Pertanyaan Seputar Bhikkhuni

Memeriksa ulang kebijaksanaan konvensional tentang isu Bhikkhuni dalam tradisi Buddhis Theravada.

Nissaya Horayangura

Achan Brahm: Merupakan suatu mitos bahwa Bhikkhuni Theravada tidak dapat dihidupkan kembali dengan benar menurut Vinaya.

Masyarakat Buddhis terdiri dari empat pilar: Bhikkhu, Bhikkhuni, umat pria (upasaka), dan umat perempuan (upasika) – yang digambarkan pada mural di tembok Wat Pho di Bangkok.

Isu Bhikkhuni di Thailand bisa menimbulkan banyak kontroversi atau bisa ditanggapi hanya dengan mengangkat bahu. Bagi banyak orang, ini bukan isu, karena mereka tidak percaya bahwa Sangha Bhikkhuni Theravada dapat dihidupkan kembali, tidak melihat perlunya Sangha Bhikkhuni Theravada, tidak berpikir bahwa perempuan menginginkannya, atau bahkan tidak tahu bahwa Sangha Bhikkhuni Theravada itu sudah ada. Namun dengan adanya Bhikkhuni Theravada di setiap wilayah Thailand, dan juga di seluruh dunia, isu ini tidak bisa diabaikan berlama-lama.

Tidak peduli apakah seseorang memihak, menolak, atau acuh tak acuh terhadap Bhikkhuni, namun dibutuhkan informasi yang tepat dan luas sebagai kunci untuk bisa memahami isu itu secara lebih mendalam dan untuk bisa membentuk opini-opini yang memiliki landasan yang baik. Di sini, Achan Brahm berbagi pengetahuan dan perspektif tentang isu itu.

Bhikkhu yang dilahirkan di Inggris dan berpendidikan di Cambridge ini ditahbiskan pada tahun 1974 dan berlatih sembilan tahun di bawah bimbingan Achan Chah di hutan Thailand. Dia dikenal karena keahliannnya tentang Vinaya dan sekarang ini menjabat sebagai kepala Vihara Bodhinyana di Australia, di mana terdapat makin banyak panggilan untuk penahbisan Bhikkhuni Theravada agar muncul di bumi Australia.

Di bawah ini adalah beberapa petikan dari wawancara itu.

Tanya: Apakah benar bahwa sejak Sangha Bhikkhuni Theravada ‘mati’ berabad-abad yang lalu, maka Bhikkhuni baru tidak mungkin bisa ditahbiskan dengan benar sesuai Vinaya? Dan apakah para Bhikkhuni Thailand yang sudah ditahbiskan sejak Sangha Bhikkhuni Theravada dikembalikan ke Sri Lanka di akhir tahun 1990-an dengan Bhikkhuni Mahayana sebagai penahbis itu bukan Bhikkhuni Theravada yang sah?

Jawaban Achan Brahm: Itu merupakan mitos. Di Thailand, kadang-kadang kita malahan menghabiskan amat banyak waktu mempercayai guru-guru kita, mempercayai kebijaksanaan yang diterima, bukannya menyelidikinya dan menantang kebenarannya. Ketika masih menjadi Bhikkhu muda di Thailand, saya dulu pun juga berpikir bahwa Sangha Bhikkhuni tidak dapat dihidupkan kembali secara sah. Tetapi setelah menyelidiki dan mempelajari, saya dapati bahwa hal itu tidak ada masalah sama sekali. Bhikkhu Bodhi — seorang Bhikkhu-cendikiawan Theravada yang dihormati — misalnya, telah menyelidiki Vinaya pali. Beliau kemudian menulis sebuah paper yang merupakan salah satu karya paling mengesankan yang pernah saya lihat — adil, seimbang, muncul dari sisi ‘hal itu mungkin, mengapa kita tidak melakukannya?’ Saya sudah membantu agar paper Bhikkhu Bodhi itu diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand dan diterbitkan, yang kemudian akan dibagikan kepada para Bhikkhu dan orang-orang lain di Thailand yang berminat.

Salah satu mitos terbesar adalah bahwa Bhikkhuni dalam tradisi Mahayana itu —entah bagaimana—terpisah dari Theravada, tetapi inilah kebenaran. Sehubungan dengan hal itu: apa yang disebut Vinaya Mahayana itu sebenarnya tidak ada! Mazhab-mazhab Mahayana kebanyakan mengikuti Vinaya Dharmagupta. Dharmagupta adalah salah satu sekte Theravada. Mereka mengikuti Vinaya Theravada. Jadi, para Bhikkhuni yang kita lihat sekarang di Taiwan dan China itu merupakan garis keturunan yang tak terputus sejak zaman Sang Buddha.

Dalam tradisi, ada cara lain untuk membaca Vinaya. Dapat dikatakan bahwa Sang Buddha meninggalkan suatu kesempatan yang terbuka bagi para Bhikkhu untuk menahbiskan Bhikkhuni dan menghidupkan kembali Sangha Bhikkhuni.

Dengan adanya kemungkinan ini di dalam Vinaya, maka selain kita dapat memperdebatkan hal itu sebagai cendikiawan, kita dapat juga melakukannya karena welas asih. Anda harus mengikuti peraturan, tetapi jika ada interpretasi yang mungkin, yang baik, itulah yang seharusnya kita ikuti, karena itulah yang didorong oleh Sang Buddha untuk kita lakukan. Memang, di masa lalu sangat mudah mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Tetapi, sekarang argumennya bukan lagi apakah hal itu bisa atau tidak bisa dilakukan, melainkan mengapa hal itu seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan.

lanjut —–>