Metode Meditasi

Y.M. Bhikkhu Thanavaro Maha Thera, B.A., M.Ed.

– Ketua 1 SAGIN

– Kepala Vihara Sakyamuni Buddha – ITBC Cemara Asri


Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa

Agar seseorang  mampu menya­dari segala bentuk perilaku badan dan ucapannya, maka hendaknya se­seo­rang melaksanakan meditasi. Latihan meditasi ini menjadi sangat penting karena seseorang dikondisikan untuk tidak hanya terkendali perbuatan ba­dan dan ucapannya saja, melainkan juga perbuatan melalui pikiran. Mere­ka yang memiliki perilaku badan dan ucapan yang baik belum tentu mem­punyai pikiran yang baik. Namun, se­seorang yang telah memiliki pikiran baik, tentu perilaku badan dan ucap­annya akan baik pula.

Metode meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Kanon Pali terdiri dari dua sistem besar. Pertama adalah pengembangan ketenangan (samatha), yang bertujuan pada kon­sentrasi (samadhi); yang kedua ada­lah pengembangan pandangan terang (vipassana), yang bertujuan pada pe­mahaman atau kebijaksanaan. Dalam sistem latihan pikiran dari Sang Buddha, peran ketenangan berada di ba­wah pandangan terang karena pan­dangan terang adalah instrumen pen­ting yang diperlukan untuk mencabut ketidaktahuan dari dasar keterikatan samsara. Pencapaian itu menjadi mungkin melalui meditasi ketena­ngan yang dikenal oleh para petapa India jauh sebelum munculnya Sang Buddha. Sang Buddha sendiri me­ngu­asai dua tingkat tertinggi di bawah guru-guru awalNya tetapi menemu­kan bahwa, pencapaian-pencapaian itu hanya mengarah pada kelahiran kembali di alam yang lebih tinggi, bu­kan pada pencerahan yang sebenar­nya . Akan tetapi, karena keterpusatan pikiran yang dihasilkan oleh praktik konsentrasi berperan bagi pemaha­man jernih, maka Sang Buddha me­masukkan teknik meditasi ketena­ngan dan tingkat-tingkat penyerapan yang dihasilkan ke dalam sistemNya sendiri, memperlakukannya sebagai suatu landasan dan persiapan bagi pandangan terang dan sebagai suatu “kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.”

Pencapaian-pencapaian yang di­capai melalui praktik meditasi kete­nangan adalah delapan penyerapan – empat jhana dan empat keadaan tanpa materi, masing-masingnya berfungsi sebagai landasan bagi yang berikut­nya. Di antara topik-topik meditasi yang dijelaskan dalam sutta-sutta, delapan dari sepuluh kasina diketahui sebagai yang sesuai untuk mencapai se­luruh empat jhana, dua yang ter­akhir masing-masing menjadi pen­dukung bagi dua pencapaian pertama tanpa materi. Delapan landasan tran­senden tampaknya adalah perlakuan meditasi yang lebih halus pada kasina warna, sebagai yang tiga pertama dari delapan kebebasan. Perhatian pada per­nafasan, yang mana Sang Buddha menjelaskan dalam keseluruhan satu sutta, memberikan suatu subjek me­ditasi yang selalu tersedia yang dapat digunakan untuk mencapai seluruh empat jhana  dan juga digunakan un­tuk mengembangkan pandangan te­rang. Metode lain untuk mencapai jhana-jhana yang disebutkan dalam sutta-sutta adalah empat kediaman brahma (brahmavihara) – cinta kasih tanpa batas, belas kasih tanpa batas, kegembiraan altruistik tanpa batas (yaitu kegembiraan atas keberhasilan orang lain), dan keseimbangan tanpa batas. Tiga yang pertama mampu mengarah pada tiga jhana  yang lebih rendah, yang terakhir mengarah pada jhana  ke empat. Pencapaian-penca­paian tanpa materi dicapai dengan memusatkan pikiran pada objek spesifik dari masing- masing pen­capaian – ruang tanpa batas, kesa­daran tanpa batas, kekosongan, dan keadaan yang hanya dapat dijelaskan sebagai bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

Sementara dalam meditasi kete­nangan, meditator berusaha untuk fokus pada satu objek tunggal yang dirangkum dari pengalaman aktual, dalam meditasi pandangan terang usaha harus dilakukan untuk merenungkan, dari posisi observasi yang terlepas, arus pengalaman yang senantiasa berubah untuk menembus sifat sesungguhnya dari fenomena jasmani dan batin. Tugas meditasi pandangan terang adalah untuk memutuskan kemelekatan kita dengan memungkinkan kita menem­bus jaring konseptual ini untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.

Untuk melihat segala sesuatu seba­gaimana adanya berarti melihatnya dalam ketiga karakteristik – sebagai tidak kekal, sebagai menyakitkan atau penderitaan, dan sebagai tanpa-diri. Karena ketiga karakteristik ini berhubungan erat, masing- masing­nya dapat digunakan sebagai pintu gerbang utama untuk memasuki wila­yah pandangan terang, tetapi pende­katan yang diajarkan oleh Sang Buddha biasanya adalah menunjuk­kan ketiganya sekaligus, ketidak-kekalan menyiratkan penderitaan dan kedua­nya bersama-sama menyiratkan ketiadaan diri. Ketika sang siswa mulia melihat seluruh faktor-faktor itu ditandai dengan ketiga corak ini, maka ia tidak lagi mengidentifi­kasikan sebagai itu, tidak lagi meng­anggapnya sebagai milikku, aku, atau diri. Dengan melihat demikian, ia menjadi jenuh dengan segala ben­tukan. Ketika ia menjadi jenuh, maka nafsu dan ke­melekatannya memudar dan pikir­annya terbebaskan dari noda-noda.

Ajaran tunggal yang paling pent­ing tentang praktik yang mengarah pada pandangan terang adalah Sati­patthana Sutta yang juga terdapat dalam Digha Nikaya  yang diperkuat dengan bagian tentang Empat Ke­benaran Mulia. Sutta ini memba­barkan suatu sistem komprehensif yang disebut Satipatthana  yang dira­ncang untuk melatih pikiran untuk melihat dengan presisi mikro­skopis pada sifat jasmani, perasaan, kondisi pikiran, dan objek-objek pikiran. Sistem ini kadang- kadang dianggap sebagai paradigma praktik “panda­ngan terang murni”.

Metode Meditasi
Metode Meditasi

Dalam beberapa sutta Sang Buddha menggunakan kelima kelompok unsur kehidupan sebagai kerangka dasar bagi perenungan pandangan ter­ang, dalam sutta-sutta lain Sang Buddha menggunakan enam landa­san indria, kemudian beberapa sutta lain, keduanya digabungkan.

Oleh karenanya dengan berme­ditasi, seseorang akan dikondisikan untuk hidup pada saat ini dan men­jadikan masa lalu sebagai pelajaran, ma­sa depan sebagai pendorong sema­ngat untuk berjuang pada saat ini. Masa lalu hanyalah tinggal kenangan, masa depan masih berupa impian, ma­sa sekarang adalah kenyataan. Kesadaran pada kenyataan hidup saat ini akan melenyapkan kemelekatan. Ia akan sadar bahwa kematian dapat terjadi setiap saat. Oleh karena itu, dalam dirinya akan timbul semangat untuk selalu mengisi kehidupan ini semaksimal mungkin. Tahap pengha­yatan Dhamma seperti ini akan mem­berikan ketenangan batin baginya. Ia selalu menghadapi berbagai gejolak kehidupan dengan batin yang tenang dan seimbang. Ia bahkan setelah menyadari bahwa hidup adalah saat ini, ia akan selalu manfaatkan waktu hidupnya untuk mengembangkan ke­bajikan sebanyak-banyaknya melalui ucapan, perbuatan dan juga pikiran. Kemanapun ia berada, ia selalu berusaha mengisi kehidupan dengan kebaikan dan kebahagiaan.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.