Posisi Wanita Pada Masa Kehidupan Sang Buddha

Pada zaman India kuno, posisi wanita nampaknya bukanlah posisi yang menyenangkan. Umumnya, wanita dipandang lebih rendah daripada pria. Selain itu, terkadang mereka bahkan dianggap memiliki posisi sama dengan Sudra, yaitu kasta terendah dari 4 kasta. Seringkali kebebasan mereka dibatasi, dan wanita dianggap harus dijaga oleh orang tua selama masa kanak-kanak, di bawah perlindungan suami mereka saat masih muda; dan saat sudah tua harus berada di bawah kontrol putra-putra mereka. Oleh karena itu, wanita pada saat itu sama sekali tidak memiliki kebebasan. Peran utama mereka adalah untuk menjadi ibu rumah tangga serta mengatur urusan-urusan dalam keluarga sesuai keinginan suami mereka.

Bahkan sebagai seorang istri pun wanita seringkali masih menderita. Khususnya jika wanita tersebut kurang beruntung dan suaminya mempunyai beberapa istri. Iri hati dan konflik di antara beberapa istri dengan satu suami adalah kejadian umum dalam masyarakat India kuno. Lebih buruknya, menjadi janda malah semakin parah. Seorang janda tidak diperbolehkan untuk menikah kembali. Selain itu, seorang janda juga seringkali harus bunuh diri melompat ke dalam api yang membakar jenazah suaminya.

Wanita tidak mempunyai kebebasan untuk mendapatkan ilmu. Pendidikan dianggap tidak penting untuk para wanita. Kebebasan beragama mereka juga dibatasi. Karena terbatasnya kebebasan mereka, kesempatan untuk melaksanakan ritual agama yang memberi manfaat baik juga sangat terbatas.

Umumnya seorang wanita dianggap beban bagi keluarga sebab pria harus bertanggung jawab untuk menjaganya. Selain itu, wanita juga tidak boleh melaksanakan ritual agama untuk orang tuanya yang sudah meninggal, sehingga wanita dianggap kurang berguna. Itulah sebabnya kelahiran anak perempuan dipercaya merupakan tanda kesialan bagi keluarga tersebut. Orang tua berdoa agar dikarunia anak laki-laki, baik untuk melanjutkan nama keluarga dan tradisi, serta untuk melaksanakan ritual agama yang penting ketika orang tuanya meninggal dunia. Bisa kita lihat betapa sedihnya seorang ayah ketika anaknya adalah seorang perempuan dalam cerita Raja Pasenadi dari Kosala. Ketika sang Raja diberitahu bahwa Ratu melahirkan seorang putri, ia mendatangi Sang Buddha dan meratapi hal ini. Sang Buddha pun berkata bahwa anak perempuan yang berbakti sama bagusnya dengan anak lelaki yang berbakti.

Agama Buddha tidak menganggap wanita lebih rendah daripada pria. Meskipun Buddhisme menerima bahwa memang ada perbedaan biologis dan fisik di antara kedua jenis kelamin, agama Buddha tetap meyakini bahwa baik pria maupun wanita sama bergunanya dalam masyarakat. Sang Buddha menekankan peran penting yang harus dan dapat dijalani wanita sebagai seorang istri, serta bagaimana seorang ibu dapat menyukseskan kehidupan keluarga. Dalam sebuah keluarga, baik suami dan istri diharapkan dapat saling berbagi tanggung jawab dan tugas dengan dedikasi yang sama. Si suami harus menganggap istrinya sebagai seorang teman, rekan, dan pasangan. Dalam urusan keluarga, si istri diharapkan dapat menggantikan suaminya jika si suami sedang sakit. Faktanya, seorang istri juga diharapkan agar tahu tentang perdagangan, bisnis, atau industri yang dijalankan suaminya, sehingga jika suami tidak tersedia, si istri bisa menjalanan bisnisnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Buddhis, istri menduduki posisi yang setara dengan suami.

Nasihat Sang Buddha kepada Raja Pasenadi, yang merupakan pengikut setia-Nya, jelas-jelas menunjukkan bahwa Buddhisme tidak menganggap bahwa kelahiran seorang anak perempuan adalah sesuatu yang harus diratapi dan dikhawatirkan.

Bhikkhuni
Bhikkhuni

Buddhisme juga tidak membatasi pendidikan maupun kebebasan beragama dari seorang wanita. Sang Buddha menyatakan bahwa wanita juga dapat mencapai penerangan, sama halnya seperti pria. Itulah kenapa Beliau mengizinkan masuknya wanita ke dalam Sangha, meskipun awalnya Sang Buddha tidak setuju karena dikatakan diterimanya wanita ke dalam Sangha dapat menciptakan masalah. Setelah wanita dapat membuktikan kemampuan mereka dalam mengelola urusan mereka dalam Sangha, Sang Buddha mengakui kemampuan dan bakat mereka, serta memberi posisi penting dalam Sangha Bhikkhuni. Dalam naskah-naskah Buddhis, dapat kita baca kisah-kisah mengenai beberapa bhikkhuni luar biasa, yang berbakat hebat dan ahli membabarkan Dhamma. Beberapa di antaranya yaitu Dhammadinna, Khema, dan Uppalavanna.

Theri-gatha mengandung banyak stanza yang dengan jelas mengekspresikan kebahagiaan para bhikkhuni karena dapat memasuki Sangha dan mencapai penerangan.