Sejarah Mata Air Umbul Jumprit

Mata air Umbul Jumprit memiliki spiritual yang sangat tinggi. Umat Budha dari dalam maupun luar negeri sering mengunjungi Umbul Jumprit yang berada di Desa Tegalrejo, kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Biksu Diana Duta mengatakan, air di Agama Buddha mempunyai filosofi yang sangat tinggi, di mana air memberikan kehidupan ke semua makhluk hidup tanpa terkecuali.

“Kita sebagai manusia harus mempunyai sifat mirip dengan air yaitu memberikan kehidupan, artinya di dalam diri kita ada sebuah cinta kasih yang tidak terbatas dan cinta kasih inilah yang membuat hati kita tenang, tenteram, damai, dan membawa kebahagiaan bagi orang lain bahkan kepada semua makhluk,” jelasnya.

Ia menambahkan air mempunyai sifat rendah hati, dimana air ketika memberikan kehidupan dia tidak memilih kepada siapa pun dan air walaupun dihina, artinya ketika orang sudah menggunakan air dia buang di selokan, dikotori, dia tidak pernah marah, dia tetap memberikan sumbangsih kepada kehidupan.

Seorang biksuni dari Majelis Umat Buddha Theravada Indonesia (Majubuthi), Maitri Kusala, menambahkan air juga bermakna membersihkan.

“Kadang-kadang jiwa manusia itu diliputi jiwa kotor, dengan rasa benci, keserakahan, kesombongan, egois. Serakah akan kedudukan, serakah akan kekayaan. Dengan air suci ini manusia diharapkan bisa sadar akan jiwanya, lalu pelan-pelan untuk koreksi diri sendiri.”

Sejak tahun 1987, mata air Umbul Jumprit menjadi tempat mengambil air untuk keperluan Waisak di Candi Borobudur karena diteliti memiliki kualitas spiritual yang baik. Biasanya, tiga hari sebelum perayaan Waisak di Candi Borobudur, Sangha atau komunitas bhiksu mengambil air dari Umbul jumprit untuk digunakan dalam ritual di Borobudur.

Kawasan Umbul Jumprit ditetapkan sebagai kawasan wanawisata atau wisata hutan, khususnya hutan pinus, oleh Pemkab Temanggung pada tanggal 18 Januari 1987. Selain itu, kawasan ini juga menawarkan agrowisata, perkemahan, dan habitat kera liar. Jalan masuk menuju Umbul Jumprit ditandai oleh gerbang dengan arsitektur Jawa kuno. Sekitar 30 meter di dalamnya terdapat gerbang kedua dan sebuah patung Hanoman.

“Makna pengambilan air dalam rangka memperingati hari Tri Suci Waisak ialah air suci ini untuk membersihkan jiwa kita, jiwa manusia.”

Para biksu mengambil air berkah dari Umbul Jumprit untuk upacara ritual Air Berkah Tri Suci Waisak di Candi Borobudur. Pengambilan air berkah diawali dengan puja bakti oleh masing-masing majelis agama Buddha di altar yang tersedia di kawasan Umbul Jumprit.

Sejumlah biksu menyalakan lilin lima warna di altar tersebut, yakni warna biru melambangkan bakti, warna kuning (bijaksana), merah (cinta kasih), putih (kesucian), dan warna oranye (Semangat).

Sejarah Mata Air Umbul Jumprit

Di pintu masuk umbul Jumprit terdapat bangunan candi khas peninggalan situs Buddha. Ada pula dua buah patung penjaga yang menjadi penanda situs yang sama.

Umbul Jumprit sendiri masuk wilayah hutan yang dikelola Perhutani, di area Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kedu Utara, Resot Pemangku Hutan (RPH) Kwadungan Petak 8A, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Temanggung.

Sehari-harinya, mata air Jumprit dimanfaatkan oleh warga desa untuk air minum, mandi, dan cuci. Mereka mengalirkan lewat selokan kecil dan pipa-pipa menuju bak penampungan. Warga biasa membuat bak penampungan di depan rumah.

Menurut Mujoko, petugas Perhutani, meski mata air hanya satu titik namun debit terbilang besar. Sumber terletak di ujung goa. Agak ke bawah dari goa ada sepasang makam yang dikenal sebagai eyang Nujum Majapahit atau Ki Jumprit. Keduanya diduga suami istri.

“Yang memakai air umbul Jumprit warga desa Katekan, Giripurno, Tegalrejo, Canggal, Kentengsari, Mento, kecamatan Ngadirejo. Bahkan PDAM Temanggung juga memanfaatkan,” katanya.

Dari bukti-bukti yang ada seperti patung, gapura, dan legenda yang dipercaya masyarakat sekitar diperkirakan situs Jumprit adalah peninggalan kerajaan Majapahit.

Majapahit adalah kerajaan Hindu Buddha yang pada masa kejayaannya pada abad ke-14 berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Wilayah kekuasaan diperkirakan pernah sampai ke Thailand dan melahirkan tokoh pemersatu Nusantara, patih Gadjah Mada.

Di kawasan hutan Jumprit masih bisa ditemukan pohon berusia ratusan tahun, seperti cemara dan beringin. Kawasan ini juga habitat berbagai macam satwa.

“Ada burung jalak, monyet, musang, luwak. Menjangan ada di atas di Gunung Sindoro. Cemara yang dekat pintu masuk itu ratusan tahun.”

Kala pemberkatan air Waisak tampak beberapa monyet ekor panjang mendekat ke arah para biksu. Sepertinya mereka tertarik dengan buah-buahan di meja pemberkatan.

Selain dingin dan jernih sumber air Jumprit juga tak pernah kering.

“Musim kemarau tetap mengalir. Musim hujan meluber. Debit per detik 85 liter, itu dulu. Sekarang belum tahu.”

Mata air Jumprit adalah hulu Sungai Progo, mengalir hingga laut Selatan pulau Jawa. Itu sebabnya banyak orang percaya mata air Jumprit memiliki kekuatan.

“Bukan hanya umat Buddha, umat yang lain juga. Warga desa, setiap selesai panen tembakau di sini ada selamatan memakai ingkung. Diikuti warga Jumprit sekitar 300 orang, biar diberi keselamatan.”

“Kalau yang percaya, airnya menyembuhkan penyakit, doa-doanya terkabul,” kata Mujoko.

Nama “Jumprit” disebutkan dalam Serat Centhini, dan dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit. Ia meninggalkan kerajaan agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas.

Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Beberapa tokoh masyarakat meyakini, Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Ki Jumprit bahkan pernah meramalkan, suatu saat nanti Temanggung akan menjadi daerah yang makmur.

Ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai pelintasan Ki Jumprit. Makamnya pun berada tak jauh dari Umbul Jumprit. Dua lokasi inilah yang kerap dikunjungi peziarah. Biasanya mereka lelaku dengan cara kungkum atau berendam pada Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Usai kungkum, mereka membuang pakaian sebagai simbol membuang sial, sekaligus berharap rezeki baru bakal datang. Airnya pun diyakini bisa membuat awet muda dan dekat jodoh.

Populasi kera di kawasan Umbul Jumprit dipercaya sebagai keturunan Ki Dipo, yaitu monyet yang menemani Ki Jumprit bertapa, dengan seekor kera betina dari Pegunungan Pleret. Jumlahnya adalah sekitar 25-30 ekor dan dipercaya tidak pernah bertambah atau berkurang.

Sementara, ritual mandi di Umbul Jumprit dipercaya dapat membuat seseorang menjadi awet muda dan menyembuhkan berbagai penyakit serta memberi berkah. Dipercaya, kawasan umbul dijaga oleh Naga, makhluk tak kasat mata berbentuk ular yang eksis di dimensi lain.