Menjinakkan Nalagiri

Dewadatta, sepupu Buddha, berambisi mendapatkan ketenaran dan perhatian orang banyak. Karena itu, Dewadatta sangat iri kepada Buddha yang menjadi junjungan manusia dan para dewa. Saking irinya, Dewadatta berencana membunuh Buddha!

Dewadatta menyusun berbagai rencana jahat. Salah satunya dengan melakukan pembunuhan berantai. Dewadatta menyewa satu pembunuh bayaran untuk membunuh Buddha, kemudian pembunuh ini akan dibunuh oleh dua orang pembunuh lainnya, selanjutnya dua pembunuh ini juga akan dibunuh empat orang pembunuh Iain, dan seterusnya, dengan tujuan untuk menghilangkan bukti.

Namun, rencana keji ini gagal karena ketika si pembunuh bertemu dan hendak membunuh Buddha, pembunuh ini berubah dan menjadi baik, begitu pula pembunuh-pembunuh berikutnya yang hendak membunuh pembunuh pertama.

Karena kegagalan rencana pertama, Dewadatta berniat membunuh Buddha dengan tangannya sendiri. Ia menggulingkan sebongkah batu besar untuk menimpa Buddha. Rencana ini juga gagal.

Akhirnya, Dewadatta menggunakan rencana terakhirnya, melepas gajah buas kerajaan bernama Nalagiri. Nalagiri adalah gajah yang kuat, dan jika Nalagiri mabuk, dia akan menyerang siapa saja!

Dewadatta sengaja membuat Nalagiri mabuk dengan memberinya minum seguci minuman keras. Kemudian, Dewadatta melepaskan Nalagiri saat Buddha bersama para bhikkhu sedang menerima derma makanan.

Ketika melihat Buddha, Nalagiri menyerang Buddha dengan ganas. Para bhikkhu memperingatkan Buddha agar Buddha menyingkir. Bhikkhu Ananda maju ke depan Buddha untuk melindungi-Nya. Namun, Buddha sama sekali tidak takut dan meminta para bhikkhu untuk tetap tenang. Tidak ada yang mampu membunuh seorang Buddha. Para Buddha wafat secara alami dan tidak dapat dibunuh. Dengan kesaktian-Nya, Buddha menggeser Bhikkhu Ananda ke tempat yang aman.

Melihat Nalagiri yang buas, Buddha dengan tenang memancarkan cinta kasih kepada Nalagiri. Semakin dekat, Nalagiri semakin tunduk oleh kekuatan cinta kasih Buddha. Ketika Nalagiri sampai ke depan Buddha, Nalagiri menjadi jinak dan sadar kembali. Buddha mengelus kepala Nalagiri dengan penuh cinta kasih.

Setelah tersadarkan, Nalagiri mengisap debu di kaki Buddha, kemudian menaburkan debu itu di tubuhnya sendiri dengan penuh rasa hormat. Begitulah besarnya cinta kasih Buddha.

Ketika mabuk, kita kehilangan kesadaran dan kendali diri, sehingga mudah melakukan hal-hal yang tak baik. Seperti yang terjadi pada Nalagiri. Nalagiri juga tidak sadar bahwa ia akan mencelakai seorang Buddha. Untuk menjinakkan Nalagiri, Buddha memancarkan kekuatan cinta kasih yang besar sehingga Nalagiri yang mabuk pun sadar kembali. Cinta kasih Buddha tidak pilih kasih, Buddha mencintai semua makhluk sekalipun makhluk itu hendak membunuh Buddha.

 

Sumber: Buku cerita SADHU 8 Jayamanggala, Cetakan 1, Juni 2012