Sadar, Sabar, Selamat

“Buddha tidak menjamin keselamatan!”

“Tidak ada keselamatan dalam agama Buddha!”

“Umat Buddha mana mungkin ke ke surga!”

Tiga pernyataan di atas mungkin kerap didengar dan membuat kuping agak panas. Mereka yang tidak belajar, mendalami dan memahami ajaran Buddha sering berkoar-koar tentang ajaran Buddha. Ini tentu saja lucu, aneh dan dangkal sekaligus menunjukkan yang empunya pendapat tak punya isi. Ibarat orang yang tidak mengerti fisika, tapi sok mengatakan bahwa fisika tak ada gunanya. Seperti orang yang tidak bisa berenang tapi sibuk mengajari orang berenang. Meski kuping mungkin agak panas, tapi tak perlu panas berlama-lama. Bukankah marah kepada orang gila hanya menunjukkan bahwa kita lebih gila? Acuhkan saja mereka. Tak perlu didebat kecuali memang saatnya tepat dan ilmu Anda sudah cukup kuat. Jika belum, ingat saja kata pepatah. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Tapi apa benar bahwa agama Buddha dan bahkan Buddha sendiri tidak menjamin keselamatan? Yah, memang benar. Seperti bahasa Inggris tidak menjamin Anda pasti pintar berbahasa Inggris. Guru Anda juga tidak menjamin Anda bisa lancar dan terampil berbahasa Inggris. It takes two to tango. Butuh dua orang untuk menari tango. Bukan saja guru yang harus mengajar dengan baik, murid juga wajib belajar dengan baik. Bukan Buddha saja yang telah dengan welas asih kepada semua mahluk mengajarkan Dharma, semua mahluk juga harus mau dan wajib belajar dan mempraktikkan ajaran Buddha. Jika Anda praktik, minimal lima latihan sila, Anda pasti bisa masuk surga.

Selain sila, salah satu ajaran Buddha yang penting dan utama adalah praktik sadar-penuh yang kita wujudkan dalam latihan hidup sadar. Hidup sadar berarti hidup dalam kekinian, hidup di saat ini. Kita sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi di sini dan di sekarang, baik di dalam maupun di luar diri kita. Kita tahu kita sedang berada di mana kemudian berperilaku dan bertindak sesuai dengan lingkungan kita. Kita sadar kita ada di vihara dan mengikuti puja bakti. Membaca paritta, meditasi, mendengarkan dan merenungkan dharma adalah perilaku saat puja bakti dan bukan membuka pesan singkat, bermain game apalagi menonton video tidak pantas.

Praktik hidup sadar membuat kita menjadi lebih tenang, damai dan bahagia. Hidup saat ini membuat kita bersyukur bahwa kita telah memiliki semua sebab untuk bahagia di saat ini. Lama sudah kita sering terjebak dalam penyesalan di masa lalu serta harapan dan kecemasan akan masa depan. Masa lalu dan masa depan tidak nyata. Masa lalu telah berlalu dan masa depan belum tiba. Mereka adalah hasil proyeksi pikiran kita. Akhirnya kita menjadi kehilangan satu-satunya waktu yang paling berharga, yaitu saat ini. Satu-satunya saat dimana kita bisa berbuat untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna dan bahagia.

Mari nikmati hidup di saat ini. Sadari setiap hal yang kita lakukan. Kita mulai berlatih untuk fokus pada hal-hal yang kita sedang lakukan dengan tubuh fisik kita. Saat berjalan, membuka pintu, mengetik pesan di smartphone, dan sebagainya. Jumput kopi dan teh dengan sadar penuh dan rasakan nikmatnya kopi atau teh terbaik. Untuk apa minum kopi di tempat yang mewah dan mahal tapi tak bisa menikmatinya sama sekali. Nikmati rasa kopi Anda dengan sungguh-sungguh hadir di saat ini bersama kopi Anda.

Salah satu buah paling nyata dari praktik hidup sadar adalah menjadi sabar. Sadar-penuh membuat seseorang tidak lekas marah. Ia mampu melihat dengan jernih apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Dengan bernafas masuk dan keluar dengan sadar, ia amati kondisi sebelum mengambil reaksi. Acap kali orang kebanyakan lupa untuk mengamati tapi langsung bereaksi. Akibatnya lalu disesali. Ini buah dari tidak sadar. Saat sadar, emosi dengan cepat dapat diamati dan diatasi. Jika sudah sadar lalu sabar bukanlah hidup akan selamat. Lalu kata siapa di agama Buddha tidak ada keselamatan. Sok tahu!

Be mindful be happy

 

Sumber: Majalah BVD No. 158, Juni-Juli 2014