Sejarah Shwedagon

Pagoda adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk menyimpan relik-relik para Buddha dan benda-benda suci peninggalan para Buddha, sehingga pagoda merupakan tempat yang sangat sakral untuk melakukan puja bakti ataupun meditasi. Setiap umat yang melakukan puja bakti dengan melafalkan paritta ataupun meditasi akan memperoleh berkah yang sangat mulia.

Shwedagon adalah pagoda paling agung di dunia, dibandingkan atas ukuran dan kehebatan arsitektur dengan Angkor Wat (Kamboja) dan Borobudur (Indonesia). Kata “shwe” berarti emas dan “dagon” adalah nama terdahulu dari kota Yangon (Ibukota Myanmar). Maka, “Shwedagon” memiliki arti pagoda emas di kota Dagon. Pagoda tersebut dipercaya telah dibangun sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu, dimana pada saat Sang Buddha Gautama masih hidup. Menurut legenda dari pagoda tersebut, dua orang bersaudara yang berprofesi sebagai pedagang dari Myanmar, bernama Tapussa dan Bhallika, memimpin karavan kereta kerbau ke India dan menemui Sang Buddha yang baru mencapai Kesempurnaan atau KeBuddha-an.

Kedua bersaudara itu pun mempersembahkan madu dan sejenis kue yang bernama Kywet Kyit kepada Buddha dan menerima sebagai balasan delapan helai rambut dari Buddha. Kedua bersaudara tersebut dan pengikutnya dengan bahagia kembali ke kampung halamannya, Okkalapa (juga merupakan nama sebelumnya dari Yangon). Penguasa Okkalapa, yang telah mendengar kabar yang luar biasa tersebut, kemudian menyambut ketibaan rambut suci tersebut dengan upacara penyambutan yang besar. Rambut-rambut tersebut disimpan di dalam sebuah pagoda yang dibangun khusus untuk tujuan tersebut.

Saat itu, pertama kali pagoda tersebut dibangun, hanya memiliki tinggi 66 kaki. Pagoda tersebut memiliki tinggi dan bentuk seperti sekarang ini hanya pada abad ke 14 dan 15, yang mana ketika itu ia dibangun kembali dan diperbesar oleh pewaris tahta dan ratu kerajaan Mon, yang memerintah selama beberapa saat dalam sejarah kuno Myanmar. Namun, masih banyak raja-raja Myanmar yang telah berjasa melakukan pengembangan terhadap pagoda tersebut dan daerah sekitarnya. Memasang “htees” atau payung-payung dan lonceng-lonceng, melapisi dengan emas, membangun rumah-rumah peristirahatan, dan “tazaungs” atau aula-aula untuk pemujaan.

Aula kebaktian dalam Shwedagon

Sekarang ini, pagoda tersebut telah memiliki ukuran setinggi 326 kaki dan keliling dasar/fondasi sepanjang 1420 kaki. Awalnya, pagoda tersebut hanya dilapisi dengan emas. Kemudian, bagian atas dari pagoda tesebut ditutupi dengan kepingan emas sebesar lebih kurang 30 cm2 . Sedangkan pada bagian payung, dilapisi dengan emas dan ditaburi permata yang tak ternilai harganya. Anda mungkin baru dapat menyadari bahwa orang Myanmar sangat bermurah-hati.

Oleh karena itu, mereka hanya mempersembahkan sesuatu yang terbaik kepada pagoda-pagoda, terutama Shwedagon yang agung — lambang dari Buddha. Hasilnya menjadikan pagoda Shwedagon sebagai tempat penyimpanan sesuatu yang berharga dan terbaik dalam kebudayaan Myanmar – arsitektur, pahatan, kesenian, kerajinan tangan, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, merupakan museum unik untuk kesenian dan kerajinan tangan Myanmar. Itu sebabnya kompleks Shwedagon dijadikan sebagai tempat tujuan wisata utama. Dari tangga hingga bangunan – bangunan yang banyak dan pagoda itu sendiri, segala sesuatu dari Shwedagon mengandung keindahan dan keagungan pemujaan. Shwedagon merupakan tempat pemujaan paling sakral di dunia dan juga karya seni arsitektur yang hebat.

Shwedagon pada malam hari

Sebagian besar bangunan-bangunan di sekeliling pagoda didekorasi dengan contoh terbaik lukisan Myanmar dan arca sehingga hanya dengan belajar beberapa jam tentang pagoda tersebut dan lingkungannya, dapat memberikan kita gambaran yang baik tentang kesenian dan keahlian masyarakat Myanmar.