Mettā (Cinta Kasih)

Salah satu hal yang mudah dikatakan tetapi sulit dipraktikkan adalah ’Cinta Kasih’.  Sesungguhnya, cinta kasih bukan hanya sekadar kata-kata. Ketika seorang suami mengatakan cinta kepada istrinya, maka hal itu kita katakan sebagai cinta kasih. Sesungguhnya bukan demikian. Memang, kata-kata cinta seperti itu akan membawa kebahagiaan bagi istrinya, tetapi apabila tidak disertai dengan tingkah laku yang baik, maka kata cinta tersebut bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya, yaitu kata-kata kosong yang tidak ada maknanya. Cinta kasih yang diajarkan oleh Sang Buddha sesungguhnya sangat mulia. Mengapa? Karena cinta kasih yang diajarkan bukan hanya kepada orang-orang terdekat kita, seperti orangtua, saudara, ataupun sahabat, tetapi cinta kasih kepada semua makhluk di alam semesta (Cinta Kasih Universal).

Dijelaskan dalam Mettā Sutta, Khuddakapāñha, Khuddaka Nikāya yaitu bahwa: “Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke  atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.“ Apabila cinta kasihnya terhadap semua makhluk, maka cinta kasih yang kita pancarkan seyogyanya dipancarkan kepada makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan, bukan hanya alam manusia dan binatang saja.

Untuk mempraktikkan cinta kasih, perlu sekali dimengerti apa manfaat dari melaksanakan cinta kasih. Apabila tidak mengerti, maka hal ini bagaikan seseorang yang menyeberangi lautan luas tanpa ada tujuan yang jelas, maka ketika berada di tengah laut, orang tersebut kebingungan ‘mau ke mana dia akan berlayar?’. Demikian juga, cinta kasih yang dikembangkan seseorang sesungguhnya mempunyai manfaat yang sangat besar. Hal ini disebutkan dalam Dhammapada XV:1, yaitu “Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci, di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci.’” Orang yang tidak membenci, secara otomatis orang tersebut diliputi dengan cinta kasih. Pahala yang diperoleh adalah kebahagiaan. Kita bahagia ketika memiliki cinta kasih di antara orang-orang yang membenci kita, apalagi kalau di sekitar kita merupakan orang-orang yang juga memiliki cinta kasih, maka kebahagiaan kita tidak akan terbatas.

Berkah dari cinta kasih juga dijelaskan oleh Sang Buddha, seperti yang terdapat dalam Mettā Sutta, Ekādasakanipāta, Anguttara Nikāya, yang menyatakan: “Jika, O para bhikkhu, pembebasan pikiran dengan cinta kasih dikembangkan dan ditumbuhkan, sering dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan seseorang, ditegakkan dengan mantap, disatukan, dan dijalankan dengan tepat, maka sebelas berkah bisa diharapkan.

Apakah sebelas berkah itu? Dia tidur dengan tenang; Dia tidak bermimpi buruk; Dia dicintai oleh manusia, Dia dicintai oleh makhluk bukan manusia; Dia akan dilindungi oleh para dewa; Api, racun, dan senjata tidak bisa melukainya; Pikirannya mudah terkonsentrasi; Kulit wajahnya jernih; Dia akan meninggal dengan tidak bingung; dan Jika tidak menembus lebih tinggi, Dia akan terlahir kembali di alam Brahmā. Sungguh besar berkah, pahala, dan manfaat dari melaksanakan cinta kasih.

Cinta kasih seharusnya dikembangkan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Cinta kasih tidak akan sempurna apabila hanya dilakukan dengan pikiran saja. Cinta kasih tidak akan sempurna apabila hanya dilakukan dengan perbuatan. Cinta kasih tidak akan sempurna apabila hanya dilakukan dengan ucapan. Ketiga hal tersebut, merupakan suatu pedoman untuk mengembangkan cinta kasih kita kepada orang-orang di sekitar kita, dan juga kepada semua makhluk.

Memang, mengembangkan cinta kasih tidaklah gampang. Misalnya saat kita ingin mengembangkan cinta kasih kepada musuh kita. Yang sering terjadi adalah kita malah diejek, bahkan dipermainkannya, atau saat kita ingin mengembangkan cinta kasih kepada seekor anjing, kita malah digigitnya. Pada kondisi-kondisi demikian, kita sering kali terjebak dalam emosi. Dan akhirnya niat kita yang pada awalnya baik berubah menjadi kemarahan, kebencian dan emosi negatif lainnya. Kita pun akhrnya lupa pada cinta kasih itu. Lalu, bagaimana cara kita mengembangkan cinta kasih?

Salah satu caranya adalah kita perlu memahami hakikat bahwa pada dasarnya motif seseorang/mahluk dalam bertindak adalah dia ingin bahagia. Semua mahluk pada dasarnya ingin bahagia. Bahkan seekor semut pun sama dengan kita, dia juga ingin bahagia. Saat kita menghadapi musuh kita, mungkin musuh kita berusaha untuk melukai kita. Namun, ingat lah bahwa dia melakukan itu semua semata-mata hanya agar dirinya bahagia. Setelah mengerti hal ini, kita tidak terjabak lagi dalam emosi kebencian, sehingga kita bisa berpikir lebih jernih. Yang perlu kita pikirkan adalah kenapa dia membenci ku? Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak membenci ku lagi? Dengan berpikir demikian, kita sudah memancarkan cinta kasih yang luar biasa.

Kita bisa menerapkan cinta kasih ini ke semua mahluk di sekitar kita, kepada teman kita,  kepada saingan kita, kepada anjing galak, kepada pencuri, dan kepada semua mahluk, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

 

Sumber: Majalah BVD No. 122 Januari 2009