Menundukkan Nandopananda

Suatu ketika, Anathapindhika, seorang hartawan dari Sawatthi mengundang Buddha dan para bhikkhu untuk menerima derma makanan di rumahnya esok pagi.

Ketika fajar esok harinya, seperti biasa, Buddha memeriksa seluruh alam untuk melihat siapa yang bisa ditolong-Nya. Dalam pandangannya, Buddha melihat Nandopananda.

Nandopananda adalah sejenis makhluk dewa rendah yang berkekuatan gaib. Makhluk ini disebut naga. Naga mampu berubah wujud sesuka mereka, namun wujud aslinya adalah seperti hewan melata. Nandopananda adalah raja naga yang kuat, namun sombong. Nandopananda tidak memercayai Dhamma dan memandang rendah orang suci.

Buddha melihat bahwa Nandopananda punya kesempatan untuk mencapai kesucian. Buddha lalu mengajak lima ratus siswa Araha-Nya terbang ke alam surga melewati istana Nandopananda. Nandopananda yang sedang berpesta merasa tersinggung melihat arak-arakan Buddha dan para bhikkhu di atas istananya. Lalu, Nandopananda melesat ke Gunung Sineru, mengubah dirinya menjadi besar dan meliliti gunung itu sebanyak tujuh lilitan. Dengan tudung kepalanya yang besar, ia menutupi langit hingga jadi gelap gulita.

Buddha mengutus Bhikkhu Maha Moggallana yang kesaktiannya berada di urutan kedua setelah Buddha, untuk menundukkan Nandopananda. Bhikkhu Maha Moggallana berubah menjadi naga yang jauh lebih besar dan meliliti Nandopananda sebanyak empat belas lilitan. Nandopananda membalas dengan menyemburkan asap dan api, namun asap dan api yang dikeluarkan Bhikkhu Maha Moggallana jauh lebih besar!

Kemudian, Bhikkhu Maha Moggallana berubah menjadi wujud manusia kembali, terbang masuk dan berjalan-jalan di dalam tubuh Nandopananda. Nandopananda berencana untuk mematikan Bhikkhu Maha Moggallana ketika beliau keluar dari tubuhnya. Ketika Bhikkhu Maha Moggallana keluar, Nandopananda langsung menyemburkan api padanya. Namun api itu tidak sedikit pun melukai Bhikkhu Maha Moggallana. Akhirnya, Bhikkhu Maha Moggallana berubah jadi garuda, musuh abadi para naga. Melihat garuda itu, Nandopananda ketakutan. Nandopananda pun menyerah dan mengubah wujudnya menjadi pria muda.

Setelah itu, Nandopananda sadar dan menyatakan pergi berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sanggha. Buddha memberkati Nandopananda. Setelah itu, Buddha dan para bhikkhu melanjutkan perjalanan tertundanya ke rumah Anathapindhika untuk menerima derma makanan.

Untuk menundukkan Nandopananda yang sombong, Buddha mengutus Bhikkhu Maha Moggallana yang paling unggul dalam kesaktian. Kita harus seperti Bhikkhu Maha Moggallana yang melaksanakan tugas dari Buddha dengan sungguh-sungguh. Namun, kita harus bisa mengukur kemampuan sendiri, jangan sampai kemampuan kita tidak sesuai dengan tugas yang diberikan. Jika kita mampu, kita harus berani melakukannya seperti Bhikkhu Maha Moggallana.

 

Sumber: Buku cerita SADHU 8 Jayamanggala, Cetakan 1, Juni 2012