Peace is to be found within, not without

Cara pandang yang semakin dominan pada era modern sekarang ini adalah menganggap objek luar sebagai faktor penentu. Ingin bahagia? Carilah uang sebanyak-banyaknya, dan kemudian gunakan uang tersebut untuk bersenang-senang. Memang benar, untuk beberapa saat selama bersenang-senang, Anda mungkin bahagia. Tapi berapa lama kebahagiaan seperti ini akan bertahan? Setelah usai bersenang-senang, Anda kembali lagi ke keadaan semula, harus menderita dan bekerja keras mati-matian lagi untuk mengumpulkan uang, dan kemudian bisa bersenang-senang lagi untuk suatu momen yang singkat.

Cara pandang lainnya di masyarakat secara umum juga lebih kurang semuanya seperti ini. Ketika terjadi kasus pemerkosaan, apa yang pertama timbul di benak Anda mengenai penyebab terjadinya pemerkosaan? Anda mungkin langsung berpikiran mungkin saja korban pemerkosaan berpakaian minim atau merangsang. Lagi-lagi yang disalahkan adalah objek luar (style pakaian). Kenapa bukan pikiran kotor pelaku pemerkosaan saja yang langsung disalahkan?

Sekali lagi ini menunjukkan bagaimana pola pikir yang dominan: mencari dan menganggap objek luar sebagai faktor penyebab atau penentu. Contoh lainnya: ketika Anda sedang sengsara akibat perbuatan sendiri, tidak sedikit yang akan bergumam, “Oh Tuhan, kenapa saya harus mendapat cobaan seperti ini?” Lagi-lagi, objek luar yang disalahkan.

Harta, kesuksesan, kekuasaan, Tuhan, objek-objek luar lah yang selalu dijadikan patokan atas kebahagiaan dan penderitaan yang dialami. Kita bahkan sudah mulai lupa bahwa ada pikiran, kualitas batin dalam diri kita yang bisa dilatih dan dikembangkan.

Ada suatu kiasan yang menarik dari Ajahn Chah dalam bukunya “108 Perumpamaan Dhamma”, semoga dapat menjadi refleksi bagi kita semua..

Sang Buddha berkata, “Para Bhikkhu, apakah kalian melihat serigala yang berlari di sekitar sini tadi malam? Apakah kalian melihatnya? Berdiri tetap ia menderita. Berlari tetap ia menderita. Duduk tetap ia menderita. Berbaring tetap ia menderita. Masuk ke dalam lubang sebuah pohon, tetap ia merasa menderita. Pergi ke sebuah gua pun tetap ia merasa menderita. Ia menderita karena ia berpikir, ‘Berdiri di sini tidak nyaman. Duduk di sini tidak nyaman. Berbaring di sini tidak nyaman. Semak-semak ini tidak nyaman. Lubang pohon ini tidak nyaman. Gua ini tidak nyaman.’ Jadi ia terus berlari sepanjang waktu. Sesungguhnya, serigala tersebut memiliki kudis. Ketidaknyamanan tersebut tidak berasal dari semak-semak atau lubang pohon atau gua, dari duduk, berdiri, ataupun berbaring. Ketidaknyamanan tersebut berasal dari penyakit kudisnya.”

Anda, para Bhikkhu sekalian juga sama. Ketidaknyamanan anda datang dari pandangan-pandangan yang salah. Anda memegang buah-buah pikiran yang beracun sehingga anda pun menderita karenanya. Anda tidak berusaha sekuat tenaga untuk membatasi indera-indera, sehingga anda pun menyalahkan hal-hal lain. Anda tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diri anda. Ketika anda menetap di sini di Wat Nong Pah Pong, anda menderita. Anda pergi ke Amerika dan menderita. Anda pergi ke London dan menderita. Anda pergi ke Wat Bung Wai dan menderita. Anda pergi ke setiap cabang vihara dan menderita. Kemanapun anda pergi, anda menderita. Penderitaan ini datang dari pandangan-pandangan salah yang masih berada dalam diri anda. Pandangan-pandangan anda adalah salah dan anda memegang buah-buah pikiran yang meracuni hati anda. Kemanapun anda pergi anda menderita. Anda seperti serigala tersebut. Spritful Drizzle 24 Edisi Mei 2012 Ketika anda telah sembuh dari penyakit kudis anda, dengan demikian, anda akan merasa tenang kemanapun anda pergi: tenang berada di tempat terbuka, tenang ketika berada di dalam hutan belantara. Saya sering memikirkan hal ini dan terus mengajarkannya kepada anda karena poin Dhamma ini sangatlah berguna.

Peace is to be found within, not without

(Buddha)

 

Sumber: Majalah BVD No. 146, Mei 2012