Toleransi Antar Umat Beragama

Di dalam keyakinan umat beragama, umat Buddha hendaknya menanamkan keyakinan yang kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, Dhamma dan Sangha, sehingga terjalin suatu toleransi sesama agama yang ada di Indonesia. Dasar keyakinan agar terbentuknya suatu kerukunan umat beragama dalam agama Buddha, diikrarkan oleh Raja Asoka Wardana yang merupakan salah satu raja yang berkeyakinan terhadap Buddha. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Batu Kalingga No. XXII Raja Asoka yang memeluk agama Buddha pada abad ketiga sebelum masehi, yang berbunyi :

“Janganlah kita menghormati (mazhab) sendiri dengan mencela agama orang lain tanpa sesuatu dasar yang kuat. Sebaliknya agama orang lain hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian, kita telah membantu agama kita sendiri untuk berkembang, di samping pula tidak merugikan agama orang lain. Oleh karena itu, kerukunanlah yang dianjurkan dengan pengertian bahwa semua orang hendaknya memperhatikan dan bersedia mendengarkan ajaran yang dianut oleh orang lain.”

Selebihnya, Raja Asoka juga menuliskan bahwa “Barangsiapa menghina agama orang lain, dengan maksud menjatuhkan agama orang lain, berarti ia telah menghancurkan agamanya sendiri”

Kerukunan antar umat beragama memang akan terwujud jika masing-masing agama memiliki prinsip untuk saling menghargai agama yang lain. Jika saja tidak demikian maka kerukunan tidak akan terwujud. Bukankah dengan adanya perbedaan maka akan tahu bahwa warna hitam dan putih berbeda. Begitu juga dengan agama. Perbedaan agama yang ada di Indonesia jangan dijadikan sebagai penghalang persatuan, namun jadikan sebagai pembanding satu sama lain agar dapat mengikuti prinsip yang terbaik menurut keyakinan masing-masing.

Contoh Kerukunan Dalam Perjalanan Sejarah Agama Buddha

Upali Sutta

Diceritakan bahwa semasa hidup Sang Buddha, Nigantha Nataputha seorang guru besar dari sekte agama Jain mengutus Upali seorang siswanya yang cerdik, pandai dan berpengaruh di masyarakat untuk berdialog, memperbincangkan tentang ajaran Buddha yaitu Hukum Karma. Setelah berdialog cukup panjang, Upali memperoleh kesadaran bahwa ajaran Buddha tentang karma adalah yang benar. Upali kemudian memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai muridnya.

Sang Buddha menyuruh Upali untuk memikirkannya karena Upali adalah murid dari Guru Besar dan ternama. la juga orang berkedudukan dan terpandang di masyarakat. Akhirnya Sang Buddha menerima Upali sebagai muridnya dengan mengucapkan:

“Kami terima Anda sebagai umatku. Sebagai muridku, dengan harapan Anda tetap menghargai bekas agamamu dan menghormati bekas gurumu itu, serta membantunya.”

Dari cerita tersebut maka tampaklah bahwa masa kehidupan Sang Buddha telah menunjukkan demikian besarnya toleransi Sang Buddha terhadap keyakinan atau agama lain.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi 7 / Mei 2017