena itu, kita harus banyak belajar dan membuka diri terhadap apa pun sehingga wawasan kita bertambah luas. Untuk menyadarkan Brahma Baka, Buddha mengerahkan kesaktian-Nya sehingga Baka mengaku salah dan mau belajar dari kesalahannya.

 

Sumber: Buku cerita SADHU 8 Jayamanggala, Cetakan 1, Juni 2012