Ullambana Sutra

Setiap bulan ketujuh penanggalan Lunar, secara tradisi kita merayakan “Bulan Hantu”, atau khususnya bagi umat Buddha aliran Mahayana Tiongkok, memperingati hari Ullambana pada tanggal 15 kalender Tionghoa. Hari Ullambana ini berdasarkan dari Ullambana Sutra, yang diterjemahkan oleh Dharmaraksha pada masa Dinasti Jin dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin. Sutra ini mengisahkan tentang Y.A. Mahamoggallana, salah satu siswa utama Sang Buddha, yang berusaha menolong mendiang ibunya yang terlahir menjadi hantu kelaparan.

Berikut inilah kira-kira isinya:

Demikianlah yang pernah saya dengar, pada suatu waktu, Sang Buddha menetap di Shravasti, di Taman Pelindung Anak-anak yatim dan para Pertapa. Mahamaudgalyayana (Mahamoggallana) baru saja mendapat enam penerangan dan ingin menolong ayah dan ibunya untuk membalas jasa mereka yang telah membesarkannya. Oleh karena itu, dengan menggunakan mata batinnya, beliau mengamati alam kehidupan dan melihat bahwa mendiang ibunya telah terlahir menjadi hantu kelaparan. Karena tidak memiliki makanan maupun minuman, ibunya hanya tinggal kulit dan tulang saja.

Mahamoggallana pun merasakan rasa kasihan dan kesedihan yang mendalam. Kemudian, beliau mengisi sebuah mangkuk penuh dengan makanan, dan pergi memberikannya kepada ibunya. Ibunya lalu mengambil mangkuk tersebut, memegangnya dengan tangan kiri dan dengan tangan kanan mengambil segenggam penuh makanan. Akan tetapi, sebelum masuk ke mulutnya, makanan itu berubah menjadi batu yang membara, sehingga tidak bisa dimakan. Mahamoggalana berseru dan menangis tersedu-sedu, dan bergegas kembali untuk menjumpai Sang Buddha dan menjelaskan semua ini.

Mahamoggallana berusaha memberi makan ibunya

Sang Buddha bersabda, “Karma buruk ibumu sangat mendalam dan mengakar kuat. Kamu sendiri tidak memiliki kekuatan yang cukup. Meskipun bakti terhadap orang tuamu dapat menggerakkan bumi dan langit, para dewa surga, dewa bumi, iblis jahat, dan keempat raja dewa juga tidak mempunyai kekuatan yang cukup. Hanya dengan kekuatan gaib dari para Sangha yang berkumpul dari sepuluh penjuru baru dapat memperoleh kebebasan. Saya sekarang akan membabarkan Dharma penolong yang dapat membuat semua yang sedang kesulitan untuk meninggalkan kekhawatiran dan penderitaan, serta menghilangkan halangan-halangan akibat perbuatan buruk.”

Sang Buddha mengatakan kepada Mahamoggallan, “Hari ke-15 bulan ke-7 adalah Hari Pravarana saat para Sangha berkumpul dari sepuluh penjuru. Demi semua ayah dan ibu selama ketujuh generasi yang lalu, serta ayah dan ibu masa kini yang sedang dalam penderitaan, kamu harus mempersiapkan dana bak bersih berisi ratusan rasa dan kelima jenis buah, serta dana lainnya yaitu dupa, minyak, lampu, lilin, tempat tidur dan perlengkapannya, semua yang terbaik di dunia, kepada para Sangha berbudi luhur yang berkumpul dari sepuluh penjuru.”

“Pada hari itu, semua majelis suci, tak peduli apakah sedang di pegunungan berlatih dhyana samadhi, atau memperoleh empat buah penerangan jalan, atau meditasi berjalan di bawah pepohonan, atau yang menggunakan kebebasan enam penerangan untuk mengajar dan mengubah para pendengar suara dan mereka yang tercerahkan ke kondisi, atau yang sedang berwujud sebagai bhikkhu ketika pada kenyataannya mereka adalah Bodhisattva-Bodhisattva besar yang berada pada sepuluh tingkat – semuanya menjaga sila dengan sempurna dan suci serta memiliki budi mulia seluas samudera – semua harusnya berkumpul bersama dan menerima makanan yang didanakan saat Pravarana.

“Jika seseorang berdana kepada para Sangha saat Pravarana, maka ayah dan ibu masa kehidupan sekarang dan orang tua selama ketujuh generasi kehidupan masa lampau, beserta keenam jenis kerabat dekat orang tersebut akan terbebas dari tiga alam menderita, dan mencapai kebebasan. Pakaian dan makanan untuk mereka akan muncul dengan sendiri. Jika orang tua masih hidup, mereka akan memiliki kekayaan dan berkah untuk seratus tahun. Orang tua selama ketujuh generasi kehidupan masa lampau akan terlahir di alam surga. Setelah terlahir secara spontan, mereka akan dengan sendirinya memasuki cahaya surgawi dan menikmati kebahagiaan luar biasa yang tak terbatas.”

Pada saat itu, Sang Buddha lalu menyuruh kumpulan Sangha dari sepuluh penjuru untuk melafalkan mantra dan doa demi keluarga dari para pemberi dana, untuk orang tua selama tujuh generasi kehidupan sebelumnya mereka. Setelah berlatih konsentrasi dhyana, para Sangha boleh menerima dana makanan. Ketika pertama menerima bak ullambana, mereka harus meletakkannya di depan Buddha, di dalam stupa atau vihara. Saat kumpulan Sangha selesai melafalkan mantra dan doa, mereka baru boleh memakan makanan yang didanakan.

Pada saat itu, Bhikkhu Moggallana beserta para maha Bodhisattva merasa sangat bahagia sehingga tangisan sedih Moggallana pun terhenti. Saat itu juga ibunya Moggallana terbebas dari satu kalpa hidup menderita sebagai hantu kelaparan. Moggallana berkata kepada Sang Buddha, “Orang tua muridMu telah menerima kekuatan kebajikan dan budi jasa dari Triratna, berkat kekuatan gaib luar biasa dari para Sangha yang berkumpul. Jika pada masa depan siswa-siswa Buddha berbakti kepada orang tua dengan mendanakan bak-bak Ullambana, apakah mereka juga dapat menolong ayah dan ibu masa kehidupan sekarang serta orang tua selama tujuh generasi kehidupan masa lampau?”

Sang Buddha menjawab, “Bagus! Saya senang kamu menanyakan pertanyaan itu. Saya baru ingin membicarakannya dan sekarang kamu telah menanyakannya. Putra yang budiman, jika para bhikkhu, bhikkhuni, raja-raja, putra mahkota, perdana menteri, pejabat dan puluhan ribu rakyat biasa ingin melaksanakan bakti kepada orang tua dengan penuh kasih sayang, demi orang tua yang telah melahirkan mereka, serta demi ayak dan ibu tujuh kehidupan lampau, pada hari ke-15 bulan ke-7, pada hari Buddha bersuka cita, hari Pravarana para Sangha, mereka semua sebaiknya meletakkan makanan ratusan rasa dalam bak-bak Ullambana, dan mendanakannya kepada Pravarana Sangha dari sepuluh penjuru. Mereka harus berdoa agar usia ayah dan ibu mereka dapat mencapai ratusan tahun tanpa penyakit, tanpa penderitaan, masalah, atau kekhawatiran, dan juga berdoa agar orang tua selama tujuh generasi kehidupan masa lampau dapat terbebas dari kehidupan sebagai hantu kelaparan yang menderita, agar bisa terlahir kembali menjadi manusia dan para dewa, dan untuk dapat terberkahi dan merasakan kesenangan tanpa batas.”

Sang Buddha memberitahu semua orang, “Para siswa Buddha yang berlatih bakti terhadap orang tua sebaiknya terus-menerus memikirkan tentang ayah dan ibu masa kehidupan sekarang, serta ayah dan ibu ketujuh generasi kehidupan masa lampau, dan demi mereka mendanakan bak-bak Ullambana kepada Buddha dan Sangha, sehingga dapat membalas kembali kebaikan dan cinta kasih orang tua yang telah membesarkan dan merawat mereka.”

Pada saat itu, Bhikkhu Moggallana dan empat kelompok siswa Buddha, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Buddha, menjalankannya dengan penuh suka cita.

Inilah asal-usul Ullambana menurut Ullambana Sutra. Seperti yang telah Anda baca, tidak ada sama sekali disebut bahwa pada bulan ketujuh kalender lunar, para hantu akan dibebaskan atau berlibur ke alam manusia dan berebut makanan yang dipersembahkan kepada mereka. Selain itu, tidak ada juga mitos-mitos dan takhayul mengerikan yang biasanya dikaitkan dengan Ullambana, seperti anggapan bahwa lebih mungkin terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa di bulan ketujuh penanggalan Tionghoa. Nyatanya, kecelakaan bisa saja terjadi setiap waktu, bukan hanya khusus pada bulan ketujuh.

Dengan kata lain, kita seharusnya berbahagia saat bulan ketujuh penanggalan lunar telah tiba, sebab artinya kesempatan untuk lebih berbakti kepada orang tua telah datang. Selain itu, kita juga bisa berkesempatan membalas budi baik leluhur dengan melimpahkan jasa kepada mereka. Selamat hari Ullambana!