Serivanija Jataka: Para Pedagang Seriva 

Agar seorang bhikkhu yang patah semangat tidak akan menyesal di kemudian hari, Sang Buddha menceritakan kisah ini di Savatthi untuk mendorongnya agar bertahan. “Jika kamu menyerah dalam berlatih untuk mencapai Nibbana, kamu akan menderita seperti pedagang dari Seriva, yang rugi sebuah mangkuk emas mahal.”

Berikut ini kisah masa lampau yang diceritakan Sang Buddha.

Berkalpa-kalpa yang lalu, Bodhisatta merupakan seorang pedagang barang mewah yang jujur di Kerajaan Seriva. Terkadang, ia berpergian dengan seorang pedagang lain yang berjualan barang yang sama, dan berasal dari kerajaan yang sama pula. Akan tetapi, orang ini sifatnya serakah dan tamak.

Suatu hari, mereka berdua menyeberangi sungai Telavaha untuk berbisnis di kota Andhapura. Seperti biasa, untuk menghindari persaingan, mereka membagi kota menjadi dua daerah dan mulai menjajakan dagangan dari pintu ke pintu di area masing-masing.

Di kota tersebut, terdapat sebuah rumah besar yang bobrok. Bertahun-tahun sebelumnya, keluarga yang tinggal di situ adalah saudagar kaya, tapi pada waktu cerita ini dimulai, kekayaan keluarga tersebut sudah tidak ada lagi, dan seluruh anggota keluarga pria telah meninggal. Anggota keluarga yang selamat hanyalah seorang anak gadis dan neneknya. Mereka berdua mencari uang untuk hidup dengan kerja serabutan.

Sore hari itu, ketika si pedagang tamak sedang berjualan, ia tiba di depan pintu rumah bobrok tersebut, dan menyerukan, “Dijual manik-manik! Dijual manik-manik!”

Ketika si gadis mendengar seruannya, ia memohon, “Bolehkah saya membeli satu perhiasan kecil, Nenek?”

“Kita sangat miskin, Nak. Tidak ada sesen pun uang di rumah kita, dan tidak ada barang yang bisa kita tukarkan.”

Tiba-tiba, si gadis ingat bahwa ada sebuah mangkuk tua. “Lihat!” serunya. “Di sini ada sebuah mangkuk tua yang tidak ada gunanya bagi kita. Mari kita tukarkan dengan sesuatu yang bagus.”

Apa yang ditunjukkan gadis muda kepada neneknya adalah mangkuk tua milik almarhum saudagar sebagai kepala keluarga. Ia selalu memakan kari dari mangkuk cantik dan mahal ini. Setelah kematiannya, mangkuk ini disimpan di antara panci dan wajan lainnya, sehingga akhirnya terlupakan. Sejak saat itu, mangkuk tersebut telah tertutup sepenuhnya dengan kotoran dan debu. Si nenek dan cucunya sama sekali tidak tahu bahwa mangkuk ini sebenarnya adalah mangkuk emas.

Wanita tua tersebut pun meminta si pedagang untuk masuk ke rumah dan duduk. Ia menunjukkan mangkuk tersebut kepada si pedagang dan berkata, “Tuan, cucu saya menginginkan sebuah perhiasan kecil. Apakah Anda akan berbaik hati mengambil mangkuk ini dan memberikan sesuatu padanya sebagai imbalan?”

Si pedagang mengambil mangkuk tersebut dan memeriksanya dengan seksama. Kemudian, karena menduga bahwa nilai mangkuk ini sebenarnya lebih berharga, ia pun mencoba menggores mangkuk dengan sebuah jarum, untuk menyingkirkan kotoran yang menempel. Benar saja, ternyata mangkuk tersebut terbuat dari emas asli.

Si pedagang lalu duduk diam sambil berpikir apa yang harus dilakukan, hingga keserakahan pun muncul dalam hati. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba mendapatkan mangkuk tersebut tanpa membayar apapun kepada si wanita tua. Sambil pura-pura marah, si pedagang menggeram, “Kenapa kamu membawakan saya mangkuk bodoh ini? Barang ini tidak berharga sepeser pun!” Ia kemudian mencampakkan mangkuk itu ke lantai, bangkit dari duduk, dan berjalan dengan angkuh keluar dari rumah sambil pura-pura bertingkah jijik.

Karena sebelumnya kedua pedagang sudah bersepakat bahwa salah satu dari mereka boleh mencoba menjajakan dagangan di jalan yang sudah dilewati pedagang lainnya, si pedagang jujur pun datang ke jalan yang sama beberapa waktu kemudian. Ia akhirnya sampai ke pintu rumah tersebut, dan berseru, “Dijual manik-manik!”

Sekali lagi si gadis muda memohon kepada neneknya, dan si wanita tua berkata, “Sayangku, pedagang pertama tadi membuang mangkuk kita ke lantai dan buru-buru keluar rumah. Apa lagi yang bisa kita tawarkan?”

“Oh, tapi pedagang yang tadi jahat, Nek. Kalau yang satu ini kelihatannya baik hati. Saya rasa ia pasti akan mengambilnya.”

“Kalau begitu baiklah. Panggillah dia masuk.”

Ketika si pedagang masuk ke dalam rumah, kedua wanita itu mempersilahkan ia untuk duduk dan dengan malu-malu menyerahkan mangkuk tersebut ke tangannya. Dengan segera, ia mengenali bahwa mangkuk itu terbuat dari emas dan berkata, “Bu, mangkuk ini harganya 100.000 kepingan perak. Maafkan saya tidak bisa membeli mangkuk ini, saya tidak punya uang sebanyak itu.”

Terkejut akan perkataan si pedagang, wanita tua tersebut pun berkata, “Tuan, tadi ada pedagang lain yang mengatakan bahwa mangkuk saya tidak berharga sepeser pun. Ia marah-marah, membuangnya ke lantai, dan langsung keluar. Jika mangkuk ini benar-benar tak berharga, itu berarti mangkuk ini pasti berubah jadi emas berkat kebaikan hati Anda. Ambillah mangkuk ini, cukup berikan kami secukupnya saja. Kami akan merasa lebih dari puas.”

Pada saat itu, si pedagang hanya punya uang 500 keping perak dan barang-barang dagangan yang totalnya seharga 500 keping perak. Ia pun memberikan semua kepada kedua wanita tersebut, sehingga hanya tersisa timbangan dan tasnya, serta 8 koin untuk biaya pulang. Tentu saja, pasangan nenek dan cucu pun dengan senang setuju. Setelah masing-masing saling berterima kasih sebesar-besarnya, si pedagang cepat-cepat menuju ke sungai dengan mangkuk emas tersebut. Ia lalu membayar biaya 8 koin kepada tukang perahu dan kembali ke kota asalnya.

Kemudian, tidak lama setelah pedagang jujur pergi, si pedagang tamak kembali ke rumah tersebut sambil berpura-pura mempertimbangkan kembali tawaran mereka. Ia meminta kedua wanita untuk memberikannya mangkuk mereka, dan ia akan memberi mereka sesuatu sebagai gantinya.

Si wanita tua langsung marah-marah kepadanya. “Bangsat kau!” serunya. “Kamu bilang bahwa mangkuk emas kami tidak berharga sepeser pun. Untung saja seorang pedagang jujur datang setelah kau dan mengatakan bahwa mangkuk kami harganya 100.000 keping perak. Dia memberi kami 1000 perak sebagai ganti mangkuk itu, jadi kamu sudah terlambat!”

Ketika pedagang itu mendengar perkataan si nenek, rasa sakit yang sangat hebat pun melandanya. “Dia merampok aku! Dia merampok aku!” tangisnya. “Dia mengambil mangkuk emas berharga 100.000 keping punyaku!” Pedagang ini lalu berteriak histeris dan hilang kendali. Ia membuang semua uang dan barang dagangan, merobek kausnya, mengambil balok timbangan sebagai pemukul, dan langsung berlari cepat ke pinggiran sungai untuk mengejar si pedagang jujur.

Pada waktu ia sampai ke sungai, perahu sudah sampai di tengah-tengah. Ia pun berteriak-teriak memanggil perahu untuk kembali ke pinggiran, tapi si pedagang jujur, yang sudah membayar, dengan tenang menyuruh tukang perahu untuk tetap lanjut.

Si pedagang yang frustrasi akhirnya hanya bisa berdiri di pinggir sungai dan menyaksikan saingannya kabur dengan mangkuk emas itu. Hal ini membuatnya begitu murka sehingga rasa benci yang luar biasa muncul dalam dirinya. Jantungnya terasa panas, dan darah menyembur keluar dari mulut. Akhirnya, jantungnya pecah layaknya tanah di dasar kolam yang kering terkena sinar matahari. Begitu kuatnya rasa benci tidak masuk akal pedagang ini terhadap saingannya hanya gara-gara mangkuk emas, sampai-sampai pada saat itu juga ia meninggal di sana.

Si pedagang yang jujur kemudian kembali ke Seriva, di mana ia melewati hidup dengan berdana dan berbuat baik, lalu meninggal dunia dengan tenang pada waktunya.

Ketika Sang Buddha menyelesaikan kisah ini, Beliau mengaitkan diri-Nya sebagai pedagang jujur tersebut, sedangkan Devadatta adalah si pedagang tamak. Inilah asal-usul dendam Devadatta terhadap Bodhisatta yang bertahan selama kehidupan-kehidupan yang tak terhitung banyaknya.