Perenungan

Kita semua mengetahui bagaimana ayam-ayam hutan liar takut kepada manusia. Apabila kita melempar beras ke arahnya untuk mereka makan. Pertama kali mereka ketakutan dan tidak datang mendekati beras. Namun demikian, setelah satu jangka waktu yang panjang mereka menjadi terbiasa akan hal itu dan bahkan mulai mengharapkannya. Saudara dapat melihat, terdapat sesuatu yang dapat dipelajari di dalam hal ini. Secara alamiah pertama kali mereka menganggap ada satu bahaya di dalam beras itu, bahwa beras itu adalah musuh. Namun sebenarnya beras itu ternyata bukan musuh, mereka hanya semata-mata tidak mengetahui bahwa beras itu adalah makanan sehingga mereka menjadi takut. Ketika akhirnya mereka melihatnya sendiri bahwa tidak ada sesuatu yang menakutkan, mereka datang dan memakannya tanpa bahaya.

Ayam hutan itu mempelajarinya dengan cara demikian. Hidup di dunia itu juga sama dengan mempelajari hal ini. Dulu kita menganggap bahwa indera merupakan satu problema, dan karena ketidaktahuan di dalam penggunaannya, mereka menyebabkan begitu banyak masalah bagi kita. Namun, dengan pengalaman di dalam praktik kita belajar untuk mengetahui indera sesuai dengan kebenaran. Kita mempelajari menggunakannya seperti ayam-ayam hutan dapat menggunakan beras. Sepanjang kita berpikir, menginvestigasi dan mengerti secara keliru, maka hal-hal di dunia itu akan ‘melawan’ kita. Namun segera setelah kita mulai menginvestigasi secara tepat, bahwa yang kita alami akan membawa kita ke kebijaksanaan dan pengertian yang jeli, mirip ayam-ayam hutan liar yang mulai mengerti.

Satu waktu, ketika sebuah pohon buah sedang berbunga, sehembus angin menerpa dan menggoyang dan menjatuhkan kuntumkuntum bunga ke tanah. Beberapa kuntum tetap tumbuh menjadi buah kecil yang masih hijau. Sehembus angin meniupnya dan beberapa di antaranya juga, jatuh!!! Sedangkan yang lainnya masih tumbuh menjadi buah yang mendekati masak, atau beberapa yang lainnya bahkan masak sempurna, sebelum mereka akhirnya jatuh.

Buah yang berjatuhan dari pohon

Demikian pula dengan orang-orang atau kita semua. Seperti bunga-bunga dan buah-buah di hembusan angin, mereka juga, jatuh di dalam tahap-tahap masa kehidupan yang berbeda. Beberapa orang meninggal dunia ketika masih di dalam kandungan, sedangkan beberapa yang lainnya hanya dalam beberapa hari setelah kematian kemudian meninggal dunia. Beberapa orang sempat hidup untuk beberapa tahun kemudian meninggal dunia, tidak pernah mencapai usia masak. Lelaki dan perempuan meninggal dunia saat masih remaja. Orang-orang lainnya ada yang masih tumbuh hingga usia tua yang masak sebelum akhirnya mereka juga meninggal dunia.

Ketika kita merenungkan orang-orang tersebut, memperbandingkannya dengan sifat alamiah buah di hembusan angin, keduanya sangat tidak menentu.

Ketidakmenentuan ini juga mirip dengan batin kita. Sebuah kontak batin muncul, berkembang dan kemudian batin tersebut “jatuh/padam” seperti bebuahan yang diterpa angin.

Bagi seseorang yang sedang berlatih dengan perhatian murni, tidaklah perlu untuk memiliki seseorang untuk menasehati atau mengajarkan semua hal. Segala sesuatu sebenarnya dapat dilihat dan dimengerti. Sebagai sebuah contoh di dalam kasus sang Buddha yang di dalam kehidupan lampaunya ketika menjadi Bodhisatta pernah menjadi seorang raja Chanokomun, mengerti hakekat kehidupan melalui pengamatan terhadap pohon-pohon mangga yang berbuah dan yang tidak berbuah. Pepohonan dan bebuahan, misalnya, dapat menyingkap sifat alamiah kesunyataan. Dengan kebijaksanaan tidak diperlukan pertanyaan lebih lanjut kepada seseorang. Kita dapat belajar dari alam untuk menjadi bijaksana, karena semuanya mengikuti prinsip-prinsip sifat alamiah segala sesuatu.

Dengan disertai kebijaksanaan, dapat dicapai pandangan jeli dan bijaksana terhadap karakter alamiah segala sesuatu. Dengan cara ini kita dapat mengerti kebenaran sesungguhnya dari segala sesuatu sebagai, Anicca, Dukkha, Anatta. Sebagai contoh pepohonan, semua pohon di bumi ini sama, “Satu”, apabila dilihat melalui kesunyataan dari Anicca, Dukkha dan Anatta. Pertama-tama mereka muncul kemudian tumbuh dan masak, secara konstan berubah, sampai akhirnya mereka mati.

Di dalam cara yang sama, orang-orang dan binatang lahir, tumbuh dan berubah selama masa hidupnya sampai akhirnya mereka pun meninggal dunia. Kesinambungan dari lahir, tumbuh sampai dengan meninggal dunia merupakan cara dari Dhamma. Bahwa segala sesuatu yang berkondisi adalah Anicca, Dukkha dan dicengkeram Anatta.

Apabila kita memiliki kesadaran dan pengertian ini, kita akan melihat Dhamma sebagai kesunyataan. Dengan demikian, kita akan memandang orang-orang sebagai mahluk yang secara konstan berubah, lahir, tumbuh dan meninggal dunia, dan karena memandang melalui sifat ini, kita menganggap siapapun di alam semesta ini adalah “Satu” jenis mahluk. Dengan demikian melihat seseorang secara jelas dan bijaksana di dalam cara yang sama terhadap setiap orang di dunia ini. Dengan cara demikian tidak akan muncul pandangan yang membedakan berdasarkan ras, agama, golongan, dan sejenisnya. Kita akan menjadi lebih membaur sebagai satu kesatuan mahluk yang bekerja sama menjalankan perjuangan kehidupan dan kematian.

 

Sumber: Majalah Dharma Mangala 58 – Juni 2008