Menjelajahi Hutan Belantara

Menjelajahi Hutan Belantara

Buddha menyebutkan bahwa lima elemen ini: badan jasmani, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk mental, dan pengukuhan merupakan hutan belantara. Meditasi menyediakan bagi kita untuk menjelajahi hutan belantara ini, meditasi seperti kompas ketika kita tersesat, meditasi seperti cahaya penunjuk jalan dalam kegelapan, meditasi seperti rambu-rambu lalu lintas bagi pengembara, petualang, dan para praktisi spiritual.

Kehidupan ini seolah-olah sangat membosankan ketika seseorang tidak melihat jalan yang membentang lebar di depannya, ketika seseorang tidak melihat bahwa hutan belantara ini mengandung begitu banyak hal-hal yang menarik, ketika seseorang tidak melihat bahwa banyak pemandangan indah, ada berbagai jenis binatang dari yang jinak hingga buas, dari yang kecil hingga besar; sementara kita terjebak pada sebidang kecil lumpur yang sangat kotor itu.

Meditasi membantu kita untuk melihat sisi Iain dari hutan belantara pikiran, melihat dengan mata nondiskriminasi bahwa hutan belantara ini mengandung berbagai aspek, ada lega, relaksasi, nyaman, sukacita, pikiran positif, cinta kasih, kesabaran, kearifan, namun juga ada aspek khawatir, tegang, gelisah, galau, pikiran negatif, kebencian, tidak sabar, dan kekonyolan,  dan sebagainya.

Mengembara dalam hutan belantara badan jasmani, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk mental, dan pengukuhan seperti sedang membuka pintu-pintu untuk mengerti lebih dalam tentang kehidupan, kearifan tentang kehidupan lahir dari melihat ke dalam diri sendiri, mengerti tentang hutan belantara diri, bukan sibuk menunjuk atau menuding orang lain. Dalam Zen disebutkan “One in All and All in One” (Satu mengandung semua dan semua terkandung dalam satu). Ketahuilah bahwa melihat ke dalam diri sendiri ternyata berarti kita sedang melihat dunia ini. Bukalah pintu ini agar ada pintu selanjutnya bisa terbuka. Inilah hutan belantara yang perlu kita jelajahi dalam seluruh kehidupan.

Sebagaimana Zen Master Dogen menyatakan bahwa belajar Dharma merupakan cara untuk mencari tahu dan mengerti diri sendiri. Setelah mengerti diri sendiri maka lahirlan pengertian konkrit bahwa “Aku” tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan dari elemen lain, ketika kita sudah tidak punya “Aku” lagi, maka, apa pun yang kita lihat, dengar, kecap, raba akan menjadi wahana menuju pengertian tanpa diskriminasi.

Wahai para sahabat, selamat bereksplorasi dengan bantuan kompas kehidupan, cahaya kehidupan yakni meditasi sadar penuh dan mawas diri, janganlah engkau tersesat di dunia hektik, dunia media, dunia serba teknologi mutakhir, dunia hedonisme, dunia konsumerisme, dan dunia yang serba connect sementara Anda disconnect dengan orang yang persis ada di depanmu.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi 3 / Oktober 2014