Raja Asoka dan Peranannya Terhadap Agama Buddha

Masa pemerintahan Raja Asoka merupakan salah satu faktor utama yang berperan dalam penyebaran Buddhisme dari India ke Asia dan akhirnya ke seluruh dunia. Meskipun penyebaran agama Buddha sejak pembentukannya sudah cukup meluas, dengan dukungan dan usaha Raja Asoka lah agama Buddha baru benar-benar bisa tersebar melewati batasan India.

Raja Asoka, namanya berarti “Tanpa penderitaan”, merupakan salah satu dari 101 putra Raja Bindusara, penguasa Dinasti Maurya di India, yang mempunyai 16 istri. Akan tetapi, karena ia bukanlah anak tertua, berarti bukan ia pewaris tahta kerajaan. Oleh sebab itu, dikatakan Asoka membunuh semua saudara-saudaranya, kecuali satu orang yang terlahir dari ibu yang sama, untuk menjadi raja. Hal inilah yang menyebabkan Asoka disebut Candasoka, yang artinya Asoka yang kejam. Tetapi, fakta ini pun masih belum pasti, karena menurut prasasti peninggalan Raja Asoka, dikatakan ia masih memiliki banyak saudara yang masih hidup saat prasasti tersebut ditulis.

Setelah menjadi raja, ia memulai perang dengan negara-negara tetangga untuk memperluas teritori kerajaannya. Salah satu peperangan yang disebabkannya yaitu Perang Kalinga. Selama perang tersebut, banyak sekali nyawa dan darah yang tumpah. Setelah melihat penderitaan yang dialami rakyatnya dan bertemu Samanera Nigrodha yang mengenalkannya pada ajaran Buddha, Raja Asoka mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan cara berkuasa yang penuh kekerasan. Selanjutnya, ia pun menganut agama Buddha dan mulai mempraktikkan Dhamma.

Berkat posisinya sebagai raja dari sebuah kekaisaran India terbesar yang hanya akan dibandingi oleh Kerajaan Inggris 2000 tahun kemudian, kontrol atas wilayah luas inilah yang menjamin keberhasilan penyebaran dan perkembangan pesat dari agama Buddha saat itu. Raja Asoka menyebarkan agama Buddha dengan cara menjadikannya sebagai agama nasional pada tahun 260 SM, mengunjungi secara langsung atau mengirimkan diplomat ke negara-negara lain, seperti Roma, Mesir, Macedonia, negara-negara di sampai negara-negara di Asia Tenggara.

Kerajaan Maurya
Kerajaan Maurya

Selain itu, ia juga sering berkeliling kerajaannya untuk menyebarkan Dhamma kepada rakyatnya dan mengurangi penderitaan mereka. Ia memerintah pejabat-pejabat negerinya untuk melakukan hal yang sama, serta selain melakukan tugas biasa mereka; juga untuk selalu menyadari kesenangan dan kesedihan para rakyat biasa serta untuk selalu cepat dan adil dalam menegakkan keadilan. Sekelompok petinggi khusus, yang disebut “menteri Dhamma”, ditunjuk untuk mengajarkan Dhamma kepada publik, mengurangi penderitaan kapanpun ditemukan, serta mengurus kebutuhan khusus dari para wanita, orang-orang yang tinggal di pedalaman dan perbatasan, orang-orang di kerajaan lain, serta komunitas-komunitas penganut berbagai agama lainnya. Diperintahkan bahwa segala hal yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat harus dilaporkan kepadanya setiap waktu. Raja Asoka berkata, satu-satunya kejayaan yang diinginkannya yaitu untuk menuntun rakyatnya menuju jalan Dhamma. Tanpa ragu lagi, pembaca prasasti cerita hidupnya bisa merasakan dedikasinya melayani rakyat. Menurutnya, ia lebih berhasil mencapai sesuatu dengan cara bicara baik-baik dengan orang lain daripada hanya memberikan perintah sesuka hati.

Di antara fasilitas publik yang dibangunnya yaitu rumah sakit bagi manusia dan hewan, serta untuk menyediakan obat-obatan, dan penanaman pohon di pinggir jalan, penggalian sumur, serta konstruksi tempat persinggahan dan peristirahatan. Terdapat juga perintah untuk menjaga kebersihan publik dan mencegah tindak kekerasan terhadap hewan. Akan tetapi, setelah kematian Asoka, kerajaan Mauryan runtuh dan banyak kerjanya yang ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah catatan tentang apa yang ia usahakan untuk capai serta impian tinggi yang terdapat dalam dirinya.

Pilar Asoka
Pilar Asoka

Tak terelakkan lagi, bahwa satu hal yang bertahan dari Raja Asoka sampai saat ini yaitu dedikasinya terhadap agama Buddha. Ia telah membangun sejumlah besar stupa dan vihara, serta mendirikan pilar-pilar di mana diukirkan pemahamannya mengenai doktrin religius. Ia mengambil tindakan untuk menekan perpisahan antar Sangha serta menyediakan pendidikan tentang kitab suci bagi yang berminat. Sebuah tarikh Sri Lanka berjudul Mahavamsa mengatakan bahwa ketika diputuskan akan dikirimkan diplomat untuk menyebarkan Dhamma ke luar negeri, Asoka mengirimkan putra dan putrinya sendiri sebagai misionaris ke Sri Lanka. Berkat dukungan yang diberikan Raja Asoka kepada Buddhisme; yang saat itu masih merupakan agama yang terbatas pada suatu daerah, agama Buddha dapat tersebar ke seluruh India dan akhirnya ke luar negeri.