Semangka Sang Milyuner

Seorang pemuda sangat mengagumi kelihaian seorang milyuner yang sukses dalam dunia bisnis. Ia lalu datang ke rumah milyuner itu mencoba mengorek rahasia kesuksesannya.

Mengetahui maksud kedatangan pemuda itu, sang milyuner diam membisu, lalu masuk ke ruang makan dan kembali dengan sebuah semangka di kedua tangannya. Pemuda itu tidak mengerti apa yang akan diperbuat sang milyuner, ia hanya dapat menatap bingung tak mengerti apa hubungan kiat bisnis dengan semangka.

Sang milyuner membelah semangka itu menjadi tiga bagian yang tidak sama besarnya, lalu meletakkannya di depan pemuda itu sambil berkata, “Kalau setiap potong semangka ini diumpamakan sebagai besaran keuntungan usaha yang berbeda tingkatannya, mana yang akan kamu pilih?” Sehabis berkata, milyuner menunjuk meminta sang pemuda memilih satu di antara tiga potongan semangka itu.

Pemuda itu mengincar potongan paling besar. “Sudah tentu saya memilih yang paling besar,” jawabnya. “Oke, ambil dan makan.” Milyuner tersenyum sambil menyodorkan potongan paling besar pada sang pemuda. Milyuner itu sendiri mengambil potongan paling kecil.

Saat pemuda itu masih sedang menikmati potongan semangkanya yang besar, milyuner sudah memakan habis potongan semangka yang paling kecil. Lalu milyuner itu mengambil potongan yang terakhir dan sambil tersenyum ia memamerkan potongan semangka itu di depan mata si pemuda sebelum akhirnya ia melahapnya habis.

Bila diperhatikan secara seksama, jumlah potongan paling kecil dan potongan terakhir lebih banyak daripada satu potongan yang paling besar.

Pemuda itu akhirnya paham dengan apa yang disampaikan oleh milyuner itu: meski milyuner pada awalnya memakan potongan semangka yang lebih kecil daripada potongan semangka sang pemuda, namun akhirnya justru mendapatkan jumlah yang lebih besar daripada sang pemuda.

Hidup ini adalah pilihan, ingin berhasil dalam hidup, belajarlah melakukan pilihan yang tepat, pun jangan kemaruk akan keuntungan jangka pendek. Demikian pula cara kerja kebodohan batin dalam menipu mata batin kita. Kebodohan batin, atau disebut juga kegelapan batin itu, sebenarnya tidak bodoh, ia justru sangat pandai, ia sangat pandai membodohi batin kita yang murni sehingga menjadi keruh, penuh dengan keserakahan, kebencian dan kebodohan. Lakukan pilihan yang tepat, langkah awal untuk itu adalah kenali, pelajari dan terapkan Buddha Dharma.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 7 No. 3, September 2009 – Desember 2009