Sisakan Sedikit Celah untuk Orang Lain

Seorang pemirsa bertanya pada seorang pebisnis sukses yang menjadi bintang tamu dalam sebuah acara tatap muka. “Anda sangat sukses dalam bisnis, tolong tanya, menurut Anda, apa kiat paling penting untuk menjadi sukses?”

Pebisnis itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil spidol dan menggambar sebuah lingkaran di papan, tapi tidak menggambarnya secara utuh, ia meninggalkan sebuah celah. Pebisnis itu kemudian balik bertanya, “Ini apa?”

“Nol.” “Lingkaran.” “Tugas yang belum selesai.” “Sukses.” Demikianlah berbagai jawaban yang dilontarkan para pemirsa di bawah panggung.

Sang pebisnis tidak menyalahkan atau membenarkan jawaban-jawaban itu. “Sebenarnya, ini hanyalah sebuah ‘titik’ yang belum selesai digambar. Kalian bertanya mengapa saya bisa mencapai kesuksesan yang gemilang, alasannya sangat sederhana: saya tidak menyelesaikan setiap hal dengan sempurna, seperti halnya tanda titik ini, harus menyisakan sedikit celah agar bisa dirampungkan oleh anak buah saya.”

Menyisakan sedikit celah bagi orang lain, bukan berarti kita tidak mempunyai kemampuan. Sebenarnya ini adalah salah satu kiat manajemen yang sangat bijaksana, di samping sukses mengantar seluruh anggota manajemen mencapai tujuan organisasi, pun memberikan rasa keikutsertaan, puas diri dan prestisius bagi setiap partisipan. Tempatkan kera di atas pohon, ia akan tiada hentinya menunjukkan kelincahannya; tempatkan harimau di dalam hutan, ia akan menunjukkan wibawa raja hutannya. Ya, demikianlah kiat memotivasi anggota tim agar mencapai kesuksesan bersama: sisakan sedikit celah bagi orang lain.

Demikian pula dalam berbuat kebajikan, sisakan sedikit celah bagi orang lain agar dapat bersama-sama dengan kita melakukan kebajikan itu.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 7 No. 3, September 2009 – Desember 2009