Murid yang Menolong Semut

Sebagai seorang umat Buddhis, kita diajarkan untuk tidak membunuh makhluk hidup, apa pun makhluk hidupnya. Tetapi terkadang, kita secara sadar maupun tak sadar membunuh makhluk hidup hampir setiap hari, entah itu membunuh semut yang mengerumuni kue kita, membunuh tikus yang mengganggu rumah, membunuh nyamuk, dan sebagainya. Setelah membunuh pun jarang sekali timbul perasaan bersalah. ‘Toh cuma binatang kecil, tidak akan berdampak besar terhadap karma saya’, begitulah sebagian besar orang akan berpikir.

Memang, karma buruk membunuh binatang kecil seperti nyamuk dan semut tidak akan sebesar karma buruk yang akan kita dapatkan jika kita membunuh binatang yang lebih besar, misalnya sapi atau kerbau. Tetapi itu tidak berarti bahwa karma buruk kita membunuh binatang kecil tersebut tidak akan berpengaruh kepada masa depan kita. Ada sebuah kisah yang dapat menggambarkan hal ini.

Guru Hui-gan yang memiliki kekuatan supranatural (Divyacakshu / dibbacakkhu) merasa sedih sekali pada suatu hari karena mengetahui bahwa muridnya, Li-chang yang baru berusia 19 tahun harus meninggal satu bulan lagi karena karma buruk masa lalu yang dibuatnya. Beliau tidak menceritakan hasil penglihatannya tersebut agar tidak membuat Li-chang bersedih, melainkan menasihatkan muridnya untuk pulang kerumah orang-tuanya, berkumpul selama 40 hari dengan alasan sudah lama sekali tidak menjenguk orang-tuanya. Dengan demikian diharapkan, Li-chang dapat menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama orang-tuanya.

Li-chang menuruti dan melakukan perjalanan menembus hutan yang memakan waktu cukup lama juga. Di tengah perjalanan, Li-chang menemukan koloni (berjumlah jutaan) semut terperangkap dalam genangan air dan berada di tengah-tengah batu yang dikelilingi oleh air banjir. Li-chang dengan sigap dan spontan mencari dahan kayu yang banyak dan dibuatkan sebagai jembatan, sehingga seluruh semut berikut telur-telur semut yang belum menetas dapat diseberangkan ke tempat yang kering oleh para semut pekerja. Sesudahnya, dia melanjutkan perjalanan lagi pulang ke rumah orang-tuanya.

Setelah melewati masa 40 hari sebagaimana izin yang diperolehnya dari gurunya, Li-chang kemudian muncul di hadapan gurunya yang terkejut melihat kedatangannya tanpa kekurangan apa pun. Guru Hui-gan mencoba melihat kembali dengan kekuatan batinnya dan mendapatkan bahwa muridnya akan hidup sampai umur 91 tahun. Guru Hui-gan menanyakan apa yang telah di lakukannya selama perjalanan. Li-chang hanya bisa menjawab tidak melakukan apa-apa. Guru Hui-gan mencoba melihat perjalanan muridnya ini, dan kemudian menjadi maklum bahwa muridnya telah menolong jutaan makhluk hidup dengan tulus dan penuh kasih sayang, yang mana secara tidak langsung telah memperpanjang usianya. Guru Hui-gan berucap terima kasih kepada Bodhisattva.

Cerita tersebut menggambarkan bahwa ternyata kehidupan sekecil itupun dapat berdampak sangat besar pada hidup seseorang. Li-chang yang telah seharusnya berumur pendek karena karma masa lalunya yang buruk, ternyata dapat berumur panjang karena ia menolong kehidupan kecil yang terkadang bahkan diabaikan orang. Jika pada waktu itu, dia tidak memiliki kepekaan untuk menolong para semut itu, mungkin takdirnya akan terjadi sesuai dengan apa yang telah dilihat oleh gurunya.

Perbuatan menghargai makhluk hidup sekecil apa pun akan menghasilkan buah karma yang baik, bukan karena kebaikan makhluk itu untuk membalas kita, tetapi karena kebaikan hati nurani kita sendiri yang sanggup menimbulkan kasih yang setulusnya. Dengan perbuatan baik kecil yang kita lakukan, kita pun mungkin dapat mengubah masa depan kita, seperti yang telah terjadi pada Li-chang.

Melalui cerita ini, kita juga dapat menarik pelajaran bahwa ternyata masa depan bisa diubah, dengan karma-karma yang kita lakukan sekarang. Orang yang divonis berumur pendek, dapat berumur panjang dengan melakukan karma-karma baik. Begitu pula dengan orang yang dianggap berumur panjang, dapat menjadi berumur pendek karena berbuat karma-karma buruk. Jadi, mulai sekarang, perhatikanlah kehidupan kecil di sekeliling kita yang biasanya tidak kita perhatikan. Mulailah mengasah hati kita untuk lebih peka. Dengan demikian, mungkin kita pun bisa mengubah masa depan kita menjadi lebih baik.

 

Sumber : Majalah BVD No. 127, Juni 2009