Pandangan Buddhis Tentang Perang  

Dalam agama Buddha, perang itu akusala – jahat dan buruk. Akan tetapi, tetap saja terkadang umat Buddha terlibat dalam peperangan. Apakah berperang itu selalu salah? Apakah ada yang namanya “perang yang adil” dalam Buddhisme?

Umat Buddha Berperang

Dikatakan dalam ajaran Buddha, tidak ada dasar kebenaran dalam berperang. Tapi tetap saja Buddhisme terkadang dikaitkan dengan peperangan. Buktinya, terdapat dokumentasi sejarah bahwa pada tahun 621, Vihara Shaolin di Tiongkok ikut berperang untuk mendirikan Dinasti Tang. Selain itu, berabad-abad yang lalu, para pemimpin aliran Buddhis Tibet sering membentuk persekutuan strategis dengan panglima perang Mongolia serta mendapat keuntungan dari kemenangan panglima tersebut.

Hubungan antara Buddhisme Zen dan kebudayaan samurai juga sebagian bertanggung jawab terhadap persekongkolan yang mengejutkan antara Zen dan militer Jepang pada tahun 1930-an dan 1940-an. Selama beberapa tahun, jingoisme (rasa cinta terhadap negeri sendiri yang berlebihan) mencengkeram kalangan Zen Jepang, serta ajaran mereka dibengkok dan dirusak untuk membenarkan pembunuhan. Institusi-institusi Zen tidak hanya mendukung agresi militer Jepang, tapi juga mengumpulkan uang untuk memproduksi pesawat dan senjata perang.

Jika kita amati dari luar zaman dan budaya, tentunya perbuatan dan pemikiran ini adalah pengrusakan Dhamma yang tidak dapat dibenarkan, serta apapun teori “perang yang adil” hanyalah delusi semata. Kejadian ini bisa kita jadikan pelajaran untuk tidak terhanyut pada semangat kebudayaan negeri sendiri yang berlebihan. Tentu saja, pada saat masa-masa bergejolak, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak bhikkhu Buddhis yang menjadi pemimpin politik dan aktivis sosial di Asia, contohnya Revolusi Saffron di Myanmar dan demonstrasi pada bulan Maret 2008 di Tibet. Kebanyakan bhikkhu-bhikkhu tersebut berkomitmen untuk menghindari kekerasan, meskipun tentu saja selalu ada yang tidak. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bhikkhu-bhikkhu Sri Lanka yang memimpin Jathika Hela Urumaya, “Partai Warisan Nasional”, yaitu partai nasionalis sayap kanan yang mengadvokasikan solusi militer untuk menyelesaikan masalah perang saudara Sri Lanka yang sedang berlangsung.

Apakah Berperang Itu Salah?

Agama Buddha menantang kita untuk melihat di balik pembagian benar atau salah yang kedengarannya simpel. Dalam Buddhisme, perbuatan yang menebar benih karma buruk tetap saja disesalkan, meskipun tidak bisa kita hindari. Terkadang, umat Buddha harus berperang untuk melindungi negara, rumah, dan keluarga mereka. Hal ini tidak bisa dipandang sebagai “salah”, walaupun begitu dalam situasi ini, memendam benci terhadap musuh bisa meracuni kita. Selain itu, apapun perbuatan perang yang menebar benih karma buruk di masa yang akan datang tetap dianggap akusala.

Moralitas dalam agama Buddha didasarkan pada prinsip-prinsip, bukan peraturan. Prinsip-prinsip kita adalah yang tertulis di Pancasila Buddhis dan Brahma Vihara – metta, karuna, mudita, dan upekkha. Prinsip kita juga termasuk kebaikan, kelembutan, belas kasihan, dan toleransi. Bahkan dalam situasi paling ekstrim pun tidak akan menghapus prinsip-prinsip tersebut, atau membuatnya “benar” dan “baik” untuk dilanggar.

Akan tetapi, jika kita berdiam diri saja sementara orang-orang tak bersalah dibantai juga tidak “benar” dan “baik”. Seorang bhikkhu dan sarjana Theravada, Y.M. Dr. K Sri Dhammananda mengatakan, “Sang Buddha tidak mengajarkan siswa-Nya untuk menyerah kepada apapun bentuk kejahatan, baik manusia maupun makhluk lainnya.”

Berperang atau Tidak Berperang

Dalam buku “What Buddhist Believe,” Y.M. Dhammananda menuliskan,

“Umat Buddha jangan menjadi pihak yang menyerang, bahkan ketika sedang melindungi agama mereka atau hal lainnya. Mereka harus mencoba sebaik mungkin untuk menghindari aksi kekerasan apapun. Terkadang, mereka mungkin terpaksa harus berperang melawan mereka yang tidak menghormati konsep persaudaraan antar manusia yang diajarkan oleh Sang Buddha. Mereka mungkin dipanggil untuk melindungi negara mereka dari agresi luar, dan selama mereka belum meninggalkan kehidupan duniawi, mereka berkewajiban untuk ikut berjuang demi perdamaian dan kebebasan. Dalam situasi ini, mereka tidak bisa disalahkan karena menjadi tentara atau terlibat dalam pertahanan. Akan tetapi, andaikan semua orang mengikuti nasihat Sang Buddha, maka tidak akan ada alasan untuk berperang di dunia ini. Sebagai manusia beradab, kita memiliki kewajiban untuk menemukan segala cara untuk menyelesaikan perselisihan secara damai, tanpa mendeklarasikan perang untuk membunuh sesama manusia.”

Seperti biasa dalam pertanyaan mengenai moralitas, ketika memilih apakah harus berperang atau tidak, seorang umat Buddha harus memeriksa motivasinya sendiri dengan jujur, sebab sangatlah mudah untuk merasionalisasi bahwa motivasi kita benar saat seseorang sedang takut atau marah. Bagi kebanyakan orang, kejujuran terhadap diri sendiri pada tingkat ini membutuhkan usaha berat dan kedewasaan. Seperti yang dibuktikan dalam sejarah, bahkan pendeta atau pemimpin keagamaan senior yang sudah berpengalaman bertahun-tahun pun seringkali berbohong pada diri sendiri.

Cintai Musuhmu

Kita diajarkan untuk mengulurkan cinta kasih dan kasih sayang kepada musuh-musuh kita, termasuk saat kita sedang menghadapi mereka di medan perang. Anda mungkin berpikir hal ini mustahil, tapi tetap saja inilah jalan yang diajarkan agama Buddha.

Sepertinya orang-orang sering beranggapan bahwa kita harus membenci musuh kita. Mereka mungkin akan bertanya ‘Bagaimana kamu bisa berbicara yang baik tentang seseorang yang membencimu?’ Agama Buddha menjawab bahwa kita lah yang memutuskan apakah akan membenci orang tersebut kembali. Jika Anda harus melawan seseorang, maka lawanlah. Akan tetapi, membenci itu adalah pilihan sendiri, dan Anda bisa memilih untuk tak membenci.

Seringkali dalam sejarah manusia, peperangan menebar benih yang akhirnya tumbuh menjadi perang berikutnya. Dan sering sekali bukan pertempuran itu sendiri yang menyebabkan karma buruk, melainkan cara pasukan memperlakukan warga sipil atau cara pihak yang menang menghina dan menindas pihak yang kalah. Setidaknya, ketika tiba saatnya untuk berhenti berperang, berhentilah berperang. Sejarah menunjukkan kita bahwa penakluk yang memperlakukan mereka yang ditaklukkan dengan murah hati, belas kasih, dan kesabaran akan lebih mungkin mempertahankan kemenangan mereka dan meraih perdamaian panjang.

Umat Buddha dalam Militer

Sekarang ini terdapat lebih dari 3000 orang umat Buddha yang bertugas dalam militer AS. Tentara dan pelaut Buddhis zaman sekarang ini bukanlah yang pertama bergabung dengan militer. Selama Perang Dunia II, kira-kira setengah dari pasukan dalam unit-unit Jepang-Amerika, seperti Batalyon ke-100 dan Infanteri ke-442, adalah umat Buddhis.