Sutra Hati

Sutra Hati (atau dalam bahasa Sansekerta, Prajnaparamita Hrdaya), paling terkenal dalam Buddhisme Mahayana, dikatakan merupakan inti sari dari Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan (Maha Prajna Sutra). Sutra Hati juga termasuk salah satu sutra paling pendek. Terjemahannya bahkan bisa diprint pada satu sisi kertas saja. Meskipun begitu, ajaran yang ada dalam Sutra Hati sangatlah mendalam, dan seringkali banyak orang yang tidak memahaminya.

Maha Prajna Sutra yang lengkap dibabarkan oleh Guru Agung Shakyamuni Buddha selama 22 tahun (dari 49 tahun pengajaran-Nya) dan disusun dalam 600 jilid. Terdapat berbagai versi Sutra Hati yang diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Mandarin, tapi yang digunakan sampai hari ini kebanyakan adalah versi dari Bhikkhu yang bernama Xuanzang. Sedangkan, versi berbahasa Mandarin paling awal di Tiongkok adalah hasil terjemahan oleh Kumarajiva, yang sekarang umurnya sudah lebih dari 1500 tahun.

Berikut inilah kira-kira isi dari Sutra Hati:

Demikianlah yang saya dengar pada suatu ketika. Sang Bhagava sedang menetap di Puncak Burung Nasar di Rajagaha, bersama banyak sekali bhikkhu dan banyak sekali bodhisattva. Pada saat itu, Sang Bhagava sedang terfokus dalam konsentrasi pada dharma yang disebut “Penglihatan Mendalam.”

Pada saat itu juga, Arya Avalokiteshvara sedang mendalami praktik Prajnaparamita yang mendalam, dan melihat bahwa lima kelompok kehidupan (panca skandha) juga sama kosongnya dengan sifat melekat.

Kemudian, melalui kekuatan Sang Buddha, Y.A. Sariputra mengatakan ini kepada Arya Avalokiteshvara: “Bagaimana seharusnya seorang putra dari garis keturunan melatih Prajnaparamita yang mendalam?”

Demikian dikatakannya, dan Arya Avalokiteshvara selanjutnya mengatakan ini kepada Y.A. Sariputra. “Sariputra, putra atau putri dari garis keturunan siapapun yang ingin melatih Prajnaparamita yang mendalam, sebaiknya memandangnya seperti ini, dengan benar dan berulang-ulang melihat panca skandha sebagai sama kosongnya dengan sifat melekat.

“Wujud adalah kosong (sunyata). Sunyata adalah wujud. Kesunyataan tak lain adalah wujud; wujud juga tak lain adalah kesunyataan. Sama juga dengan sensasi, perbedaan, aktivitas-aktivitas mental yang lain, dan kesadaran, semuanya sunyata.

“Sariputra, begitu juga, semua dharma adalah sunyata; tanpa sifat; tidak dihasilkan, tidak dilenyapkan; tanpa noda, tanpa tak bernoda; tidak kurang, tidak terpenuhi.

“Oleh karena itu, Sariputra, dalam sunyata tiada wujud, tiada sensasi, tiada perbedaan, tiada aktivitas-aktivitas mental yang lain, tiada kesadaran; tiada mata, tiada telinga, tiada hidung, tiada lidah, tiada jasmani, tiada batin; tiada penglihatan, tiada suara, tiada bebauan, tiada rasa, tiada objek sentuhan, dan tiada dharma. Ti ada indra penglihatan dan seterusnya hingga dan termasuk tiada unsur batin dan tiada unsur kesadaran. Tiada dukkha, tiada berakhirnya dukkha, dan seterusnya hingga termasuk tiada penuaan dan kematian dan tiada berakhirnya penuaan dan kematian. Demikian juga, tiada penderitaan, asal-mula, kelenyapan, dan jalan; tiada pengertian, tiada pencapaian, dan juga tiada yang tidak dicapai.

“Oleh karena itu, Sariputra, karena tiada pencapaian, para bodhisattva mengandalkan Prajnaparamita, sehingga pikiran terbebas dari segala gangguan. Karena bebas dari segala gangguan pikiran, mereka tidak gentar. Setelah mengatasi segala halangan, mereka mencapai titik akhir dari nirvana. Semua Buddha di tiga masa juga mencapai penerangan yang tak terbandingi, sempurna, dan lengkap dengan mengandalkan Prajnaparamita.

“Oleh karena itu, Prajnaparamita adalah mantra pengetahuan yang agung, yang tak terbandingi, yang setara dengan yang tak ada bandingannya, yang dengan sepenuhnya menghapus segala penderitaan. Mantra ini harus diketahui sebagai kebenaran sebab mantra ini tidak mungkin palsu. Dengan Prajnaparamita, diutarakan mantra berikut:

TADYATHA GATE GATE PARAGATE PARASAMGATE BODHI SVAHA

“Sariputra, begitulah para bodhisattva seharusnya berlatih Prajnaparamita.”

Kemudian, Sang Bhagava bangun dari konsentrasi tersebut dan memuji Arya Avalokiteshvara dengan mengatakan: “Tepat sekali, bagus sekali, putra dari garis keturunan, seperti itulah. Seperti begitulah; seseorang melatih Prajnaparamita seperti yang engkau tunjukkan; bahkan para tathagata bergembira.”

Demikianlah kata-kata Sang Bhagava, Y.A. Sariputra, Arya Avalokiteeshvara, dan mereka yang berada di sekitar beserta alam dewa, manusia, asura, dan gandharva semuanya sangat bergembira dan memuji kata-kata Sang Bhagava.”

Demikianlah Prajnaparamita Hrdaya Sutra.

Kesimpulan

Memang pada awalnya, Sutra Hati ini kedengarannya gila, karena terus-menerus mengatakan “tidak, tidak, dan tidak.” Kedengarannya seolah-olah sutra ini meniadakan semua yang sudah kita pelajari dalam agama Buddha.

Sutra Hati dan sutra Prajnaparamita lainnya membicarakan banyak hal, tapi yang paling mendasar adalah bahwa tidak ada yang dapat didasarkan dari segala yang kita alami. Sutra ini mengatakan bahwa tak peduli apa yang kita perbuat, tak peduli apa yang kita katakan, dan tidak peduli apa perasaan kita, kita tidak perlu meyakini semua itu. Tidak ada yang bisa kita jadikan pegangan, dan bahkan hal itu pun kita tidak yakin.

Akan tetapi, tidak semua yang diajarkan dalam Sutra Hati kedengarannya negatif. Bahkan, inti dari ajaran Prajnaparamita dan Mahayana adalah penggabungan antara kekosongan (sunyata) dengan kasih sayang. Oleh karena itu, Sutra Hati mengajarkan kesunyataan melalui lambang kasih sayang, yaitu Arya Avalokiteshvara.

Atau dengan kata lain, Sutra Hati juga bisa diartikan sebagai anjuran untuk melepaskan dan berileks. Kita bisa mengganti semua kata dalam sutra ini yang berawal dengan “tiada”, seperti “tiada mata,” “tiada telinga,” dengan semua permasalahan hidup kita, seperti “tiada depresi,” “tiada takut,” “tiada pengangguran,” “tiada perang,” dan seterusnya. Hal ini memang kedengarannya sederhana, tapi jika kita lakukan dan benar-benar merenungkan apa itu sebenarnya hal-hal seperti depresi, ketakutan, perang, dan krisis ekonomi, hal ini akan mengirimkan makna yang sangat kuat.

Aryavalokitesvara Bodhisattva gambhirayam prajnaparamitayam caryam caramano
vyavalokayati sma panca-skandha
Tams ca svabhava sunyam pasyati sma,
Iha Sariputra, rupam sunyata, sunyata iva rupam
rupa na prthak sunyata, sunyataya na prthak rupam
yad rupam sa-sunyata ya sunyata tad-rupam
Evam eva vedana samjna sam-skara vijnanani
Iha Sariputra sarva dharma sunyata-laksana
anutpanna aniruddha amala vimala, nona na-paripurna
Tasmat Sariputra sunyatayam na rupam
na vedana, na samjna
na samskara, na vijnanani
na caksuh srotra ghrana jihva kaya manamsi
na rupam sabda gandha rasa sparastavya dharma
na caksur-dhatu yavan na mano vijnana-dhatu
na vidya navidya, na vidya-ksayo navidya-ksayo
yavan na jara-maranam na jara-marana ksayo
na dukkha, samudaya, nirodha, marga
na jnanam, na praptir apraptitvena Bodhisattvasya prajnaparamita
asritya viharaty acittavaranah cittavarana nastitvad atrasto
vi-paryasati-kranto nistha nirvanam
Tri-adhva vyavasthita sarva buddha prajna-paramitam
a-sirtya anuttara-samyak-sambodhim abhi-sambuddha
Tasmat jnatavyam prajna-paramita maha mantro
maha-vidya mantro, nuttara mantro
sama-sama mantra
Sarva dukkha pra-samana satyam amithyatva
prajna-paramitayam ukho mantra tadyata
gate gate paragate parasamgate bodhi svaha
iti prajnaparamita hrdayam samaptam.