Seni Kebahagiaan

Prinsip dasar psikologi tentang kelakuan adalah bahwa perasaan kita dipolarisasikan menjadi dua kutub yang saling berlawanan, yaitu perasaan sakit dan satu kutub lainnya adalah perasaan senang. Keinginan untuk memperoleh kesenangan dan menghindari perasaan sakit dianggap sebagai motivasi dasar dari kelakuan. Dalam psikologi Barat, dikenal istilah destructive emotions, yaitu kebahagiaan dicapai dengan mengembangkan emosi-emosi positif dan mengenyahkan emosi-emosi negatif.

Buddha mengajarkan bahwa sebab musabab dari penderitaan adalah kemelekatan pada diri. Tetapi, tahukah Anda dimana letak diri itu? Dalam tubuh? Di kepala? Atau pun di jantung? Mungkin… ada yang bilang di pikiran? Tetapi di bagian mana dalam pikiran?

Menurut pandangan Buddhis, diri yang kekal dan independen itu tidak bisa ditemukan. Dalam Udana.2.1 dikatakan bahwa : “Kebahagiaan tertinggi adalah menghilangkan kesombongan Aku.”

Jadi, merupakan suatu kekeliruan bila kebahagiaan dicari dengan mengejar nafsu dan menghindari sesuatu yang tidak disukai.

Piya Vagga XVI, 210 mengajarkan bahwa : “Janganlah melekat pada apa yang dicintai, ataupun apa yang tidak dicintai. Perpisahan dengan apa yang dicintai adalah penderitaan! Perjumpaan dengan apa yang dicintai juga penderitaan!”

Buddha mengatakan bahwa justru keinginan egois untuk mendapatkan kebahagiaan yang merupakan penyebab utama dari penderitaan. Rahasia kebahagiaan dalam Buddhisme adalah transformasi diri. Salah satu cara menemukan kebahagiaan adalah tidak mengingat hal-hal buruk yang telah lewat, dan tidak cemas dengan hal-hal yang akan datang. Tapi hidup dengan kesadaran penuh (mindful living) dalam kekinian, melihat objek secara mendalam. Dalam Samyutta Nikaya, 1.5 dikatakan bahwa: “Bagi mereka yang tidak mengharapkan apa-apa yang akan datang, tidak menyesali hal-hal yang telah lewat, menjalani hidup pada saat ini, maka kehidupan mereka akan tenang.”

 

Sumber: Majalah BVD No. 119, Oktober 2008