Seri Tokoh Buddhis #11 – Nalakuvara (Ne Zha)

Kemudian disebutkan bahwa Nalakuvara termasuk dalam kelompok Yaksa. Hal ini dapat dilihat dari Sutra Mahāmayūrī-vidyārājñī (Taisho 0982). Ini adalah sebuah Sutra berisi mantra pelindung Dharma dan para praktisi, yang mana Hyang Buddha Sakyamuni mengajarkan praktik penguncaran namanama para makhluk Naga dan Yaksa. Di antara sekian banyak nama para Yaksa, Nalakuvara termasuk di dalamnya, pun dikatakan berdiam di suatu daerah bernama Kamisi. Hal ini juga mencerminkan bahwa Nalakuvara merupakan figur Dharmapala (Pelindung Dharma).

Kitab “Peraturan Ritual Rajadewa Uttarakuru Vaisravana Mengiringi Prajurit Untuk Melindungi Dharma (Taisho 1247, diterjemahkan oleh Bhiksu Amoghasiddhi) menyebutkan: [Pada saat itu, Pangeran Nezha memegang tombak dengan mata galak memandang ke empat penjuru berkata kepada Buddha, “Saya adalah cucu ke-2 dari pangeran ke3 Rajadewa Uttarakuru Vaisravana. Saya bersama kakek saya – Rajadewa – setiap tiga kali sehari akan bersama-sama mengucapkan kepada Buddha bahwa saya melindungi Buddha-Dharma, menaklukkan orang yang berpikiran jahat.”]

Mungkin di sini masih menyisihkan satu pertanyaan bahwa Nalakuvara bukan anak, melainkan cucu dari Rajadewa Vaisravana. Tetapi ada juga yang menginterpretasi bahwa ini mungkin suatu kesalahan pencatatan yang bersifat teknis. Padahal dalam kitab peraturan ritual yang lebih kurang sama (Taisho 1249), dengan penerjemah yang sama pula, tetap menyebutkan: “Pangeran Nalakuvara sering mengikuti Rajadewa sambil membawakan Pagodanya.” Selain itu, Bhiksu Zirui dalam karya komentarnya tentang kitab Shuranggama Sutra menjelaskan bahwa Nalakuvara adalah anak dari Rajadewa.

Sutra lain yang terdapat kutipan tentang status Nalakuvara adalah Amoghapāśa-kalparāja (Taisho 1092). Lebih sejatinya, dalam kitab YiQieJingYinYi (Taisho 2128) (Arti Kata Fonetik Semua Sutra) karya Huiling di masa dinasti Tang, terdapat kutipan Sutra berjudul “Nezha Taizi Qiucheng Jiu Tuoloni Jing (Dharani Sutra tentang Pangeran Nalakuvara Mencari Jalan Keberhasilan [Pencerahan]”. Sayangnya, Sutra ini tidak diketahui keberadaannya.

Daoxuan adalah bhiksu yang memiliki jodoh karma dengan Nalakuvara, seperti yang diceritakan dalam Kitab Song Gaoseng Zhuan (Riwayat Bhiksu Senior Dinasti Song). Daoxuan adalah Sesepuh Pertama tradisi Vinaya Tiongkok yang sangat terkenal di masa Dinasti Tang. Karena praktik sila dan samadhi yang sangat baik, beliau sering mendapat kunjungan dari para dewa. Dalam riwayat Bhiksu Daoxuan diceritakan Rajadewa Vaisravana menolongnya ketika beliau sakit. Kisah pertemuan Daoxuan dengan Nalakuvara tertutur dalam kisah berikut.

Suatu malam di Vihara Ximingsi di Changan, Daoxuan terjatuh, tiba-tiba muncul sosok pemuda yang menahan kejatuhannya. Daoxuan bertanya siapakah yang telah menolongnya, pemuda itu lalu memperkenalkan diri, “Saya bukan manusia biasa, saya adalah Nalakuvara, anak dari Rajadewa Naisravana. Karena sebagai pelindung Dharma, maka saya datang untuk melindungi Bhiksu.” Berterima kasih atas pertolongan Nalakuvara, Daoxuan bertanya adakah tugas Dharma yang bisa diembannya. Nalakuvara lalu mempersembahkan relik gigi Buddha kepada Daoxuan. Kisah-kisah seperti ini meskipun terdengar di luar angan-angan rasional, tetapi poin yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa kisah pengalaman spiritual itu dapat dijangkau dan dialami sendiri dengan praktik sila dan samadhi, ini tentu berbeda dengan kisah fiksi dalam novel.

Selain FengShenYanYi yang mengadopsi figur-figur agama Buddha untuk memperkaya alur ceritanya, demikian juga novel Xi You Ji (Perjalanan Ke Barat) yang lahir mendahului Fengshen Yanyi. Figur Nezha juga muncul dalam Xi You Ji, yang mengisahkan Nezha bersama ayahnya – Rajadewa Pembawa Pagoda –mengemban tugas menaklukkan Kera Sakti Sun Wukong (Sun Go Kong) yang mengacaukan istana langit. Ternyata adalah hal yang lumrah bahwa para pengarang novel Tiongkok sering mengadopsi karakteristik figur keagamaan ke dalam karya mereka.

Penggambaran tokoh Nezha dalam media modern

Terlepas dari pemeran tokoh dalam dua novel fiktif, tapi keaslian figur Nezha atau Nalakuvara sebagai dewa pelindung Dharma perlu mendapat respek dari setiap umat Buddha. Pelindung Dharma sangatlah berjasa bagi kita. Melindungi Dharma, ibarat melindungi keberlangsungan nilai-nilai kebenaran. Melindungi nilai-nilai kebenaran, sama seperti menjaga sila-sila dalam perilaku kita. Sebab itu Nezha adalah sosok yang pantas menjadi teladan bagi setiap umat Buddha dan praktisi mana pun yang berikrar mengembangkan nilai-nilai kebajikan. Semoga kita dapat mengembangkan sifat-sifat bajik hingga kelak memiliki jodoh karma dengan Nalakuvara, sang Pelindung Dharma.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 8 No. 2, Juni 2010 – Desember 2010