Seri Tokoh Buddhis #11 – Nalakuvara (Ne Zha)

Dalam novel mitologi Fengshen Yanyi (Kisah Penganugerahan Dewa) terdapat tokoh seorang bocah perkasa bersenjata tombak dengan sepasang roda besi ajaib. Saat terbang, roda api muncul dari kakinya. Dialah Nezha, pangeran ke-3 dari Rajadewa Tuota (Pembawa Pagoda).

Nezha (ada juga yang menyebutnya Nazha), berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun enam bulan. Dia lahir dalam wujud sebuah gumpalan bola daging. Hal ini mengejutkan sanak keluarganya. Ayahnya – Jenderal Lijing – bahkan menganggapnya sebagai jabang bayi jelmaan siluman. Saat itu juga, Jendral Lijing menghunus pedang dan membelah gumpalan daging tersebut. Gumpalan daging terbelah, seorang bocah kecil melompat keluar dan langsung dapat berbicara dan bermain seperti anak-anak usia 5 tahun. Tak selang berapa lama, seorang pertapa Taois bernama Taiyi Zhenren datang berkunjung dan mengangkat Nezha sebagai murid.

Nezha dengan dua saudara lelakinya, Jinzha dan Muzha, bergabung dengan sebuah organisasi yang berusaha melawan kekuasaan Dinasti Shang di bawah kekuasaan Raja Zhou yang korup dan penindas rakyat. Nezha pada awalnya dikenal sebagai seorang bocah nakal, membuat ayahnya tidak senang dengan perilakunya yang selalu membangkang. Apalagi, Nezha yang dengan kesaktian alami yang dimilikinya sejak lahir, sempat mengacaukan istana Raja Naga Laut Timur, bahkan membuat anak Raja Naga mati karena ulahnya. Namun di bawah asuhan Taiyi Zhenren, Nezha akhirnya menjadi seorang anak yang berbakti. Demikianlah segelintir kisah Nezha yang hanya merupakan kisah novel fiksi.

Kisah kepahlawanan tokoh-tokoh dalam FengShenYanYi yang dikarang dalam masa Dinasti Ming ini memang sangat mempengaruhi pandangan dan kepercayaan tradisi Tiongkok. Misalnya, tokoh Nezha dan Rajadewa Tuota di kemudian hari dimasukkan ke kazanah dewa-dewa pemujaan Taoisme, meski beberapa kalangan menganggap tokoh-tokoh tersebut hanya merupakan rekaan belaka.

Namun sesungguhnya Nezha sendiri bukanlah figur fiksi. Dengan kata lain, keberadaannya dapat ditelusuri, yang menarik sekali adalah dia bersumber dari agama Buddha, khususnya dalam literatur Mahayana. Dalam agama Buddha, nama Nezha merupakan transliterasi dari bahasa Sanskerta, yakni Nalakuvara, anak ke-3 dari Pelindung Dharma, Rajadewa Vaisravana. Rajadewa Vaisravana adalah salah satu dari empat penguasa alam Surga Caturmaharajika.

Beliau menempati istana dewa di sisi punggung Gunung Sumeru bagian utara (Gunung Sumeru di sini mengacu pada kosmologi Buddhis yang bersifat metafisik). Tiga penguasa surga Caturmaharajika lainnya, yakni Rajadewa Virapaksa menduduki wilayah barat, Rajadewa Dhrita-rastra di wilayah timur dan Rajadewa Vidradhaka di wilayah selatan.

Kisah Penganugerahan Dewa juga mengadopsi keempat figur Buddhis ini, tetapi mereka dijuluki sebagai Empat Bersaudara dari Golongan Iblis. Tentu saja ini adalah karakter dan sifat yang bertolak belakang dengan fakta, sepenuhnya merupakan selera pengarang kisah fiksi FengShenYanYi – Chen Zhonglin (ada juga yang menyebut Xu Zhonglin, ataupun Lu Xixing). Malahan, ayah Nezha, Jenderal Lijing sebagai Rajadewa Pembawa Pagoda juga dikaitkan dengan Rajadewa Vaisvarana. Boleh dikatakan bahwa banyak figur-figur Buddhis telah diadopsi oleh penulisnya, misalnya Bodhisatva Manjusri, Samanthabhadra, Avalokitesvara, Buddha Dipankara dan Buddha Amitabha.

Disebutkan Rajadewa Vaisravana memiliki 5 anak (pada versi lain mengatakan 91 anak), beliau merupakan pemimpin dari para makhluk Yaksa. Nalakuvara adalah salah satu putra kesayangan Vaisravana yang sering berada di sisinya. Seperti dalam kutipan Kitab Buddha-carita menyebutkan: “Ketika Nalakuvara terlahir sebagai anak dari Rajadewa Vaisravana, semua dewa turut bersukacita.” Beberapa Sutra menyebutkan Nalakuvara memiliki 3 kepala dan 6 lengan (ada juga yang menyebut 8 lengan).

Selain itu, kutipan yang menyangkut Nezha (Nalakuvara) juga muncul dalam koan (gong-an) para guru Chan. Misalnya, tercatat dalam kitab JingDeChuanDengLu (Catatan Warisan Lentera Era JingDe), Bhiksu Datong – seorang guru Chan di masa Dinasti Tang, dalam koannya mengatakan, “Ketika Nezha memotong tulang dan daging tubuhnya, lalu mengembalikan kepada orangtuanya, maka bagaimanakah [wujud] asli tubuh Nezha?” Beberapa guru Chan lain juga memiliki koan yang lebih kurang sama. Ini mencerminkan figur Nezha telah dikenal luas di antara para praktisi Chan. Selanjutnya kisah pemotongan tulang dan daging inilah yang turut dikembangkan dalam Kisah Penganugerahan Dewa, diceritakan Nezha selalu menentang ayahnya hingga mereka memutuskan hubungan darah.

Klik untuk baca selanjutnya —>