Theravada dan Mahayana – Perbedaan dan Persamaan

Theravada dan Mahayana adalah dua aliran besar dalam agama Buddha. Di kedua aliran tersebut terdapat banyak sub aliran yang mempunyai aneka ragam cara praktek ritual. Pada jaman Sang Buddha, tidak ada aliran Theravada ataupun Mahayana. Semua ajarannya tersebut dikenal dengan Buddhasasana (ajaran Sang Buddha).

Penyebaran Kitab Berbahasa Sansekerta akhirnya mencapai puncak pengenalan dua tradisi agama Buddha yang berbeda:

  1. Doktrin atau ajaran yang diuraikan oleh para bhikkhu yang lebih senior, disebut Theravada
  2. Tradisi atau ajaran yang tercakup dalam bahasa Sansekerta, yang dinamai oleh para penulisnya Mahayana atau “Kendaraan Besar”.

Perbedaan pandangan dari mereka yang menguraikan setiap bagian tulisan itu menggambarkan pandangannya, dan umat menerimanya untuk diakui. Akan tetapi, kedua aliran Theravada dan Mahayana sama-sama menghormati Buddha Gotama dan mempraktekkan ajarannya.

Penyebaran Secara Geografis

Selama pemerintahan Raja Asoka di India (abad ke 3 SM), agama Buddha menyebar luas dan sampai ke luar negeri. Selama lebih dari 2000 tahun, dua aliran agama Buddha ini tumbuh dengan kokoh secara terpisah satu dengan yang lainnya.

Saat ini, orang dapat mengenali secara geografik bahwa China, Hong Kong, Jepang, Korea, Mongolia, Taipeh (Taiwan), Tibet, Vietnam, dan sebagian besar Nepal sebagai negara Buddhis Mahayana.

Theravada dan Mahayana – Perbedaan dan Persamaan
Theravada dan Mahayana – Perbedaan dan Persamaan

Sedang Birma (Myanmar), Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan sebagian kecil Nepal dan beberapa bagian India sebagai negara Buddhis Theravada. Dalam dekade belakangan ini, baik agama Buddha Mahayana maupun Theravada menyebar ke Eropa, Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, dan beberapa negara di Benua Afrika. The World Fellowship of Buddhist didirikan pada tahun 1940, mengajak semua pengikut Sang Buddha dari berbagai aliran untuk mengadakan konferensi setiap dua tahun sekali.

Kitab Suci

Seluruh naskah aliran Theravada menggunakan bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai di sebagian India (khususnya daerah Utara) pada zaman Sang Buddha. Tidak ada filsafat atau tulisan lain dalam bahasa Pali selain kitab suci agama Buddha Theravada, yang disebut kitab suci Tipitaka, oleh karenanya, istilah ajaran agama Buddha berbahasa Pali sinonim dengan Agama  Buddha Theravada. Seluruh naskah aliran Mahayana pada awalnya berbahasa Sansekerta dan dikenal sebagai Tripitaka. Oleh karena itu istilah Agama Buddha berbahasa Sansekerta sinonim dengan Buddha Mahayana.

Penghormatan dan Praktik Ritual

Para penganut aliran Mahayana menghormati Buddha Sakyamuni dan berbagai Boddhisattva (seperti Maitreya, Avalokitesvara atau Kuan Yin). Mahayana (khususnya di Tibet) memuja semua Buddha terdahulu atau Adi Buddha, Amitabha, Vairocana, Askyobhya, Amoghasiddhi, dan Ratnasambhava. Tantra dan Mandala adalah termasuk praktik dalam Mahayana Tibet. Sedangkan penganut Theravada hanya memuja Buddha yang disebutkan dalam Tipitaka, khususnya Buddha Sakyamuni, yang dikenal juga sebagai Buddha Gotama.

Di vihara-vihara Mahayana, para pemuja menggunakan gambar dan relik (termasuk abu kremasi) dari anggota keluarganya yang sudah meninggal dan digunakan sebagai obyek sembahyang dan pemujaan. Umat Buddha Mahayana mempersembahkan bunga, dupa, lilin, buah dan makanan, yang secara harfiah untuk menghormati roh dari orang yang telah meninggal.

Pali Sutta diucapkan di vihara-vihara Theravada sedangkan syair-syair suci Sansekerta diucapkan di vihara-vihara Mahayana.

Simbol dan Jubah Suci

Semua Vihara berisi berbagai macam simbol yang sakral, sebagian besar adalah patung Buddha Sakyamuni ditambah lilin, bunga, dan dupa yang biasa dipersembahkan, sebagai simbol-simbol ajaran. Yang umum dari kedua aliran tersebut yaitu simbol bendera Buddhis, gambar Sang Buddha, pohon Bodhi, dan Patta. Di Vihara-vihara Mahayana orang mendapatkan simbol sakral lainnya seperti ikan terbuat dari kayu, kepala naga, kendi, genta, tambur, dan sebagainya. Orang sulit memperoleh perlengkapan keagamaan yang bermacam-macam di vihara Theravada, karenanya praktik ritual Theravada tidak begitu sulit dibandingkan dengan Mahayana.

Para Bhikkhu Mahayana Vietnam setiap harinya mengenakan ao trang (jubah coklat) dan ao luc binh (jubah tidak resmi atau untuk bekerja), dan dalam kesempatan resmi mereka mengenakan ao hau (jubah upacara bagian luar). Para Samanera mengenakan ao nhut binh (jubah berwarna coklat atau warna langit / pelengkap pakaian). Itulah jubah berwarna kuning kunyit dengan sedikit perbedaan bentuk. Bhikkhu-bhikkhu Theravada selalu menggunakan civara dan antara vasaka dua kain panjang, yang dikenakan sebagai jubah. Pada kesempatan resmi, sanghati, kain panjang jubah yang dilipat dengan rapi dikenakan di bahu kiri (seperti memakai selendang). Jubahnya dapat berwarna kuning kunyit, kuning kulit kayu, kuning kemerahan atau merah hati.

Theravada dan Mahayana – Perbedaan dan Persamaan
Theravada dan Mahayana – Perbedaan dan Persamaan

Filosofi

Para penganut agama Buddha Theravada bertujuan mencapai Nirvana (Nibbana) dengan menjadi Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi, juga disebut Savaka Buddha). Theravada menekankan bahwa pencapaian Arahat adalah tujuan terakhir hidup ini, setelah itu tidak ada kelahiran lagi. Sedangkan Mahayana menekankan bahwa terdapat kelahiran kembali bagi seorang Arahat, seperti Sariputra, Moggalana, dan orang-orang suci lainnya, dan juga menekankan bahwa benih-benih Kebuddhaan ada pada semua orang.

Aliran Mahayana bertujuan untuk mencapai Kebuddhaan (menjadi Sammasambuddha) dengan mengikuti Jalan Bodhisatva. Mahayana memandang Bodhisatva sebagai makhluk yang telah mencapai penerangan sempurna, sedang Theravada menyatakan bahwa Bodhisatva adalah makhluk yang belum mencapai penerangan sempurna.

Bhikkhu dan Bhikkhuni

Para bhikkhu hidup tidak menikah, baik dalam Theravada maupun Mahayana. Tidak ada bhikkhuni lagi dalam Theravada kecuali mereka yang menjalani sepuluh sila atau Anagarika, yang tidak menerima penahbisan secara penuh. Sebaliknya, Mahayana mempertahankan bahwa Sangha bhikkhuni tidak pernah lenyap dari dunia ini. Pada aliran Mahayana terdapat Samaneri (calon bhikkhuni) dan Sangha Bhikkhuni adalah pasamuan para bhikkhuni. Sebagian orang berpendapat bahwa Mahayana lebih mengutamakan pengikutnya, sedangkan Theravada lebih menekankan pada pertapaan atau kebhikkhuan.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi 7 / Mei 2017