Vegetarian dalam Buddhisme

Mungkin di antara kita banyak yang beranggapan bahwa sebagai praktisi Buddhisme, sudah seharusnya kita bervegetarian. Ada beberapa alasan yang pada umumnya mendorong seorang praktisi Buddhisme untuk bervegetarian, antara lain contohnya:

  1. Anggapan bahwa makan daging berarti membunuh
  2. Dengan bervegetarian, berarti lebih suci
  3. Dengan bervegetarian, emosi akan menjadi lebih stabil
  4. Bervegetarian sebagai bentuk maitri karuna (menjadi vegetarian sebagai objek latihan dalam bhavana).

Di dalam tradisi Buddhisme Mahayana Tiongkok (Buddhisme Mahayana yang awalnya berkembang di Tiongkok, lalu dari sana menyebar ke berbagai tempat di seluruh dunia), kita selalu menjumpai para anggota Sangha bervegetarian. Pada jaman Kaisar Wu dari Dinasti Liang, beliau lah yang membuat peraturan bahwa praktisi Buddhisme, termasuk bhikkhu/bhikkhuni harus bervegetarian sebagai bentuk praktek maitri karuna. Dari sanalah semua anggota Sangha dari berbagai tradisi Buddhisme Mahayana Tiongkok mulai bervegetarian. Hingga saat ini berbagai sekte Buddhisme Mahayana Tiongkok telah berkembang ke seluruh dunia dan keharusan untuk bervegetarian dalam tradisi Buddhisme Mahayana Tiongkok tetap tidak berubah hingga saat ini.

Tradisi Buddhisme Selatan (Buddhisme yang berkembang di negara sebelah selatan Daratan Cina seperti India, Nepal, Tibet, Thailand, dan berbagai negara lainnya) tidak ada peraturan yang mengharuskan para anggota Sangha untuk bervegetarian. Buddhisme Selatan mengikuti jejak Sang Buddha. Seperti yang telah diajarkan Buddha, makan daging harus 3 bersih, yaitu:

  1. Tidak boleh membunuh (membunuh makhluk hidup, kemudian kita memakannya)
  2. Tidak boleh mendengar sewaktu dibunuh
  3. Tidak boleh menyuruh orang untuk membunuh

Dari sini sudah amat sangat jelas bahwa tidak bervegetarian bukan berarti membunuh.

Vegetarian dalam Buddhisme
Vegetarian dalam Buddhisme

Mengenai anggapan bahwa bervegetarian berarti lebih suci, tentunya ini salah besar, mengapa?

Karena Sang Buddha sendiri tidak bervegetarian, bila beranggapan demikian, apakah berarti Sang Buddha tidak suci? Pertanyaan ini semua orang bisa menjawabnya. Dalam melaksanakan Bhavana, yang terpenting adalah pada hati. Sekali pun kita makan vegetarian, tetapi dalam diri kita dipenuhi lobha, dosa, dan moha, maka kita tidak lebih baik daripada orang yang tidak bervegetarian, namun menjaga kesucian tubuh, ucapan, dan pikiran mereka.

Mengenai anggapan bahwa vegetarian dapat membuat emosi seseorang menjadi lebih stabil, apakah benar?

Dalam hal ini sebenarnya tidak dapat dipastikan, karena dalam berbagai kesempatan seringkali segala hal terjadi karena peran dari sugesti. Sebagai contoh, orang yang bervegetarian dan menanamkan sugesti pada dirinya sendiri bahwa vegetarian akan membuat emosinya menjadi stabil. Setelah ia bervegetarian dalam jangka waktu tertentu, ternyata emosinya sungguh-sungguh menjadi lebih stabil dan hal ini tentunya bermanfaat dan mendukung bhavana.

Terakhir, mengenai vegetarian sebagai suatu bentuk maitri karuna (menjadikan vegetarian sebagai objek latihan dalam bhavana),

Ini tentu sangat baik. Bila bervegetarian yang dilandasi dengan motivasi demikian tentunya vegetarian sungguh dapat dijadikan sebagai suatu sarana untuk mengembangkan maitri karuna di dalam diri kita. Namun jangan sampai setelah bervegetarian menjadi sombong dan menganggap orang yang tidak bervegetarian tidak memiliki maitri karuna. Bila demikian, vegetarian bukan lagi menjadi sesuatu yang positif karena dengan vegetarian membuat kesombongan dalam diri meningkat.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi 5 / November 2015