Saudagar yang Serakah

(Jurudapanna – Jataka #256)

Pada masa pemerintahan Raja Brahmadatta di Benares, Bodhisatta terlahir di keluarga saudagar. Beliau tumbuh menjadi saudagar yang sukses.

Pada suatu hari Bodhisatta pergi dengan kereta besar untuk berdagang. Perjalanan itu sungguh sulit. Suatu ketika Bodhisatta dan para saudagar lainnya mulai kehabisan persediaan air dan kehausan. Mereka tiba di sumur tua di dalam hutan. Mereka segera bergegas mengambil air untuk diminum.

Sayangnya sumur tua itu telah kering. Namun para saudagar tetap berusaha mencari air dari sumber tersebut. Mereka mulai menggali dan menggali sumur lebih dalam untuk mencari air. Ketika menggali lebih dalam, mereka menemukan barang berharga, sepertl emas, perak, permata, mutiara, dan lain-lain.

Setelah mengumpulkan cukup banyak harta, Boddhisatta berkata kepada para saudagar lainya, “Kita telah memperoleh cukup harta untuk hidup dalam keadaan kaya raya. Bersyukurlah! Jangan serakah! Karena keserakahan dapat menghancurkan diri kalian.”

Para saudagar lainnya mengabaikan saran Bodhisatta. Mereka masih terus menggali lebih dalam. Mereka tidak mengetahui bahwa sumur itu dihuni oleh para naga. Ketika para saudagar telah menggali terlalu dalam, bongkahan tanah jatuh mengenai kepala para naga sehingga para naga menjadi sangat marah. Raja naga memerintahkan para naga untuk membunuh para saudagar kecuali Bodhisatta dengan api yang dihembuskan dari lubang hidung mereka.

Kemudian raja naga muncul dan menghadiahkan seluruh harta karun kepada Bodhisatta. Harta itu digunakan Bodhisatta untuk menolong orang-orang yang miskin dan membutuhkan. Perbuatan baik Bodhisatta tersebar ke seluruh India. Setelah meninggal dunia, Bodhisatta terlahir di alam surga.

“Janganlah menjadi tamak, ketamakan membawa kesengsaraan.”

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi Pertama