The Way to Heaven

Oleh: Bhikkhu Aggacitto, Thera

– Pembina di Sigalovada Foundation
– Kepala Vihara di Pubbārāma Buddhist Centre

===========================================

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan baying-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya. (Yamaka Vagga. I.2)

Apakah agama Buddha memiliki surga???, demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang sering terdengar dari sebagian kalangan umat, yang menyiratkan keraguan dan keberadaan surga dalam agama Buddha. Hal demikian menunjukkan bahwa masih lemahnya pemahaman esensi ajaran Buddha secara keseluruhan.

Di dalam kitab Tipitaka/ Tripitaka disebutkan bahwa Alam surga terdapat 26 tingkatan (catummaharajika, tavatimsa, yama, tusita, nimmanarati, paranimitavasavatti, brahma parisajja, brahma purohita, maha brahma, parittabha, appamanabha, abhassara, parittasubha, appamanasubha, subhakinha, vehapphala, asannasatta, aviha, atappa, sudassa, sudassi, akanittha, akasanancayatana, vinnancayatana, akincannayatana, neva sanna nasannayatana) dan alam surga juga bukan satu-satunya tujuan akhir dari kehidupan melainkan Nibbana-lah yang sesungguhnya alam yang tertinggi dan tujuan akhir dalam agama Buddha.

Meskipun alam-alam surga jarang untuk diceritakan atau dibahas bukan berarti alam tersebut tidak ada dan tidak dimiliki, karena menurut pandangan dhamma penekanan bukan pada alam surga yang harus diutamakan melainkan perealisasian akhir (Nibbana) yang harus diutamakan supaya semua penderitaan dalam kondisi dunia benar-benar teratasi. Kendati demikian tidak semua umat Buddha menginginkan tujuan akhir tersebut, dengan alasan bahwa untuk mencapai kondisi tersebut sangatlah sulit sekali.

Namun dikatakan Sang Buddha bahwa; semua insan di dunia ini mampu dan bisa mencapainya asalkan dengan kesungguhan, semangat dan kedisiplinan Dhamma yang beliau babarkan benar-benar dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, karena siapapun dapat melakukan tidak bagi mereka para Bhikkhu/ Bhikkhuni/ Samanera/ Samaneri tetapi para perumah tangga; upasaka-upasika (garavasa) juga dapat mencapainya, jadi hendaklah pemikiran keliru akan pandangan bahwa hanya mereka saja yang menjalani kehidupan Pabbajjita saja yang mampu melakukannya, dibuang jauh-jauh.

Dengan berakhirnya kehidupan di alam manusia dan kemudian terlahir dialam surga juga bukan berarti akan menghentikan proses tumimbal lahir/ kelahiran kembali, karena saat kehidupan di alam surga berakhir maka kelahiran kembali akan dialami lagi dan lagi.

Mengapa surga dalam agama Buddha begitu banyak, hingga sampai 26 tingkatan??? Hal tersebut tentunya sebanding karena perbuatan setiap orang juga berbeda-beda. Karena ketidaksamaan dari perbuatan seseorang inilah mengapa alam surga ada banyak tingkatannya, tentunya secara logika sudah pasti hal itu sebanding; “apabila seorang karyawan yang bekerja diperusahaan ACDC yang karyawan A bekerja sebagai OB dan yang karyawan B bekerja sebagai HRD dari tingkat kesulitan, tanggung jawab, dll tentu tidaklah akan sama dan sudah pasti honor yang akan diterima oleh karyawan tersebut menyesuaikan seberapa banyak pekerjaan yang dikerjakan”, demikian halnya dengan alam surga tersebut dapat contohkan untuk mendapatkan tingkatan alam-alam surga tergantung sejauh mana banyak sedikitnya akan perbuatan baik yang dilakukan.

Apakah umat Buddha bisa masuk Surga??? Jawabannya adalah “Bisa…!!! dan gampang pun, asalkan ia tidak lupa melakukan perbuatan kebaikan bukan melakukann keburukan. Seperti halnya; “kalau anda ingin jalan-jalan keluar negeri, selain anda harus memiliki paspor terlebih dahulu maka anda juga harus memiliki tiket pesawat. Paspor maupun tiket pesawat tersebut didapatkan tentu karena anda memiliki uang, jika anda tidak memilikinya mungkin itu hanya sebatas jadi harapan dan keinginan.

Untuk mendapatkan uang tentu anda harus bekerja, karena uang anda dapat tidak bagaikan daun yang jatuh dari pohon. Disitulah anda harus berusaha dengan segenap daya upaya melakukan pekerjaan yang akahirnya menghasilkan uang. Barulah keinginan jalan-jalan tersebut akan dapat terwujud”. Untuk terlahir disalah satu dari 26 alam surga,  semuanya adalah pilihan diri sendiri. Apakah bisa dipilih tingkatan alam tersebut, jawabannya juga sama “Bisa…!!!” dan sekali lagi perlu di ingat bahwa yang menentukan bukan siapa-siapa melainkan diri sendirilah yang menentukan dan mengkondisikan.

Jika kita memang benar-benar memilih bukan pada tujuan akhir maka itu tidak menjadi masalah, selanjutnya bagaimana yang harus dipahami bahwa jika diri sendiri yang menentukan maka apa yang harus dilakukan. Pertama-tama yang harus di ingat adalah paspor dan tiket kesurga adalah “KEBAIKAN”, untuk melakukan kebaikan memang dibutuhkan perjuangan karena melakukan kebaikan lebih mudah dari melakukan keburukan. Sehingga untuk benar-benar melakukan kebaikan ini dibutuhkan tekad yang besar;

1. Tekad Keyakinan (Saddha); memiliki keyakinan pada Sang Buddha sendiri, dan yakin kepada ajaran Buddha & yakin pada persamuan Sangha atau Tiratana (Anguttara Nikaya IV, 288). Keyakinan disini tidak hanya sekedar yakin saja, melainkan keyakinan penuh yang memang muncul adalah benar-benar dari suatu kesadaran dari dalam diri (batin).

Seperti halnya Seorang Brahmana Muda “Matthakundali” dalam detik-detik terakhir sebelum ia meninggal, setelah ia melihat Buddha timbullah keyakinan yang kuat didalam batinnya, dan setelah Sang Buddha pergi ia meninggal dunia dengan hati yang penuh keyakinan terhadap Sang Buddha dan ia terlahir terlahir di alam Tavatimsa.

2. Tekad memilik dan melaksanakan sila atau kemoralan; Latihan kemoralan yang paling sederhana adalah latihan untuk tidak melakukan panca sila buddhis, yaitu; bertekad untuk tidak melakukan pembunuhan, bertekad untuk tidak melakukan pencurian, bertekad untuk tidak melakukan kesusilaan, bertekad untuk tidak melakukan ucapan-ucapan yang tidak benar dan bertekad untuk tidak melakukan pengkonsumsian makan atau minuman yang dapat melemahkan kesadaran/ pemakaian obat-obatan/mabuk-mabukan. Lima latihan kemoralan inilah yang akan menjadi bagian tiket ke surga (silena sugatim yanti).

3. Selain dari Tekad Keyakinan (Saddha) dan Kemoralah (Sila), yang harus dimiliki adalah Tekad untuk bermurah hati (Caga); bermurah hati adalah wujud dari pengembangan rasa welas asih kepada sesama, dengan semakin sering mengembangkan sifat ini maka akan membantu membentuk sikap batin dan pikiran jauh dari hal-hal yang buruk. Justru sebaliknya akan selalu mereduksi dan mendorong pada tindakan-tindakan bajik pada tindakan untuk membantu dan menolong orang lain maupun makhluk lain.

Tindakan ini sangatlah luhur dan mulia untuk dikembangkan, memulai dengan berbagi sedikit yang dimiliki untuk kebahagiaan orang lain itu sangatlah berarti bagi kehidupan yang terbantu. Tindakan ini bisa dilakukan baik secara materi maupun non materi, tergantung mana yang perlu dan harus dilakukan. Inilah tekad yang ketiga yang harus dimiliki bagi seseorang yang ingin mendapatkan tiket ke surga.

4. Dan yang terakhir adalah Tekad kebijaksanaan (Panna); Kebijaksanaan di dalam agama Buddha artinya orang yang bisa melihat hidup sebagaimana adanya. Orang yang tidak gampang tergoyahkan batinnya karena proses perubahan dunia yang tidak menentu. Kehidupan hanyalah berisikan proses sukha-dukkha, untung-rugi, memperoleh kejayaan-keruntuhan, dipuji dan dicela *Atthaloka Dhamma).

Mereka yang masih diliputi oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin/ kebodohan pasti akan banyak mengalami kekecewaan menghadapi perubahan dunia. Namun, orang setelah mengenal Dhamma, ia akan mengerti bahwa keseimbangan batin dalam menghadapi perubahan akan diperoleh dari pengendalian keinginannya sendiri.

Dari uraian diatas hendakahlan direnungkan bahwa, keberadaan seseorang dimuka bumi ini maupun dikehidupan selanjutnya yang menentukan dan yang memilihnya adalah dirinya sendiri, bukanlah sesosok makhluk supranatural, atau makhluk-makhluk suci lainnya yang mengkondisikan. Untuk itu jika pilihan telah dipilih maka berusahalah dengan penuh kesungguhan dengan jalan yang benar sesuai ajaran Buddha Dhamma.

Sabbe satta bhavantu sukkhittata. Semoga semua makhluk turut berbahagia. Sadhu… Sadhu… Sadhu…

Artikel ini telah terbit di Harian Analisa Kamis, 12 November 2015