Xuan Zhang

Siapa pun pasti mengenal sosok biksu yang dikenal sebagai Tang San Zang (hakka: Tong Sam Cong). Biksu dengan nama asli Xuan Zang (Hsuan Tsang) ini terkenal sebagai guru dari siluman kera batu Sun Wu Kong (Sun Go Kong) dalam kisah Perjalanan ke Barat karya Wu Cheng En (di Indonesia telah ditayangkan filmnya dengan judul Kera Sakti).

Namun sesungguhnya kisah asli perjalanan ke India yang dilakukan oleh Xuan Zang untuk mencari kitab suci dalam sejarah lebih dari sekedar khayalan penulis novel. Xuan Zang benar-benar pernah hidup di Cina dan melakukan perjalanan ke barat, namun tanpa disertai para muridnya yang merupakan siluman atau titisan dewa, melainkan seorang diri bahkan tanpa seizin Kaisar Tang.

Oleh sebab itu, di sini akan dibahas tentang kisah hidup Xuan Zang dan perjalanannya ke India sesuai dengan catatan sejarah beserta sedikit uraian tentang ajaran beliau.

Xuan Zhang
Xuan Zhang

Pendeta Tong (602-664 SM) yang kita kenal dalam cerita “Xi You Ji” atau Perjalanan ke Barat adalah tokoh sejarah Dinasti Tang yang berperan sebagai pendeta Buddhis.

Ia terkenal bukan hanya sebagai agamawan, namun juga pengelana dan penerjemah termashyur di masanya. Ia lahir di Lou Jhou (sekarang di Propinsi Henan dengan nama Chen Hui), anak keempat dari seorang terpelajar yang menjabat sebagai Bupati Kabupaten Jiang Lin.

Untuk selanjutnya, namanya terkenal dengan nama Buddhis Xuang Zhang, Tang Xuan Zhang, Tang San-Zang atau Tong Sam Cong yang berarti Tripitaka dalam bahasa Mandarin. Perlu diketahui, Xi You Ji adalah novel yang ditulis oleh Wu Cheng En dari Dinasti Ming yang sebenarnya hanya berlatar belakang catatan sejarah, bukan kehidupan pribadi Pendeta Tong.

Pada tahun 627 SM, sewaktu berumur 25 tahun, ia memulai perjalanannya ke barat (India). Namun karena saat itu menurut peraturan kerajaan orang yang mau keluar negeri menuju perdalaman barat haruslah mendapat izin Kaisar, ia pun meminta izin kepada Kaisar, namun ditolak hingga dua kali. Ia memutuskan untuk pergi diam-diam, melalui Chuang-a, sampai ke Chin Zou, Lan Zhou, dan Liang Zhou.

Sampai di Liang Zhou, ia mendengar berita bahwa Kaisar memerintahkan pengejaran dan penangkapan terhadap dirinya. Hal yang dapat dilakukannya saat itu hanyalah meneruskan perjalanan pada malam hari dan bersembunyi di siang hari.

Kesulitan dalam perjalanan tidak menyebabkan ia surut dan mundur. Ia meneruskan perjalanan melalui Gansu, Turkestan Timur (sekarang Xinjiang), Turkestan Barat (sekarang Kazakhstan) dan sampai ke India melalui Afganistan.

Ia belajar di sana selama 15 tahun sebagai pelajar asing dan menguasai 19 bahasa daerah di seluruh India. Setelah itu ia pulang ke Tiongkok dengan ribuan gulung kitab suci tentang agama Buddha dan catatannya mengenai ratusan kerajaan besar dan kecil yang dikunjunginya selama perjalanan.

Ia kemudian menghabiskan puluhan tahun sampai akhir hayatnya menerjemahkan 1300-an gulung kitab suci agama Buddha dari bahasa India ke dalam bahasa Han untuk dipelajari generasi mendatang.

Tidak ada catatan tentan Injil ataupun Timur Tengah di sini. Saya pernah melihat National Geographic mengenai pendeta Tong yang mereka sebut sebagai “explorer”, “traveler” yang berjasa bagi catatan kebudayaan, geografi, arkeologi, dan agama Buddha itu sendiri.

Ia juga mendirikan sekolah Agama Buddha Faxiang walaupun tidak bertahan lama. Namun hal tersebut memberikan pengaruh besar. Selain itu, beliau juga diketahui mencatat kejadian-kejadian penting yang terjadi di kerajaan India Utara, Harsha.

Tahun 646, atas permintaan kaisar, Xuan Zang menyelesaikan bukunya yang berjudul Perjalanan ke Barat di Dinasti Tang, yang menjadi sumber utama sejarah abad pertengahan Asia Tengah dan India. Buku ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Stanislas Julien tahun 1857. Adapun buku biografi mengenai Xuan Zang ditulis oleh Bhikkhu Huili. Kedua buku tersebut pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Samuel Beal, pada tahun 1884 dan 1911.

Pada zaman Dinasti Yuan, diadakan sebuah opera oleh Wu Changling yang menceritakan perjalanan Xuan Zang mengambil kitab suci.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi 5 / November 2015