Pesona Duniawi Yang Semu

 

Y.M. Bhikkhu Thanavaro Maha Thera, B.A., M.Ed.

  • Ketua 1 SAGIN
  • Kepala Vihara Sakyamuni Buddha – ITBC Cemara Asri

===========================================

Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa

Sang Buddha adalah seorang yang sangat aktif dan energik. Beliau meng­anjurkan orang-orang untuk menggu­nakan keahlian dan pengetahuan mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari. Seorang umat Buddha yang baik seharus­nya memiliki  kekuatan semangat. Umat Buddha sudah semestinya secara terus-menerus berjuang dengan keras untuk men­capai kesempurnaan.

Ketika seseorang mencapai suatu tingkat tertentu dari pengembangan spiritual dan melihat kenyataan sesungguhnya dari kehidupan duniawi, mereka pada akhirnya sadar, bahwa kehidupan ini tidak luput dari Ketidakkekalan, ketidakpuasan dan ketidaknyataan, ini dapat dimengerti de­ngan jelas melalui pengertian yang men­da­lam.

Pengertian yang mendalam di sini maksudnya adalah realisasi dari kebena­ran utama yang muncul ketika seseorang yang telah melatih pikirannya melihat kenyataan sebenarnya dari kehidupan.

Untuk mengalihkan para siswanya dari keterikatan mereka pada objek-objek ke­melekatan yang sementara, Sang Buddha menggunakan suatu teknik yang dimak­sudkan untuk mengungkapkan jurang yang terletak tepat di bawah kegembiraan kehidupan duniawi yang tampak tanpa cela.

Teknik-teknik ini dimaksudkan un­tuk membangkitkan dalam diri sang siswa suatu kualitas yang disebut samvega , su­atu kata yang tidak memiliki padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia.

Un­tuk menyampaikan makna ini kita perlu mendekati sebuah frasa pengganti seperti “suatu rasa keterdesakan.” Samvega dapat digambarkan sebagai kegemparan batin atau keterkejutan yang kita alami ketika kita tersentak dari kepuasan kita yang biasa kita dapatkan oleh suatu penemuan kebenaran yang kegawatannya biasanya kita tolak.

Samvega muncul dari pengenalan bahwa keamanan yang kita asumsikan ternyata hanyalah ilusi, bahwa kita terus-menerus melangkah di atas lapisan es tipis, yang setiap saat dapat pecah di ba­wah kaki kita.

Katalisator utama yang mendorong rasa keterdesakan ini adalah konfrontasi kita dengan mortalitas yang tidak terhin­darkan seperti yang diungkapkan oleh usia tua, pe­nyakit, dan kematian. Pertemu­an ini meng­guncang kita dari kenyamanan duniawi yang menjadi kebiasaan kita dan mendorong kita untuk mulai mencari ke­damaian dan kebebasan yang tak tergo­yahkan.

Saat sebagai calon Buddha sen­diri, beliau  mengalami “goncangan pe­nge­­nalan” ini sebelum Beliau memulai pencarianNya atas pencerahan. Refleksi­Nya yang mendalam pada usia tua, penyakit, dan kematian menghancurkan ketertarikanNya pada kesenangan- kese­nangan duniawi  dan mendorongnya kelu­ar dari istanaNya menuju hutan untuk men­cari tanpa-penuaan, kebebasan dari penyakit, dan  nibbana yang tanpa ke­matian.

Dalam banyak sutta, Sang Buddha meng­gunakan pola yang melibatkan tiga sudut pandang yang dirancang untuk memicu rasa Samvega. Ketiga sudut pan­dang ini adalah kepuasan (assada), bahaya (adinava) dan jalan untuk membebaskan diri (nissarana).

Pertama kita mulai de­ngan apa yang seketika tampak nyata: bah­wa pengalaman kita di dunia mem­berikan suatu tingkat kepuasan atau kenik­matan, yang terdapat dalam kenikmatan dan kegembiraan yang muncul dengan terpenuhinya keinginan-keinginan kita. Adalah karena orang-orang mengalami kepuasan maka mereka menjadi terikat pada hal-hal yang memberikan kenik­ma­tan kepada mereka.

Akan tetapi, ketika ki­ta melihat lebih dalam, kita dapat melihat bahwa persis di bawah permukaan ke­gemb­iraan yang gemerlap terdapat lapisan gelap kesakitan dan kesedihan. Ini adalah yang kedua sebagai bahayanya, yang berakar dari ketidak-kekalannya (anicca), ketundukannya pada penderitaan (duk­kha), dan sifat berubah-ubah dan rusak (viparinamadhamma).

Langkah ke tiga, jalan membebaskan diri, menunjukkan kepada kita kebebasan dari bahaya. Ketika kita melihat bahwa ketagihan kita pada kenikmatan mengikat kita pada apa yang pada dasarnya cacat, maka kita dapat melepaskan ketagihan tersebut. Demikia­nlah jalan membebaskan diri terletak pada “pelenyapan dan ditinggalkannya ke­inginan dan nafsu.”

Adalah untuk tujuan memprovokasi rasa samvega maka Sang Buddha mene­kan­kan aspek-aspek pengalaman yang biasanya kita sembunyikan dari diri kita. Penekanan ini memberikan rasa “pesimis­tis” pada ajaran, tetapi ini adalah pesi­misme yang tidak mengarah pada jalan buta nihilisme melainkan pada lapangan terbuka kebebasan, akhir penderitaan.

Me­nuruti strategi ini, Sang Buddha me­ngajarkan kepada para siswaNya, apakah monastik atau awam, agar senantiasa merefleksikan fakta bahwa mereka tunduk pada usia tua, penyakit, dan kematian; bahwa mereka harus berpisah dari siapa pun dan apa pun yang mereka sayangi; dan bahwa mereka adalah pewaris kamma mereka sendiri. Beliau menggaris-bawahi kesengsaraan dalam kenikmatan indria, menyebutnya penuh dengan bahaya dan penderitaan.

Beliau mengalihkan perha­tian pada kejijikan jasmani, yang terdiri dari tiga puluh satu unsur yang tidak me­narik, yang merupakan tuan rumah bagi penyakit-penyakit, dan menyerupai bisul dengan sembilan lubang.

Begitu kita dengan jelas mengenali cacat-cacat dalam kenikmatan indria dan kesia-siaan dalam pengembaraan dari satu kehidupan ke kehidupan lain di dalam alam kehidupan yang terkondisi, maka desakan muncul untuk membebaskan diri dari belenggu dan mencapai akhir dari penjelmaan berulang-ulang, yang juga merupakan akhir penderitaan.

Untuk me­menuhi desakan ini, kita harus me­nyelidiki penyebab dari belenggu kita, karena hanya dengan melenyapkan pe­nyebab itu maka kita dapat melenyapkan akibatnya. Sang Buddha menemukan pe­nyebab penderitaan terdapat dalam belenggu pikiran kita sendiri. Karenanya penekanan dalam ajaran Sang Buddha adalah pada penilaian diri yang jujur sebagai bagian dari diagnosis asal-mula penderitaan.

Nika¯ya-nika¯ya penuh dengan kata­log-katalog berbagai kekotoran yang karenanya pikiran menjadi mangsa.

(1) Kelompok pertama adalah keko­toran-kekotoran yang bertanggung jawab atas perilaku cacat. Ini adalah motif-motif tersembunyi dari perbuatan salah dan kamma tidak bermanfaat. Yang paling penting dari kelompok-kelompok itu ada­lah tiga akar tidak bermanfaat: keseraka­han (atau nafsu), kebencian, dan delusi. Ketiga ini sering disebut sebagai penye­bab-penyebab dari perbuatan salah me­lalui jasmani, ucapan, dan pikiran, dan ju­ga secara eksplisit bersekutu dengan sepuluh perbuatan tidak bermanfaat.

Keinginan seksual adalah kekotoran kru­sial pada kaum monastik, yang berte­kad untuk menjalani kehidupan selibat dan dengan demikian harus mengekang dan menguasai dorongan seksual mereka. Sang Buddha sering membicarakan ten­tang bahaya dalam kenikmatan indria dan memperingatkan para bhikkhu agar ber­hati-hati ketika bergaul erat dengan ang­gota-anggota yang berlainan jenis kela­min.

Dalam sebuah komunitas monastik yang terdiri dari orang-orang dengan kepribadian yang berbeda-beda dan opini-opini kuat, kemarahan dan kekesalan juga dapat memberikan akibat merusak pada kedinamisan kelompok, dan oleh karena itu Sang Buddha dan siswa-siswa utama­Nya menetapkan metode-metode untuk menghalau emosi-emosi yang merusak ini.

Kemarahan dan permusuhan berga­bung membentuk yang pertama dari enam “akar perselisihan,” yang dilihat oleh Sang Buddha sebagai bahaya bagi keharmo­nisan Sangha. Karena kaum monastik secara prinsip diajarkan untuk berbagi perolehan mereka – apakah benda- benda materi, umat-umat penyokong, atau pengetahuan.

Para umat awam juga, di­ajarkan agar hidup “dengan pikiran yang hampa dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, bertangan terbuka, berse­nang dalam pelepasan, menekuni derma, bersenang dalam memberi dan berbagi”.

(2) Kelompok kekotoran kedua dalam skema tiga kelompok ini adalah keko­toran-kekotoran yang merintangi keber­hasilan meditasi. Yang paling mendasar dalam kelompok ini adalah yang paling sederhana: kemalasan, penolakan pada pekerjaan “membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang masih belum dicapai, untuk memperoleh apa yang masih belum diperoleh, untuk merealisasi apa yang masih belum direalisasi”.

Begitu seorang meditator mengatasi kemalasan dan berusaha untuk bermeditasi, keko­toran-kekotoran yang mungkin ia temui jatuh dalam sekelompok yang disebut lima rintangan, disebut demikian karena rintangan-rintangan itu adalah “halangan, beban pikiran, kondisi-kondisi yang me­lemahkan kebijaksanaan.” Kekotoran-ke­kotoran itu bahkan mencegah seseorang un­tuk mengetahui kebaikannya sendiri dan kebaikan orang lain. Sang Buddha mencela kekotoran-kekotoran itu sebagai “tumpukan penuh dari apa yang tidak bermanfaat.”

Semua kekotoran ini diatasi, secara se­mentara, melalui praktik meditasi ketena­ngan yang berhasil, yang mencapai peme­nuhan dalam samadhi, ketenangan pikiran atau konsentrasi.

(3) Kekotoran-kekotoran jenis ke tiga adalah yang paling dalam dan paling mem­bandel. Ini adalah kekotoran-keko­toran di dasar arus kesadaran yang mem­pertahankan keterikatan pada lingkaran kelahiran kembali. Kekotoran-kekotoran demikian tertidur dalam pikiran bahkan ketika meditator mencapai kondisi-kon­disi konsentrasi yang luhur. Kekotoran-kekotoran itu hanya dapat dilenyapkan melalui pengembangan kebijaksanaan, melalui pandangan terang yang menem­bus ke dalam kebenaran Dhamma.

Dalam bahasa komentar Pali, kekotoran-keko­toran itu dilenyapkan sepenuhnya hanya melalui jalan “adi-duniawi” atau jalan yang melampaui keduniawian (lokutta­ramagga), kondisi-kondisi konsentrasi yang menerobos rintangan realitas ter­kondisi dan menembus nibbana  yang tak terkondisi.

Yang paling mendasar dari kekotoran-kekotoran fundamental ini adalah apa yang disebut asava, yang tidak cukup di­terjemahkan sebagai “noda-noda.” Ini ter­diri dari ketagihan pada kenikmatan in­dria, ketagihan pada kesinambungan pen­jelmaan, dan ketidak- tahuan. Kekotoran-kekotoran ini dilenyapkan sepenuhnya hanya dengan pencapaian Kearahattaan, dan dengan demikian buah Kearahattaan digambarkan sebagai “kebebasan pikiran tanpa noda, kebebasan melalui kebi­jak­sanaan yang dicapai dengan hancurnya noda-noda.”

Semua kekotoran ini jatuh di bawah kekuasaan ketidak-tahuan dan ketagihan pada kesinambungan penjelmaan, yang mendorong proses samsara maju dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.

Oleh karena itu kebebasan akhir ber­gantung pada dilenyapkannya ketidak-tahuan dan ketagihan, yang terjadi melalui kebijaksanaan melampaui keduniawian yang secara mendalam melihat keempat kebenaran mulia.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Artikel ini telah diterbitkan di Harian Analisa Kamis, 22 Desember 2016