Pelayanan Sejati

Aku adalah teman dan siap menolong kepada semuanya; Aku bersimpati kepada semua makhluk hidup. Aku mengembangkan pikiran penuh cinta kasih dan selalu bergembira dalam kebaikan. (Theragatha 648)

Suatu ketika ada orang marah-marah dan mengumpat dengan kata-kata yang sangat kasar. Mengapa orang tersebut marah besar? Ternyata gara-gara menunggu terlalu lama di depan kasir. Orang tersebut ingin dilayani dengan cepat karena masih ada acara arisan. Apa sikap kita jika berada dalam kondisi seperti itu? Pertanyaan ini hanya untuk perenungan bagi kita.

Umumnya orang ingin mendapatkan pelayanan terbaik dan ketika pelayanannya tidak memuaskan maka yang muncul adalah rasa kecewa, sedih, marah, bahkan benci. Mengapa mereka ingin dilayani? Mereka berpikir bahwa dilayani dengan baik adalah kepuasan tersendiri. Ada juga yang beranggapan bahwa dilayani dengan baik adalah surga dunia. Akhirnya kata, “dilayani” melekat pada diri seseorang.

Pernahkah kita berpikir untuk melayani banyak orang? Pernahkah kita berpikir bahwa “melayani” adalah kebajikan? Sebuah kata yang singkat dan sederhana tetapi banyak terlupakan karena sifat manja manusia. Sifat manja yang akhirnya membuat manusia ingin selalu dilayani. Marilah kita merenungkan kata-kata yang singkat dan sederhana ini. Termasuk manakah kita? Manusia yang suka dilayani atau suka melayani?

Setelah kita merenung, berusahalah untuk bertekad menjadi orang yang mau melayani bagi semua orang, bahkan semua makhluk. Pernah suatu ketika ada yang bertanya, “Apakah kita tidak menjadi rendah atau hina kalau kita melayani?” Pelayanan selalu diletakkan di tingkat yang rendah sehingga kita enggan untuk melayani dan selalu ingin menjadi orang yang dilayani. Pelayanan yang dimaksud di sini adalah mengandung misi kebajikan. Apa yang kita berikan kepada mereka yang membutuhkan adalah bentuk dari pelayanan.

Sebenarnya kalau kita kembali kepada Dhamma, pelayanan adalah bentuk dari cinta kasih dan welas asih, atau dalam bahasa Pali dikenal dengan metta dan karuna. Ajaran yang sangat luhur dan sangat baik untuk kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kita mengucapkan sabbe satta bhavantu sukhitatta atau semoga semua makhluk berbahagia. Apakah yang kita ucapkan itu benar-benar tumbuh dari pikiran yang tulus dan jernih? Atau hanya sekedar mengucapkan karena sudah menjadi kebiasaan? Apakah apa yang kita ucapkan itu sudah kita realisasikan dalam kehidupan kita? Kembali pertanyaan ini untuk kita renungkan bersama.

Pelayanan bukan hanya sekedar memberi materi kepada orang lain, tetapi juga dalam bentuk non materi. Ketika ada orang yang kelaparan, tentunya kita bisa memberikan makanan kepada orang tersebut. Ketika ada orang bertamu ke rumah kemudian kita sambut dengan baik dan ramah, itu juga bentuk dari pelayanan. Ketika ada umat baru datang ke Vihara dan kemudian kita sapa dan kita sambut dengan penuh keramahan, ini juga bentuk dari pelayanan. Banyak yang bisa kita lakukan untuk pelayanan, misalnya; menjenguk orang yang sakit, menjenguk sahabat kita yang sedang ditimpa kemalangan, menghormat mereka yang patut dihormati, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk dari pelayanan.

Pelayanan sejati adalah pelayanan yang diberikan dengan tulus dan tidak membedakan. Banyak orang yang melakukan pelayanan tetapi tidak ada ketulusan dan sifatnya masih terbatas. Mereka mau melayani jika ada keuntungan, melakukan pelayanan agar orang tersebut menjadi pengikutnya, melakukan pelayanan terbatas ke orang-orang tertentu dan lain sebagainya. Sepintas yang dilakukan oleh orang-orang seperti itu baik tetapi sebenamya bukan pelayanan sejati. Pelayanan sejati adalah perwujudan dari metta dan karuna. Pelayanan yang kita lakukan harus benar-benar tumbuh dari nurani yang jernih dan tidak ada pamrih di balik pelayanan itu.

Marilah kita sejenak merenungkan apa yang dilakukan oleh Sang Buddha. Setelah mencapai penerangan sempurna, Beliau tidak tinggal diam dan berpangku tangan. Pelayanan Beliau sangat luar biasa dan jarang orang mau melayani seperti apa yang Beliau lakukan. Diawali di Taman Rusa Isipatana hingga Parinibbana, Beliau selalu melakukan pelayanan, dan banyak orang merasakan pelayanan Beliau. Waktu Beliau benar-benar digunakan untuk melayani banyak orang, bahkan semua makhluk. Sifat metta dan karuna yang sempurna benar-benar mewarnai pelayanan Beliau.Tidak ada pamrih dan semua dilakukan dengan ketulusan, kesungguhan, dan semangat yang luar biasa.

Selama Beliau melayani banyak orang dan semua makhluk, Beliau juga pernah mengalami peristiwa yang tidak nyaman. Beliau pernah dicaci-maki dengan kata-kata yang sangat kasar, difitnah, bahkan Beliau juga mau dibunuh. Walaupun tantangan yang dihadapi sangat berat, Beliau tetap berjuang untuk memberikan pelayanan. Bahkan, Bhante Ananda pernah usul kepada Sang Buddha untuk keluar dari tempat yang penuh dengan makian dan celaan, tetapi Sang Buddha menjawab dengan tegas bahwa Beliau tidak akan keluar, dan Beliau juga mengatakan bahwa di manapun kita berada, celaan dan makian masih akan ada. Beliau berkata, “Seperti seekor gajah di medan perang menahan panah-panah yang ditembakkan kepadanya, demikianlah saya akan menahan prasangka buruk dan ungkapan tidak menyenangkan dari orang lain” (Dhammapada 320). Tekad yang luar biasa, kalau kondisi itu kita yang menghadapi tentunya akan bertolak belakang dengan apa yang kita lakukan. Kita akan sedih, kecewa, marah, atau melakukan hal-hal yang keliru. Itulah pelayanan sejati Sang Buddha yang seharusnya menjadi teladan untuk kita semua.

Melayani adalah kebajikan, kenapa tidak kita lakukan? Sering saya memberikan gambaran, “Sekali pun hanya menolong semut, tetapi jika kita lakukan dengan ketulusan dan kesungguhan, maka yang kita lakukan itu akan memperbaiki mental kita.” Mulailah membangun perilaku dan mental dari pelayanan yang kecil, karena dari tahapan yang dasar dan sederhana ini perilaku dan mental kita akan berubah.

Jangan jadi orang yang hanya menyimpan pengetahuan dan pandai bicara, tetapi jadilah orang yang sedikit bicara tetapi memiliki sifat pelayanan yang sejati. Sang Buddha telah memberikan contoh-contoh, untuk itu marilah kita mengikuti teladan Beliau. Janganlah merasa rendah dalam pengetahuan dan pengalaman, tetapi kita harus merasa rendah jika pengetahuan dan pengalaman itu tidak direalisasikan.

Pelayanan sejati adalah melayani dengan tulus, sungguh-sungguh dan tanpa pamrih, dan sebagai seorang Buddhis seharusnya menjadi seorang yang bisa melayani dan bukan orang yang ingin selalu dilayani. Selamat berjuang!

Sumber : Majalah Warta Dharma Ratna Edisi Waisak 2551