Seri Tokoh Buddhis #1 – Putri Yasodhara dan Pangeran Siddharta

Hubungan Spiritual Antara Putri Yasodhara dan Pangeran Siddharta

Yasodhara merupakan putri dari Raja Suppabuddha dan Ratu Pamita. Karena Raja Suppabuddha adalah salah satu dari adik Raja Suddhodana, ini berarti Yasodhara juga merupakan sepupu dari Pangeran Siddharta. Yasodhara dilahirkan pada hari yang sama dengan kelahiran Pangeran Siddharta. Putri ini sangat cantik parasnya, dengan kulit keemasan dan rambut biru hitam yang tergerai panjang hingga ke kakinya.

Pangeran Siddharta berusia 16 tahun ketika orang tuanya memutuskan sudah waktunya ia menikah. Sesuai tradisi pada masa itu, untuk memilih pengantin Pangeran Siddharta, diadakan perayaan besar yang dihadiri oleh putri-putri dari seluruh negeri. Setiap putri-putri cantik berbaris dalam suatu prosesi untuk menemui Pangeran Siddharta. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang menarik perhatiannya. Sang Pangeran hanya memberikan hadiah dan kemudian menolak mereka. Ketika prosesi hampir selesai, Yasodhara datang dan bertanya apakah masih ada hadiah yang tersisa untuknya. Karena hadiah sudah habis, maka Pangeran Siddharta memberikannya kalung mutiara yang sedang dipakainya. Semua orang menganggap karena dia satu-satunya yang diberi hadiah unik, Yasodhara lah yang dipilih Pangeran Siddharta untuk menjadi istrinya.

Pada awalnya Raja Suppabuddha menentang perjodohan ini. Dia tahu bahwa ada petapa yang meramalkan bahwa suatu hari Pangeran Siddharta akan meninggalkan istana dan mahkotanya untuk menjadi Buddha. Dia juga merasa bahwa Sang Pangeran yang lembut dan baik hati tidak mungkin mahir dalam peperangan sehingga tidak cocok jadi raja, oleh karena itu tidak pantas bagi putrinya. Akan tetapi, Putri Yasodhara tidak menginginkan siapapun untuk dijadikan suami selain Pangeran Siddharta.

Oleh karena itu, untuk menguji Pangeran Siddharta, Raja Suppabuddha mengadakan sebuah turnamen panahan, menunggang kuda, dan bermain pedang. Para ksatria dari seluruh negeri pun datang untuk menantang Sang Pangeran. Akan tetapi, ternyata Pangeran Siddharta adalah seorang ksatria yang hebat. Dia memenangkan setiap pertandingan dan mengalahkan ksatria-ksatria terbaik di seluruh negeri. Akhirnya, Raja Suppabuddha pun menyerah dan merestui pernikahan putrinya dengan Pangeran Siddharta.

Hubungan Spiritual Antara Putri Yasodhara dan Pangeran Siddharta
Hubungan Spiritual Antara Putri Yasodhara dan Pangeran Siddharta

Hubungan antara Yasodhara dan Pangeran Siddharta sudah dimulai sejak lama sekali, tepatnya bertahun-tahun yang lalu pada masa Buddha Dipankara. Pada saat itu, Pangeran Siddharta (Bodhisattva) terlahir sebagai seorang petapa bernama Sumedha. Setelah sekian lamanya berlatih 10 Sila, Bodhisattva Sumedha akhirnya memenuhi 8 persyaratan untuk menerima pernyataan KeBuddhaan yang pasti dari Buddha Dipankara. Pada waktu itu, Yasodhara terlahir sebagai seorang wanita bangsawan bernama Sumitta. Dia memberikan 8 kuntum bunga teratai kepada Sumedha, yang kemudian mempersembahkannya kepada Buddha Dipankara. Saat itu juga Buddha Dipankara mengatakan bahwa Sumedha akan menjadi Buddha bernama Gotama dari suku Sakya di masa depan. Sumitta yang melihat semua ini bertekad untuk menjadi pendamping Sumedha dan secara aktif membantunya mencapai KeBuddhaan. Aspirasi yang kuat dan karma baik yang dikumpulkan Sumitta sejak lama sekali menyebabkannya terlahir sebagai pasangan dan pendamping Bodhisattva selama banyak kehidupan. Selama jangka waktu yang lama ini, dia selalu mendukung usaha Bodhisattva mencapai Penerangan Sempurna.

Ketika Sang Buddha balik berkunjung ke Kapilavatthu setelah mencapai Penerangan Sempurna, semua orang kecuali Putri Yasodhara memberi hormat padaNya. Sang Putri berpikir, “Jika saya memang pernah memberikan pelayanan yang layak, tentunya Ia akan datang menjumpai saya.” Setelah makan, Sang Buddha bersama dua orang murid utamanya memasuki kamar tempat Yasodhara berada. Buddha berkata, “Biarkan dia melakukan apa saja yang diinginkan.” Saat melihat Sang Buddha, Yasodhara pun segera mendekat dan bersimpuh di kaki Sang Buddha memberikan hormat.

Raja Suddhodana memberitahukan kesetiaan Yasodhara kepada Sang Buddha. Dia mengatakan:

“Ketika Sang Putri mendengar bahwa kamu memakai jubah kuning, dia juga menyerahkan perhiasan-perhiasannya dan mulai memakai jubah kuning. Ketika dia mendengar bahwa kamu hanya makan satu kali sehari, dia juga hanya makan satu kali sehari. Ketika dia mendengar bahwa kamu tidur di atas lantai yang keras, dia juga berhenti tidur di sofa dan tempat tidur istana yang empuk. Dan ketika dia mendengar kamu berhenti memakai karangan bunga dan parfum, dia juga berhenti memakai karangan bunga dan parfum. Ketika keluarganya mengirimkan pesan-pesan dari banyaknya pria muda yang ingin meminangnya, dia bahkan tidak melihatnya.”

Sang Buddha mengakui kesetiaan ini dengan mengatakan bahwa tidak hanya pada kehidupan ini Yasodhara setia dengannya. Beliau kemudian membabarkan Candakinnara Jataka, di mana Yasodhara mengorbankan diri untuk menyelamatkan hidup Bodhisattva dengan melompat di depan panah seorang pemburu.

Yasodhara pun kemudian meninggalkan hidup berumah tangga dan memasuki Sangha Bhikkhuni pada saat yang sama dengan Mahapajapati Gotami. Setelah menjadi Bhikkhuni, Yasodhara lebih dikenal dengan nama Bhaddakaccana atau Rahulamata. Dia kemudian berhasil mencapai tingkat Arahat dan merupakan Bhikkhuni yang paling baik dalam kemampuan batin mengingat kehidupan-kehidupan lampau.

Hanya empat dari siswa Buddha yang memiliki kekuatan ini. Umumnya, siswa-siswa Buddha hanya bisa mengingat hingga 100.000 siklus dunia.

Meskipun begitu, Bhaddakaccana, dua siswa utama Buddha, dan Bakkula, memiliki kemampuan untuk mengingat hingga era-era lalu yang tak terhingga. Bhikkhuni Bhaddakaccana Parinibbana pada usia 78 tahun, sebelum Sang Buddha sendiri Parinibbana.

Mendekati akhir hidup Sang Buddha, ibu tiri sekaligus bibi Sang Buddha, Mahapajapati, beserta Yasodhara (yang dulunya istri Pangeran Siddharta) – keduanya telah menjadi Bhikkhuni dan mencapai penerangan – datang menjumpai Sang Buddha karena mengetahui bahwa ajal sudah mendekat. Mahapajapati – yang tentunya sudah sangat tua saat itu – datang duluan, dan berterima kasih kepada Sang Buddha karena telah memberikannya kebahagiaan Dhamma, karena telah terlahir kembali secara spiritual dari Beliau; karena Dhamma telah tumbuh dalam dirinya berkat Beliau; karena telah meminum susu Dhamma dari Beliau; karena dia telah melewati Samudera Kehidupan berkat Beliau – benar-benar hal yang mulia dikenal sebagai ibu Sang Buddha, katanya.

Dia kemudian melanjutkan: “Saya ingin akhirnya mengistirahatkan tubuh ini. O Pembebas Penderitaan, saya minta izin”. Sang Buddha membalasnya dengan Dhamma dan tidak mencoba menenangkan wanita tua ini dengan kata-kata kosong seperti: “Oh jangan bicara begitu. Kamu tidak akan mati, tapi akan hidup selama bertahun-tahun lagi.” Pada tahap ini, ketakutan akan hidup dan mati tidak ada lagi.

Kemudian, Yasodhara pun datang dengan tujuan yang sama: untuk pamitan dengan Sang Buddha. Setelah memberinya hormat, dia mengatakan bahwa dia sudah berusia 78 tahun. Sang Buddha berkata, “Aku tahu, dan Aku berusia 80 tahun.”

Dia memberitahu Sang Buddha bahwa dia akan Parinibbana malam itu juga. Akan tetapi, nada bicaranya agak berbeda dari Mahapajapati. Dia tidak meminta izin Sang Buddha dan juga tidak memohon perlindungan dariNya. Sebaliknya, dia berkata: “me saranam atthano” (“Saya adalah tempat berlindung saya sendiri”).

Arahat Bhaddakaccana datang untuk berterima kasih kepada Sang Buddha karena telah menunjukkan jalan Dhamma kepadanya. Dia telah menemukan apa yang ada dalam batinnya, dan yang hanya bisa ditemukan di sana.

 

Sumber: terjemahan artikel The Spiritual Relationship Between Yashodharā and Prince Siddhartha dari buddhistpage.com