What’s Wrong with Me?

Aku tidak puas, aku ingin kaya, nggak selayaknya aku diperlakukan seperti ini, seandainya saja aku dilahirkan seperti dia, aku ingin menjadi yang terbaik. Apakah Anda termasuk orang yang sering berpikiran seperti di atas? Kalau iya, Anda wajib membaca artikel ini.

Dalam kehidupan, banyak sekali yang ingin kita capai. Sebenarnya tujuan akhir dari semua keinginan adalah untuk menuju hidup yang bahagia. Namun, sering kali kita lupa akan hal ini dan terus mengejar impian dengan mengorbankan kebahagiaan itu sendiri. Padahal kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dicari ataupun sesuatu yang jauh dan susah dicapai, kita cukup menemukan nya di dalam diri kita.

Bagi seseorang yang berpenyakitan, keinginan terbesarnya adalah kesehatan. Jika bisa kembali sehat, biarpun harus bekerja keras setiap hari baginya juga merupakan salah satu bentuk kebahagian. Bagi seorang tawanan, bisa menghirup udara segar dan hidup bebas adalah kebahagian terbesar. Jadi kebahagian sebenarnya sangat sederhana jika kita bisa mensyukuri semua yang kita miliki sekarang. Kalau kebahagian begitu sederhana dan mudah didapatkan, mengapa banyak orang yang merasa tidak bahagia dan terus mencari-cari kebahagian. Berikut ada beberapa alasan mengapa kita selalu merasa tidak bahagia.

Mengejar Kesempurnaan

Hidup sempurna merupakan keinginan semua orang, tetapi dalam kenyataannya dunia yang kita hadapi merupakan suatu bentuk ketidaksempurnaan. Kita beranggapan bahwa dengan menghapuskan kelemahan dan memiliki semua kelebihan, segalanya akan sempurna. Tapi benarkah dengan mendapatkan semua keinginan, Anda akan merasa lengkap dan bahagia? Kita berpersepsi jika tidak sempurna, maka impian kita tidak akan tercapai.

Tapi apakah semua orang yang berhasil merupakan orang yang sempurna? Thomas Alfa Edison yang dijuluki raja penemu, dulunya dikatakan idiot oleh gurunya. Helen Keller yang menderita buta dan tuli bisa menjadi orang yang memberi perubahan pada dunia. Mereka bisa menjadi orang yang sempurna karena mampu mengenal diri sendiri, dalam arti membangun percaya diri tidak hanya berdasarkan kelebihan diri nya tetapi juga menerima kekurangan yang dimilikinya. Maafkan ketidaksempurnaan anda dan berusahalah membangun kesempurnaan dengan cara anda sendiri. Jika Anda tidak bisa menerima diri apa adanya, bagaimana Anda bisa berharap orang lain akan menerima dan menghargai Anda.

Tidak bisa lepas dari masa lalu

Setiap saat yang sudah kita lewati merupakan masa lalu. Adanya masa lalu membentuk diri kita yang sekarang ini. Namun, ada sebagian orang yang tidak bersedia melihat masa lalunya, mungkin baginya terlalu menyakitkan atau terlalu memalukan, sehingga dia lebih suka menggunting masa lalu dari kehidupannya. Persoalannya adalah masa lalu yang digunting itu tidak “terbang” meninggalkannya, tetap ada di dalam dirinya dan terus memberi pengaruh terhadap perbuatan, tingkah laku, sikap tidak mau melihatnya, dia akan terus-menerus dikuasai oleh bayang – bayang masa lalunya.

Masa lalu merupakan bagian dari hidup kita. Usaha melupakan masa lalu merupakan perbuatan yang sia-sia. Yang bisa kita lakukan hanya melihat apa yang telah terjadi, apa dampaknya sekarang, mengakuinya, mengambil hikmah darinya dan berusaha melakukan perubahan. Percayalah bahwa Anda yang sekarang berbeda dengan Anda yang dulu, tidak ada yang bisa kita lakukan atas masa lalu kita. Jadi, mengapa kita harus terjerat oleh sesuatu yang tidak bisa kita ubah dan malah mengabaikan saat sekarang yang merupakan satu-satunya moment dimana kita bisa mencatat sejarah baru yang hebat dalam hidup kita.

Ingin pulih secara ajaib

Ketika ada sesuatu yang salah, kita selalu berharap dapat pulih dengan cepat walaupun pada kenyataannya kita tahu bahwa segalanya butuh proses. Dalam konsepsi kita, pulih berarti menghilangkan bagian diri kita yang tidak diinginkan sehingga kita seolah-olah tidak lagi harus berurusan dengan problem kita yang terdahulu itu. Sebenarnya pulih berarti suatu keadaan dimana kita dapat mengatasi dan tidak lagi dikuasai oleh problem itu.

Kadang-kadang orang yang ingin pulih berpikit terlalu besar, ingin berusaha sekali dan langsung mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga mereka tidak menganggap suatu perbaikan kecil sebagai kemajuan. Pulih tidak berarti selamanya maju, tapi mau menerima adanya kemunduran dan terus berusaha maju tanpa menyalahkan siapapun juga merupakan suatu bentuk pemulihan. Kadang kita sering menyalahkan diri kita sendiri mengapa tidak bisa mencapai hasil yang diinginkan, ini merupakan reaksi yang wajar. Akan tetapi, jika kita membiarkan rasa kesal itu menghentikan langkah kita, pada saat itu juga kita sudah gagal. Jadi, point penting untuk pulih adalah menghargai usaha diri kita sendiri dan tidak menyerah atas kegagalan kecil yang hanya merupakan batu kerikil yang menjadi hambatan kita dalam mencapai laut impian yang luas.

Tidak Menghargai Milik Sendiri

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Itulah istilah bagi anda yang tidak pernah bersyukur. Beryukur berarti menerima diri sendiri apa adanya, baik itu kelebihan maupun kekurangan yang kita miliki. Kedengarannya simple, tapi sering kali sulit diterapkan karena kita selalu terpaku pada kekurangan diri dan melupakan kelebihan yang kita miliki.

Kekurangan merupakan kemampuan yang sebenarnya kita harapkan untuk lebih baik, namun tidak terwujud dalam kenyataannya. Kekurangan akan menimbulkan rasa minder dan malu, membuat kita merasa dianggap rendah dan mengganggap tinggi orang lain. Akibatnya, kita selalu menyangkal keberadaan diri kita, menyangkali kemampuan yang kita miliki terbatas dan tidak mau orang lain melihatnya. Kita terlalu berfokus pada sesuatu yang belum terajadi dalam hidup kita dan mengharapkan sesuatu yang kita bahkan tidak tahu itu apa. Sebenarnya cara termudah untuk PD adalah meninggalkan semua persepsi tentang perbandingan kita dengan orang lain, temukan diri anda yang terbaik dan berjuang lah ke arah itu. Not just be your self but the best of you.

Takut Menghadapi Kegagalan

Kegagalan merupakan hal yang pasti pernah dihadapi semua orang dalam mencapai sesuatu. Akan tetapi, dampak yang diberikan kegagalan itu berbeda bagi setiap orang, ada yang mengganggap kegagalan sebagai pemicu. Sebaliknya, ada juga yang menjadikan kegagalan sebagai penghambat dan trauma yang menghambat kemajuan diri. Penyebab utama dari penghambat itu adalah pikiran negatif yang selalu memandang kegagalan itu dari kaca pembesar sehingga kekurangan yang kecil akan membuat kita takut untuk mencoba. Takut akan kegagalan akan berkurang jika kita tidak berorientasi pada hasil, berusaha untuk mengatakan “it’s ok” pada diri sendiri pada setiap situasi, selalu melihat pada tujuan dan melihat setiap kemungkinan titik terang yang ada.

Kunci dari kebahagiaan adalah terletak pada diri anda sendiri, tergantung seberapa mampu kita menghargai diri kita sendiri, seberapa sering kita mensyukuri setiap kenikmatan kecil yang kita dapatkan setiap harinya dan bagaimana kita menanggapi peristiwa yang hadir dalam hidup kita. Semua jawaban bisa kita temukan dalam diri kita sendiri. So, find your self and be the best of you.

Didedikasikan untuk kebahagiaan semua makhluk.

 

Sumber: Majalah Paramita 30, Mei 2009