Standar

Oleh : Bhikkhu Upasamo

Sebuah harian surat kabar menulis:

“Sejak sekolah, saya senantiasa bersaing menjadi juara kelas dengan salah satu teman saya. Kami saling mengungguli, siapa yang bisa jadi juara kelas akan merasa lebih hebat dan lebih pintar. Tidak hanya di dalam kelas, tapi hingga dewasa, hingga belajar ke luar negeri. Tapi sekarang, setelah sekian tahun, dia jadi diplomat dan ditempatkan di luar negeri, saya jadi pramugara di dalam taxi.

Percakapan ini membuat saya iri hati kalau membaca majalah/koran, banyak anak muda sudah sukses, kaya raya, dan pandai. Mereka dapat membuat perusahaan kecil menjadi besar, sudah punya stasiun TV, batu bara, menjadi duta besar, 700 outlet waralaba di seluruh indonesia. Sementara saya, di usia setengah abad ini, mobil saja tidak punya, saya begini begini saja padahal ambisi begitu besarnya dan tidak diikuti dengan kepandaian yang sangat. Sebenarnya saya merasa kecewa, malu dan rendah diri.”

Dunia memiliki standar yang demikian. Orang dihormati karena ia kaya raya. Suaranya didengarkan. Mereka dipandang. Jika Anda tidak kaya, tidak ada yang peduli, dicuekin, tak ada pengaruh. Dengan standar seperti itu, yang kaya diagungkan, yang miskin dilihat seperti sampah. Itulah standar yang ditetapkan dalam masyarakat kita. Apakah Anda mengikuti dan setuju dengan standar seperti itu? Rasanya begitu juga, karena kita akan terpengaruh oleh tempat di mana kita tinggal.

Mari kita melihat kehidupan Pangeran Siddhatta. Kenapa Beliau tinggalkan istana? Apakah karena Beliau benci pada keluarga, orang tuanya, istri, anaknya? Tidak, Beliau sangat menyayangi mereka. Kenapa? Apa sebabnya? Mengapa? Kita bangun pagi-pagi padahal masih mengantuk, kalau bisa tidur lagi, tapi mau tidak mau harus bangun. Mengapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Siapa yang memaksa Anda untuk bangun padahal Anda masih sangat ingin tidur?

Anak-anak kita sekolahkan ke sekolah terbaik, ke sekolah nomor satu. Biayanya sudah pasti mahal, Anda tidak peduli yang penting anak-anak mendapatkan pendidikan terbaik. Mengapa Anda bersusah payah untuk mereka?

Pergi pagi pulang malam, banting tulang, tidak peduli keadaan diri sendiri. Apa yang Anda cari? Makanan terbaik, pakaian terbaik, tempat tinggal terbaik, memiliki beberapa pelayan.

Pangeran Siddhatta meninggalkan semuanya. Pengikut yang banyak, kedudukan raja, segala kemewahan. Bukankah kita mencari ini? Jika cara benar susah dan lambat, kita cari jalan pintas dan cepat walaupun itu tidak sesuai dengan hati nurani.

Ada apa? Oh, ternyata ada kebahagiaan yang lebih dari itu semua. Beliau mencari ketentraman batin. Ketentraman batin melebihi segalanya. Orang kaya yang tidak memiliki ketentraman batin, hidupnya akan menderita. Orang miskin yang memiliki ketentraman batin, hidupnya akan bahagia.

Karena itu, Anda yang kaya, jangan jadi sombong, dan Anda yang miskin, jangan rendah diri. Yang kaya, pergunakan harta dan kedudukanmu dengan sebaik baiknya. Yang miskin tetaplah jujur, jangan mudah tersinggung.

 

Sumber: Majalah Dhamma Inside Vol. 23 – Oktober 2015