Menjadi SDM yang Berkarakter

Situasi dan kondisi bangsa ini semakin hari semakin tidak menentu. Banyak kaum intelek di negeri ini tapi moralitas malah merosot. Ada berbagai pendapat yang mengatakan bahwa tepuruknya bangsa ini gara-gara salahnya sistem pendidikan. Dalam kondisi seperti ini tidak selayaknya kita saling menyalahkan, namun yang terpenting adalah bagaimana mencari solusi agar pernbangunan Sumber Daya Manusia sesuai dengan harapan kita.

Pendidikan pertama kali kita dapatkan dari orang tua. Orang tua adalah guru pertama sehingga jangan sekali-kali memberikan contoh yang tidak baik bagi anak. Orang tua harus mernberikan contoh-contoh yang riil kepada si anak dalam hal etika, moral, agama, dan juga memberikan pengetahuan serta ketrampllan yang cukup bagi si anak. Orang tua harus dapat memahami karakter yang ada pada si anak dan potensl apa yang dapat dikembangkan. Jangan memaksakan kehendak pada anak karena hal tersebut dapat membuat anak tertekan dan mempengaruhinya mentalnya.

Di samping mendapatkan pendidikan di rumah, pendidikan juga bisa diperoleh di sekolah. Di sekolah kita akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang berharga yang merupakan bekal berguna untuk membangun peradaban bangsa ini. Tanpa adanya pengetahuan sulit menjadi bangsa yang maju.

Akan tetapi, kita juga harus memberi perhatian pada jenis pendidikan apa yang diberikan. Lihat saat ini. Pendidikan intelektual memang penting namun banyak bangsa yang mengalami kehancuran karena hanya mementingkan pendidikan intelektual dan mengabaikan pendidikan etika dan nilai-nilai agama. Dalam menyikapi hal ini tentunya harus ada keseimbangan antara pendidikan intelektual dan mental.

Menjadi SDM yang Berkarakter
Menjadi SDM yang Berkarakter

Pendidikan Buddhis

Pendidikan merupakan proses pendidikan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran atau latihan. Dalam agama Buddha, pendidikan adalah usaha terus menerus dalam latihan untuk mendapatkan pengetahuan benar, sehingga ada perubahan sikap dan pola pikir yang mengarah kepada kebenaran.

Secara singkat pendidikan Buddhis menyangkut tiga komponen pokok, yaitu penguasaan pengetahuan secara komprehensif (pariyatti), mempraktekkan apa yang telah dipelajari dan menjadikannya sebagai pedoman untuk tingkah laku sehari-hari (patipatti) dan pada akhirnya penguasaan pencapaian dari kebenaran (pativedha).

Sistem tersebut di atas sangat bagus dan sistematis, jika sistem ini diterapkan dengan benar maka akan menghasIlkan manusia-manusia yang berkualitas. Pendidikan Buddhis benar-benar mengarahkan kepada perwujudan kepribadian yang positif, bukan hanya mampu dalam hal pengetahuan, sains, dan teknologi tetapi juga mempunyai perilaku yang sesuai dengan etika dan agama serta mampu menghadapi fenomena kehidupan dengan tegar.

Dalam Mavgala Sutta ada syair yang berbunyi: “Memiliki pengetahuan dan ketrampilan, terlatih baik dalam tata susila adalah berkah utama”. Dari syair tersebut jelas bahwa dalam agama Buddha, pendidikan sangat dijunjung tinggi dan pendidikan Buddhis lebih diarahkan pada pendidikan intelektual dan spiritual. Pengetahuan dan ketrampilan sangat diperlukan dalarn menata kehidupan ini tetapi akan rnenjadi berbahaya jika tidak dibarengi dengan pendidikan spiritual karena akan menghasilkan orang-orang yang pintar tetapi tidak mempunyai moral yang akhirnya akan menghancurkan tatanan kehidupan ini.

Untuk mencapai target dalam pendidikan Buddhis, maka ada tiga aspek yang harus dikembangkan, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut pandangan Buddhis setiap individu memiliki kemampuan kognitif (vijja), afektif (carana) dan psikomotor (kosala). Tentunya pengembangan tiga aspek ini harus dilakukan secara bersamaan sehingga nantlnya akan ada keseimbangan.

1. Aspek kognitif (vijja)

Seperti yang Sang Buddha sabdakan dalam Manggala Sutta bahwa memiliki pengetahuan adalah berkah utama. Tanpa pengetahuan dapat diibaratkan orang yang tersesat di hutan tak tahu kemana harus melangkahkan kaki. Sebaliknya, jika kita memiliki pengetahuan, maka ada arah yang jelas untuk melangkah dan jalan keluar akan kita dapatkan. Sang Buddha tentu saja menganjurkan agar setiap orang menjadi orang terpelajar, terutama dalam hal moral, intelektual dan terutama pendidikan spiritual. Kebodohan (moha) dan ketidaktahuan (avijja) merupakan akar dari semua kejahatan. Senjata yang paling ampuh untuk mengatasinya adalah dengan memiliki pengetahuan yang benar.

Untuk mendapatkan pengetahuan dapat ditempuh dengan tiga cara, yaitu: dengan cara belajar, membaca, mendengar (suta maya pabba), dengan cara merenung, merefleksikan suatu yang telah dipelajari (cinta maya pabba), dan dengan jalan meditasi (bhavana maya pabba). Dengan adanya pengetahuan maka kita tidak menjadi orang bodoh yang mudah diperdaya oleh nafsu keinginan kita.

2. Aspek Afektif

Untuk membangun masyarakat yang beradab di mana ketentraman dan keharmonisan dapat dirasakan diperlukan prilaku yang baik setiap individu. Seseorang yang memiliki kebajikan moral akan merasakan ketentramam, kedamaian dan kebahagiaan dan juga akan dirasakan oleh lingkungan sekitar seperti yang Sang Buddha sabdakan dalam Theragatha 612; “Kebajikan moral adalah sebagai dasar, pendahulu dan pembentuk dari semua yang baik dan indah. Oleh karena itu, hendaklah orang menyempurnakan kebaikan moral”.

3. Aspek Psikomotor

Dalam Kitab Tipitaka kita dapat menjumpai kata “aya kosalla” (keahlian untuk mengumpulkan uang), “upaya kosalla” (keahlian dalam berusaha), “manasikara kossalla- (keahlian dalam hal tujuh faktor pencerahan sempurna). Secara umum kata “kosalla” merujuk pada aktivitas intelektual dan perbuatan yang berkenaan dengan Dhamma. Dalam hal ini pendidikan dalam aspek psikomotor diarahkan untuk usaha pengembangan batin dengan mempraktekkan jalan menuju pencerahan. Pengembangan aspek psikomotor sangat penting untuk membentuk manusia yang bijak dan memahami hakikat kehidupan ini. Dengan demikian seseorang akan mampu menghadapi proses kehidupan ini secara wajar dan bijak. Sangat sulit memiliki kondisi batin yang seperti itu, oleh karena itu kita terus berusaha meraihnya.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi 2 / Maret 2014